LHOKSUKON – “Watee teungoh sibok pinah-pinah barang, tiba-tiba na su: 'krak…' ube raya, lage su bak kayee patah. Rupa jih rumoh kamoe nyang patah (saat sedang sibuk memindahkan barang, tiba-tiba terdengar suara cukup besar, seperti suara pohon patah. Ternyata rumah kami yang patah),” ujar Nurmala Wati, 27 tahun.

Ia merupakan warga Gampong Nga KM III, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Saat banjir menghantam rumahnya hingga patah, sekitar pukul 10.00 WIB tadi, Nurmala bersama suaminya sedang memindahkan barang atau perabotan ke tempat lebih tinggi.

Nyan rumoh bantuan keluarga, tapi ka patah wab banjir. Jinoe siat kamoe mengungsi bak keluarga. Padahai singoh molod, bahan kalheuh meubloe. Bandum bahan keu molod ka bulut, rumoh-rumoh ka patah. Na neu'e et dada ie (itu rumah bantuan keluarga, tapi sudah patah akibat banjir. Sementara ini kami mengungsi ke rumah keluarga. Padahal besok maulid, barang kebutuhan sudah kami beli. Semua bahan kenduri maulid sudah basah, rumah pun patah. Anda lihat, banjir setinggi dada),” ujar ibu anak satu itu ditemui portalsatu.com, Rabu, 4 Januari 2017 di rumahnya.

Selain dinding dan penyangga rumah patah akibat diterjang banjir, pintu dan beberapa jendela bagian belakang juga ambruk. Ketinggian air di lokasi itu sekitar pukul 13.10 WIB mencapai dada orang dewasa. Banjir di Kecamatan Lhoksukon semakin meluas.[]