BANDA ACEH – Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian Aceh pada tahun 2021 akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2020 didorong optimisme dan aktivitas ekonomi setelah vaksinasi massal.

Hasil kajian BI, ekonomi Aceh pada tahun 2020 mengalami kontraksi -0,37% (year on year/yoy) atau lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan 2019 yang sebesar 4,14% (yoy). Aceh masih menjadi provinsi dengan perekonomian ketiga terkecil di Sumatera setelah Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung. (Baca: Ini Hasil Kajian Bank Indonesia Soal Ekonomi Aceh 2020)

Dikutip portalsatu.com/, Sabtu, 10 April 2021, dari “Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Februari 2021” dipublikasikan melalui laman resmi Bank Indonesia (BI) sejak 8 Maret 2021, BI menyebut kinerja perekonomian Aceh pada tahun 2021 berpotensi tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya/2020 (-0,37%, yoy). Kondisi tersebut utamanya diperkirakan didorong konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Pada triwulan II-2021 diperkirakan akan tumbuh positif dan lebih tinggi dibanding triwulan I-2021.

Dari sisi pengeluaran, peningkatan kinerja tersebut diperkirakan akan didorong komponen konsumsi dan ekspor luar negeri. Sedangkan dari sisi Lapangan Usaha (LU), akselerasi utamanya diperkirakan akan didorong positifnya kinerja dari beberapa lapangan usaha utama di Aceh, seperti pertanian, perdagangan dan pertambangan.

Komponen konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat sejalan dengan penguatan konsumsi masyarakat sesuai pola musimannya pada periode bulan Ramadhan, HBKN Idulfitri, serta masuknya periode cuti bersama. Selain itu, pengaruh baseline effect pada periode yang sama di tahun lalu diperkirakan memengaruhi pertumbuhan tahunan konsumsi rumah tangga.

Pada konsumsi pemerintah terdapat peningkatan realisasi belanja pemerintah dengan siklus pencairan gaji ke-13 dan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) untuk ASN. Selain itu, rencana vaksinasi massal juga turut meningkatkan realisasi belanja pemerintah dan diperkirakan kesuksesan pelaksanaan vaksinasi akan mendorong konsumsi rumah tangga.

Komponen ekspor luar negeri pada triwulan II-2021 diperkirakan meningkat seiring dengan proyeksi peningkatan harga komoditas ekspor utama Aceh, yakni batubara dan kelapa sawit di tengah berangsur membaiknya permintaan dunia. Pada komoditas batubara, masih berlangsungnya restriksi impor batubara Australia yang dilakukan Tiongkok masih menjadi pemacu peningkatan harga batubara dan membuka kanal peningkatan impor dari negara lain (termasuk Indonesia).

Indeks produksi industri India yang terus mengalami peningkatan hingga triwulan berjalan juga menjadi katalis positif bagi komodotas tersebut.

Komoditas CPO diperkirakan terus mengalami penguatan akibat pengaruh stimulus kenaikan harga minyak mentah hingga paruh kedua 2021. Perkiraan peningkatan harga juga dipengaruhi lonjakan harga yang diperkirakan terus terjadi pada komoditas substitusi seperti kacang kedelai.