Oleh: Nab Bahany As*
Budayawan, tinggal di Banda Aceh.

Hujan yang turun sejak sore hari hingga malam belum juga berhenti. Di  tengah-tengah kedinginan selepas magrip malam itu tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk dari luar. Istri saya tidak berani untuk segera membukanya, takut, karena kondisi keamanan dalam beberapa bulan terakhir sangat tidak kondusip. Penculikan dan penembakan orang  terjadi di mana. Dalam kondisi ketidaknyamanan itu warga kampung sangat berhati-hati dan waspada. Jangan-jangan yang mengetuk pintu itu orang tak dikenal.

Istri saya memberi tahu, “Pak, sepertinya ada tamu di luar.”
“Lho, kok nggak disuruh masuk.”
“Saya tidak berani membuka pintunya Pak,” jawab istri saya.

Maka dengan penuh sigap saya menuju pintu depan dan langsung membukanya. Betapa terkejutnya saya ketika  melihat di mulut pintu berdiri seorang laki-laki berkulah kama gagah perkasa. Pakaiannya penuh rumbai-rumbai kebesaran seperti seorang raja. Wajahnya mirip seperti wajah dalam sebuah lukisan yang selama ini saya hanya melihat dalam buku-buku sejarah Aceh.

Meski dalam hati saya sudah menduga, bahwa tamu ini pasti seorang Sultan dari kerjaan Aceh masa lalu, yang dikenal dengan nama Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Namun, untuk memastikan siapa tamu itu, saya berpura-pura menanyakan, “Maaf Pak, kalau boleh kami tahu, Bapak siapa?”

Sang tamu langsung menjawab, “Pertanyaan Anda tidak harus saya menjawab di mulut pintu ini, karena, itu melanggar etika budaya Aceh dalam tata cara memuliakan tamu. Mestinya saya diizinkan dulu masuk ke dalam, biar saya jelaskan tujuan kedatangan saya menemui Anda, karena banyak hal yang harus saya sampaikan pada Anda menyangkut kondisi Aceh hari ini,” jawab sang tamu yang kelihatan malam itu agak sedikit geram dengan pakaian kebesarannya, lengkap dengan selipan sebilah siwah di pingggangnya.

“Ya, ya, Pak, silahkan masuk.”