LHOKSUKON – Pak guru YZ dan ZL meraba-raba payudara sejumlah siswa saat les di lab komputer pada sore hari. Bukan hanya menggesek lengan dan sikunya, tapi jemari tangan juga ikut bermain.

Hal itu diungkap M, 16 tahun, salah satu korban pelecehan seksual kedua guru tersebut. Dia didampingi ibunya, S, saat ditemui portalsatu.com, Jumat, 8 April 2016. M menceritakan kejadian itu bermula sekitar September 2015. Saat itu korban sedang mengikuti pelajaran les tambahan komputer bersama belasan siswa lainnya.

“Semua siswa yang berada di lab diminta menghidupkan komputer oleh bapak YZ. Saya kurang paham cara membuka aplikasi yang disebutkan, lalu saya mengatakan, ‘Pak saya tidak mengerti’. Bapak YZ datang memegang mouse komputer di atas tangan saya. Lalu lengan dan sikunya menggesek-gesek payudara saya,” ujarnya.

Meski mengira itu dilakukan tidak sengaja, menurut M, ia sempat berkata, ‘Apalah bapak ini’. Saat itu bahkan ada temannya yang melihat dan sempat tertawa. Sementara YZ hanya diam tidak menjawab.

Berselang tiga hari setelah kejadian di bulan yang sama, pihak sekolah melakukan pemotretan siswa untuk pas photo. Setiba giliran namanya dipanggil, M maju ke depan dan duduk di bangku yang telah disediakan.

“Tiba-tiba bapak ZL yang bertugas memotret siswa datang membetulkan jilbab saya. Tapi bukannya dibetulkan dengan benar, malah sambil meraba-raba payudara saya,” katanya.

Kala itu dia sempat mengira ZL melakukannya tanpa sengaja, mengingat raut wajah ZL saat itu sangat serius. “Belakangan saat saling bercerita sesama teman, ternyata siswa lainnya juga mengalami hal yang sama. Teman-teman juga mengaku diraba-raba ZL,” katanya.

Hal senada dikisahkan R, 15 tahun, yang juga telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Aceh Utara, Selasa, 5 April 2016 lalu. Ia mengaku telah dilecehkan kedua oknum guru tersebut di dalam ruang lab komputer. Sang guru bahkan sempat mengunci pintu dan menutup semua jendela lab.

“Saya ingat, 22 September 2015 pukul 17.00 WIB saat les komputer. Saya dan N datang tepat waktu, namun karena siswa lain tidak datang maka kami memutuskan untuk pulang. Saat hendak pulang kami berpapasan dengan bapak YZ dan ZL di pintu lab. Kedua guru itu bilang tak usah pulang karena tetap ada les walau siswa lain tidak hadir. Saat kami masuk lab, pintu langsung dikunci dan semua jendela ditutup rapat,” ungkapnya.

Saat les berlangsung dan ada hal yang tidak dimengerti oleh korban tentang mengoperasikan komputer tersebut, ZL datang seolah menerangkan sambil meraba-raba payudara R. Tak lama berselang, datang YZ yang merangkul R dari belakang sambil melakukan hal yang sama, meraba-raba payudaranya.

“Bapak YZ bahkan mau menyentuh paha dekat kemaluan saya. Tapi tangannya langsung saya tepiskan. Hal serupa juga dialami teman saya, N, yang kala itu duduk di kursi belakang saya,” kata R.

Ketika R memutuskan untuk pulang, YZ sempat berkata, “Ngapain pulang, di sini aja kamu.” 

R mengaku mendapat ancaman dari YZ saat hendak keluar dari ruangan tersebut. “Apa yang terjadi hari ini jangan sampai diketahui orang tua, jika kamu tidak mau kenapa-napa,” kutip R menirukan kalimat bernada ancaman YZ.

Saat R melihat ke arah belakang, ternyata N sedang berbicara dengan ZL sambil menangis. Namun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Saya dekati N sambil tanyakan kenapa menangis, katanya kunci sepeda motornya hilang. Padahal tadi dia letakkan di atas meja. Saya sempat melihat YZ memegang kunci sepeda motor. Ia duduk di meja depan sambil ongkang kaki di atas meja. Setelah sempat mempermainkan kami, akhirnya kunci diberikan setelah kami menangis. Waktu N mengambil kunci, YZ sempat memegang tangannya,” kata R.

Sementara itu, P, 16 tahun juga mengalami hal serupa. Namun demikian hingga saat ini dia dan keluarga belum melaporkan kasus itu ke pihak berwajib.

“Saat itu saya mengikuti les komputer Semester I tahun 2015. Saat ada hal yang tidak saya mengerti, YZ menjelaskan sambil tangannya menyenggol-nyenggol payudara saya. Waktu itu YZ sempat berkata, 'Ku purunoe neng hai’,” kata P menirukan perkataan YZ.

Sepulang les, P menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Mengetahui hal ini, orang tua P melarang korban untuk ikut les. “Biar saja rugi sudah bayar,” ujar P menirukan imbauan orang tuanya.

“Saya ada ceritakan kejadian itu ke guru wanita yang lain. Cuma ditanya apa sudah lapor orang tua. Saat saya katakan sudah lapor, tidak ada komentar lagi,” katanya.[](bna)