Saya sendiri malam itu memang nyaris menjadi pendengar setia apa yang disampaikan Sultan. Sampai beliau menjelaskan, kenapa di masa kesultanannya dia tidak mau menerima Syeh Nuruddin Ar-Raniry (seorang ulama dari Ranir India) untuk bergabung dalam kerajaan Aceh. “Karena sudah kuperkirakan, apabila ulama itu kuizinkan menetap dan berperan di kerajaan Aceh, kehidupan keberagamaan rakyat di Aceh saat itu akan menjadi kacau. Dan itu terbukti setelah kemangkatanku, Nuruddin Ar-Raniry kembali datang ke Aceh mempengaruhi menantuku Sultan Iskandar Tsani, sehingga ulama dari Ranir India itu berhasil berperan di kerajaan Aceh, hingga membuat kekacauan kehidupan beragama di Aceh, yang sebelumnya telah kubangun dengan tenang berdasarkan empat mazhab. Namun, apa yang terjadi kemudian, kitab-kitab ilmu pengetahuan keagamaan yang kubiayai penulisannya pada para ulama di masaku semuanya habis dibakar atas suruhan fatwa Syekh Ar-Raniry. Hanya sedikit yang tersisa buat kalian pelajari  di zaman ini.  Karenanya, kalian sebagai anak cucuku yang hidup di zaman ini  tak bisa lagi memahami sejarah Kesultananku secara lengkap, karena sumber kitab-kitabnya banyak  telah musnah dibakar semasa Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Itu yang sangat kusesalkan,” keluh Sultan.

“Itu semua memang masa lalu yang mungkin kalian anggap tidak penting lagi di zaman ini. Namun, sesungguhnya, itulah pelajaran sejarah yang harus kalian petik dari sejarahku untuk menjadi spirit dalam kalian membangun Aceh sekarang ini. Dan kehadiranku menemui Anda malam ini—sebagai salah seorang dari lima lebih juta lebih cucuku yang mendiami Aceh saat ini—adalah untuk mengamanahkan, Aceh saat ini butuh pemimpin yang cerdas, tegas, dan berwibawa, dengan  integritas pemahaman keagamaan intelektual yang tinggi. Bukan pemimpin yang mengubar janji, yang memperkaya diri dengan kepemimpinannya. Karenanya, tiap pilkada yang kalian sselenggarakan di Aceh, tak akan ada artinya apabila kalian tidak menemukan sosok pemimpin yang seperti itu. Sampaikan amanahku ini pada semua anak cucuku lainnya yang tidak sempat kudatangi satu persatu di seluruh Aceh pada malam ini, agar mereka sadar untuk tidak lagi salah memilih pemimpinnya dalam membawa rakyat Aceh dalam suatu kemakmuran yang nyata. Bukan dalam kemakmuaran yang retorika. Hanya itu pesanku buat semua kalian sebagai anak cucuku yang hidup di Aceh pada zaman ini,” kata Sultan mengakhiri bicaranya.

Semua yang dibilang Sultan malam itu baru saya sadari setelah istri saya membangunkan saya persis pada pukul tiga dini hari. “Bapak menggigau, apa sih, dari tadi kedengerannya kok Sultan-Sultan terus?” tanya istri saya. “Aduh, saya baru saja habis bermimpi ditatangi Sultan dari kerajaan Aceh, Buk.”

“Makanya, Pak, kalau mau tidur jangan lupa ‘ngucap, biar tidak diganggu setan.”[]