BANDA ACEH – Bank Indonesia menyebut ekonomi Aceh pada tahun 2020 mengalami kontraksi -0,37% (year on year/yoy) atau lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan 2019 yang sebesar 4,14% (yoy). Aceh masih menjadi provinsi dengan perekonomian ketiga terkecil di Sumatera setelah Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung.

Hasil kajian Bank Indonesia (BI) disajikan dalam “Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Februari 2021” dipublikasikan melalui laman resmi BI sejak 8 Maret 2021, dilihat portalsatu.com/, Sabtu, 10 April 2021, dijelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV-2020 menunjukkan berlanjutnya perbaikan, ditopang realisasi stimulus dan kontribusi positif sektor eksternal serta mulai membaiknya mobilitas masyarakat dan permintaan global. Perbaikan ekonomi terlihat dari berkurangnya kontraksi pertumbuhan menjadi -2,19% (yoy) dari kontraksi pada periode sebelumnya sebesar -3,49% (yoy). Secara tahunan, ekonomi Indonesia pada tahun 2020 terkontraksi -2,07% (yoy).

Sejalan dengan membaiknya ekonomi Nasional, pada triwulan IV-2020 ekonomi Sumatera masih dalam fase kontraksi namun relatif membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, kontraksi ekonomi Sumatera tercatat -2,21% (yoy), lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang terkontraksi -2,26% (yoy). Dari sisi permintaan, perbaikan kinerja ekonomi terutama pada konsumsi rumah tangga yang lebih baik sehubungan dengan pelonggaran aktivitas dan stimulus pemerintah serta dorongan kinerja ekspor.

Secara spasial, pada triwulan IV-2020 kontraksi ekonomi terdalam di Sumatera terjadi di Kepulauan Riau (-4,46%, yoy), Aceh (-2,99%, yoy), serta Sumatera Utara (-2,94%, yoy). Secara tahunan, ekonomi Sumatera pada tahun 2020 terkontraksi – 1,19% (yoy).

Jika dilihat secara andil kapasitas perekonomian dari PDRB ADHK, Aceh tercatat memiliki pangsa sebesar 5,7% terhadap perekonomian Sumatera. Sumbangan tersebut relatif tidak mengalami banyak perubahan dibanding periode-periode sebelumnya. Dengan proporsi tersebut, Aceh masih menjadi provinsi dengan perekonomian ketiga terkecil di Sumatera setelah Bengkulu (2,0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (2,3%). Sementara itu, Sumatera Utara (23,1%), Riau (21,6%), dan Sumatera Selatan (13,5%) masih menjadi provinsi dengan sumbangan ekonomi paling dominan di Sumatera dengan pangsa dari ketiga provinsi tersebut hampir mencapai 60% dari total ekonomi Sumatera.

Berbanding terbalik dengan membaiknya perekonomian Nasional dan Sumatera, perekonomian Aceh pada triwulan IV-2020 mengalami penurunan. Ekonomi Aceh tercatat mengalami kontraksi -2,99% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang terkontraksi -0,11% (yoy). Secara tahunan, pada tahun 2020 ekonomi Aceh terkontraksi -0,37% (yoy).

Apabila dilihat dari sisi permintaan, penurunan ekonomi Aceh pada triwulan IV-2020 utamanya disebabkan menurunnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Secara andil, komponen konsumsi pemerintah memberikan andil deselerasi terdalam terhadap menurunnya ekonomi pada triwulan laporan di level negatif sebesar -5,31%. Sementara itu, defisit ekspor antardaerah yang membaik, menahan penurunan ekonomi sehingga tidak turun lebih dalam, dengan andil 4,72% pada triwulan laporan.