Pendidikan Kita, Masihkan Belanda Sentris?

Oleh: *Taufik Sentana.

 

( _manusia adalah anak dari kebiasaannya: pepatah lama)_

 

Bisa saja pertanyaan retoris pada judul di forum ini dianggap tidak menyentuh promlematika pendidikan kita.

 

Pertanyaan ‘ apakah pendidikan kita masih “Belanda sentris”? mungkin terdengar seperti perdebatan sejarah yang kosong dan usang.

 

Namun, jika ditilik lebih dalam, pertanyaan tersebut menyentuh inti filosofi, struktur, dan tujuan dari sistem yang membentuk jutaan anak bangsa setiap tahun: Ribuan sarjana lahir setiap tahun dengan kegalauan tentang lapangan” kerja.

 

Warisan kolonial Belanda bukan sekadar artefak di museum, melainkan fondasi yang secara halus namun kuat membekukan pola pikir dan orientasi pendidikan kita hingga hari ini. Dan diperparah oleh gelombang hegemoni global dan tuntutan industri modern

 

Meninjau ulang:

Untuk memahami kedalaman pengaruh tadi, kita harus kembali ke tujuan fundamental pendidikan kolonial Belanda.

 

Sekolah-sekolah seperti HIS, MULO, HBS, dan bahkan sekolah kejuruan (ambachtsschool) didirikan bukan untuk mencerahkan atau membebaskan pikiran kaum pribumi secara massal.

 

Tujuan utamanya adalah efisiensi eksploitasi koloni. Mereka membutuhkan juru tulis yang patuh, mandor yang disiplin, birokrat rendahan yang setia pada perintah, dan tenaga kerja terampil yang siap pakai untuk perkebunan, pertambangan, dan administrasi kolonial.

 

Kurikulumnya pun dirancang secara pragmatis: fokus pada literasi dasar, berhitung, pengetahuan teknis yang relevan, dan yang terpenting, pembentukan karakter yang taat aturan dan hierarki.

 

Sistem ini bukan dirancang untuk melahirkan pemikir kritis, inovator orisinal, atau pemimpin visioner bagi bangsanya sendiri, melainkan individu yang berfungsi efektif sebagai roda penggerak dalam mesin kolonial (sekarang mesin globalisme digitalisasi).

 

Akses pendidikan (saat itu) dibatasi berdasarkan ras dan kelas sosial, menegaskan bahwa pendidikan adalah alat kontrol sosial dan pemeliharaan kekuasaan.

 

Perihal ketidakadilan dalam pendidikan masih kentara sekarang, meskipun ada usaha ke perbaikan dengan Sekolah Rakyan (program sekarang), yang dikhawatirkan hanya menjadi proyek ambigu.

 

_Setelah kemerdekaan, Indonesia dihadapkan pada tugas raksasa membangun sistem pendidikan nasional dari nol. Namun, infrastruktur fisik, kurikulum awal, dan yang krusial, pola pikir birokrasi pendidikan banyak mewarisi cetakan kolonial._

 

Sentralisasi kontrol atas pendidikan, standarisasi kurikulum dan penilaian, penekanan pada ujian sebagai penentu kelulusan dan hierarki (nilai tinggi = sekolah bagus = pekerjaan bagus), serta pengkultusan ijazah sebagai tiket menuju kerja dan jabatan – semua ini adalah gema kuat dari sistem yang dirancang untuk mencetak individu yang seragam, mudah diatur, dan siap mengisi posisi-posisi yang telah ditentukan dalam struktur sosial-ekonomi yang ada.

 

Filosofi pendidikan lebih condong ke arah transmission model (transfer pengetahuan dari guru ke siswa) daripada construction model (siswa membangun pengetahuannya sendiri melalui eksplorasi), sebuah pendekatan yang sangat efisien untuk menanamkan doktrin dan fakta, namun mematikan rasa ingin tahu dan inisiatif. (usaha untuk model ini sudah ada namun masih sangat minim diaplikasikan)

 

Warisan struktural dan filosofis ini semakin diperkuat oleh gelombang hegemoni global, terutama di bawah payung kapitalisme global.

 

Di era ini, pendidikan semakin dilihat sebagai pemasok sumber daya manusia (SDM) bagi pasar kerja global dan industri multinasional. Tuntutan akan skill yang relevan dengan kebutuhan pasar, kemampuan berbahasa asing (seringkali bahasa bekas penjajah atau bahasa dominan saat ini), dan kompetensi teknis yang terstandar menjadi prioritas.

 

Kebijakan pendidikan nasional sering kali mengadopsi kerangka yang didiktekan atau dipengaruhi oleh lembaga internasional atau tren global (seperti fokus pada STEM, literasi digital yang berorientasi pasar, dll.).

 

Konsep “link and match” antara pendidikan dan industri, meskipun terdengar progresif, dalam praktiknya sering kali mereduksi peran pendidikan menjadi sekadar “bagian pelatihan” dari siklus produksi kapital.

 

Hal ini secara sempurna melanggengkan orientasi pendidikan kolonial: mencetak” individu yang berfungsi untuk sistem eksternal (dahulu koloni, kini pasar global/industri), bukan untuk pengembangan diri otentik dan kemandirian sejati.

 

Di sinilah letak tragedi terbesar pendidikan kita, yaitu sulitnya mengembangkan kreativitas secara murni. Dalam konteks ini, kreativitas murni bukan hanya tentang kemampuan menciptakan produk inovatif yang bernilai ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan berpikir orisinal, mempertanyakan status quo, mengekspresikan diri, menjelajahi ide-ide yang tidak konvensional, dan berani mengambil risiko intelektual.

 

Sistem yang masih beroperasi dengan logika warisan kolonial (kontrol, standarisasi, kepatuhan) dan didorong oleh tuntutan industri (efisiensi, profitabilitas, keterampilan spesifik) secara inheren tidak memberikan ruang yang cukup bagi perkembangan kreativitas

 

Orientasi Kurikulum:

Kurikulum yang padat dan berorientasi ujian: Fokus pada menghafal fakta dan menyelesaikan soal standar meninggalkan sedikit waktu dan energi bagi siswa untuk bereksplorasi, berdebat, atau mengerjakan proyek-proyek yang menuntut pemikiran divergen.

 

Ujian menjadi hakim tunggal yang hanya mengukur jenis kecerdasan dan pengetahuan yang sempit.

 

Banyak guru terjebak dalam peran sebagai “kurir” kurikulum yang harus selesai sesuai target, dengan sedikit otonomi untuk berinovasi dalam metode pengajaran atau menumbuhkan rasa ingin tahu yang mendalam pada siswa.

 

Beban administrasi yang tinggi semakin mengikis waktu dan energi kreatif mereka.

 

Dalam sistem yang menghargai jawaban “benar” dan menghukum “salah” (melalui nilai rendah, teguran), siswa cenderung enggan mengambil risiko intelektual, mencoba pendekatan yang berbeda, atau mengajukan pertanyaan yang “bodoh” atau menantang.

 

Mata pelajaran yang secara tradisional menjadi wadah pengembangan pemikiran kritis, empati, dan ekspresi diri seringkali dianggap kurang penting dibandingkan STEM atau ekonomi, karena dianggap kurang “relevan” dengan tuntutan pasar kerja.

 

Akibatnya, sistem pendidikan kita cenderung menghasilkan individu yang terampil dalam mengikuti instruksi, efisien dalam menyelesaikan tugas rutin, dan mahir beradaptasi dengan aturan yang sudah ada.

 

Dalam mekanisme ini mereka adalah pekerja yang kompeten dan birokrat yang patuh, persis seperti profil yang dibutuhkan Belanda di masanya, hanya saja kini mereka melayani sistem yang berbeda.

 

Namun, kemampuan untuk menciptakan sistem baru, mempertanyakan asumsi dasar, memimpin perubahan disruptif, atau menemukan solusi orisinal untuk masalah kompleks yang belum ada jawabannya menjadi terhambat.

 

Kreativitas yang muncul pun seringkali hanya bersifat aplikatif—menggunakan alat yang sudah ada untuk tujuan yang sudah ditentukan—bukan generatif—menciptakan ide atau pendekatan yang sama sekali baru.

 

Bila kita tinjau lebih jauh, “Belanda sentris” dalam pendidikan kita bukan hanya tentang konten sejarah atau bahasa, tetapi tentang bentukan jiwa. Jiwa yang melihat pendidikan sebagai alat untuk memproduksi komponen yang sesuai dengan kebutuhan eksternal (dahulu koloni, kini industri/pasar global), bukan sebagai proses untuk memekarkan kemanusiaan seutuhnya, memerdekakan akal budi, dan menumbuhkan potensi kreatif unik setiap individu untuk kepentingan dirinya sendiri, nilai moral dan bangsanya.

 

Maka, pertanyaan “Masihkan Belanda sentris?” bukan lagi pertanyaan akademis, melainkan seruan refleksi kritis.

 

Jika kita ingin pendidikan melahirkan generasi yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga kreatif, adaptif, kritis, dan mampu menkostruksi masa depannya sendiri, maka kita harus berani membongkar cetakan lama, mendefinisikan kembali tujuan pendidikan yang berakar pada martabat manusia dan kedaulatan berfikir, serta menciptakan ruang aman bagi kreativitas murni untuk tumbuh dan berkembang, bebas dari bayang-bayang eksploitasi (pemikiran) kolonial dan determinisme pasar.

 

Ini adalah perjuangan panjang untuk memerdekakan jiwa pendidikan Indonesia dari belenggu masa lalu dan cengkeraman hegemoni masa kini.[]

*Taufik Sentana. praktisi pendidikan Islam. bergiat sejak 1996. Menyusun Buku 77 Inspirasi Pendidikan Islam. Beberapa karyanya seputar pendidikan dan sekolah ada di portalsatu.com/.