Sampai di dalam kami duduk di ruang tamu. Laki-laki yang sedang manjadi tamu saya malam itu terus memparhatikan sebuah lukisan yang terpajang di tengah ruangan. Sesekali tamu melirik ke arah saya seakan ingin memberitahu bahwa lukisan itu adalah lukisan dirinya. “Anda tahu, lukisan siapa yang Anda pajangkan itu? Coba Anda perhatikan baik-baik lukisan yang Anda pajangkan itu dengan diri saya,” kata sang tamu memulai bicaranya.

“Ampuni hamba Daulat Tuanku Seri Sultan Perkasa Alam yang Mulia. Itu memang lukisan diri Sultan yang hamba kagumi. Hamba mohon maaf atas ketidaksopanan hamba menyambut kedatangan Daulat Tuanku Sultan malam ini”.

“Bukan upacara penyambutan yang menjadi tujuan kedatanganku menemui Anda malam ini. Yang lebih penting untuk Anda tahu, kehadiranku menemui Anda malam ini adalah untuk menjenguk semua anak-cucuku yang hidup di Aceh pada zaman ini, setalah kutinggalkan selama 378 tahun yang lalu. Apakah kalian sebagai pewaris sejarah besar “Nanggroe Aceh” yang telah kuukir empat abad yang silam masih sanggup kalian jaga dan  memeliharanya hingga zaman ini. Itulah tujuanku menjelma menemui Anda malam ini sebagai salah seorang cucuku dari hampir lima juta lebih anak cucuku lainnya yang mendiami Aceh pada zaman ini,” kata Sultan yang seakan tidak memberikan kesempatan pada saya menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di bekas negeri kerajaannya yang pernah gemilang dulu pada zamannya.

“Untuk Anda ketahui,” sambung Sultan, “Saya baru saja habis berkeliling Aceh, untuk melihat keadaan rakyat di bawah pemerintahan Gubernur kalian di zaman ini, apakah tingkat kemakmuran mereka di gampong-gampong sama seperti kemakmuran ketika aku memerintah Aceh empat abad yang lalu. Ternyata, saya sangat kecewa dengan cara kalian memerintahkan Aceh di zaman ini. Hampir semua pranata adat dan nilai-nilai kearifan sosial-budaya Aceh, yang dulunya kubangun dengan susah payah, semua itu kini tinggal kenangan dalam catatan sejarah, karena kalian tidak sanggup memelihara dan menjaganya”.

“Dan yang lebih membuat saya sangat kecewa pada kalian di zaman ini,” lanjut Sultan, “Adalah karena di hampir setiap kesempatan kalian bicara  selalu mengungkit-ungkit sejarah kegemilangan pemerentahan kesultananku. Sementara apa yang telah kulakukan dulu dalam membangun Aceh—hingga disegani oleh berbagai bangsa di dunia—tak pernah kalian mau mempelajarinya secara sungguh-sungguh. Kalian memahami sejarahku hanya sepenggal-sepenggal. Yang lebih menyedihkan lagi, ada di antara kalian di zaman ini yang menuduhku sebagai Sultan yang kejam, otoriter, monarki, dengan sistem pemerintahanku yang feodalistik. Itu akibat dari kalian tidak memahami sejarah kesultananku secara utuh,” ungkap Sultan seperti marah betul pada apa yang sedang dilakukan oleh anak cucunya di Aceh dalam zaman ini.