KETUA Umum Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh), Tgk. H. Tu Bulqaini Tanjungan, bukanlah tokoh baru bagi Aceh. Saat daerah paling ujung Pulau Sumatra ini masih bergejolak dengan konflik bersenjata, Tu Bulqaini sudah terlibat langsung dalam membela rakyat dan memperjuangkan kepentingan Aceh.

“Zaman itu adalah masa-masa yang sangat sulit bagi kita, serba salah, seakan apa yang akan kita lakukan itu, salah,” ungkap Tu Bulqaini memulai pembicaraan.

Ahad, 26 Februari 2023, sore, gerimis mulai merintik halaman Kantor Majelis Pimpinan Pusat (MPP) PAS Aceh di Lueng Bata, Banda Aceh. Sunyi-senyap, seakan ketenangan turut hadir bersama percikan-percikan yang turun dari langit senja yang kian kelabu.

“Namanya saja zaman konflik, di mana pun tempat, daerah bahkan negara-negara yang lagi perang pastilah warga, masyarakat, dan siapa saja yang ada di sana itu hidup dalam keadaan serba-salah. Tepatnya itu bagai buah simalakama,” ujar Tu Bulqaini.

Gerimis menjelma hujan deras, Tu Bulqaini berpindah tempat duduk yang sebelumnya di bawah pohon trembesi di halaman, kini masuk ke dalam Kantor PAS Aceh.

Hujan deras, tidak membuat sang deklarator Rabithah Thaliban Aceh itu mengurungkan niatnya untuk bercerita tentang kisah Presiden keempat Negara Kesatuan Republik Indonesia tatkala ke Aceh tahun 1999 silam.

Tampuk negara itu hadir ke Aceh untuk mengikuti acara istigasah bersama ulama-ulama di Aceh, walaupun suasana konflik pada tahun tersebut begitu tak terkendali. Ketika itu, aktivis-aktivis di bumi Serambi Makah termasuk Rabithah Thaliban Aceh sedang gencar-gencarnya menyuarakan Referendum.

Namun, K.H. Abdurrahman Wahid dan rombongan dari Istana Negara yang berada di Tanah Jawa itu tetap kukuh untuk hadir ke Aceh, meskipun beberapa agendanya harus ditunda dan berpindah-pindah tempat.

“Ada beberapa acara Gus Dur, bahkan tempat acara itu, harus dibuat di tempat lain, karena gejolak protes dari para aktivis. Tentunya karena ada pro dan kontra,” kenang Tu Bulqaini.

Memang Tu Bulqani waktu itu tidak sendirian dalam membersamai Gus Dur, tentu ada pihak-pihak lain, beriringan bersama petinggi organisasi-organisasi lainnya yang ada di Aceh.

Tu Bulqaini sempat menyaksikan Gur Dur menangis di samping papan nama di muka Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Tu Bulqaini turut memapah Gur Dur ketika Presiden Indonesia itu berada di tanah para aulia ini.

“Air mata Gus Dur tidak bisa dibendung setelah membuka selubung pamplet yang bertuliskan “RAKYAT ACEH INGIN REFERENDUM BERGABUNG ATAU PISAH (MERDEKA) DARI RI,” ujar Tu Bulqaini.

“Gus Dur, siapa yang tidak tahu dan kenal beliau, seorang ulama, tokoh nasional, dan cintanya kepada perdamaian itulah yang membuat dirinya kian masyhur. Terserah orang yang mau berkata apa untuk dia,” tambah Tu Bulqaini.

Masa itu di Aceh masih Perti

Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) adalah organisasi massa Islam Indonesia. Perti juga sudah ada di Aceh bahkan pulau Sumatra pada umumnya kala itu. Ulama tersohor Aceh Abu Hasan Krueng Kale merupakan salah satu anggota Perti.

“Ulama-ulama dulu juga sudah terlebih dahulu membuat dan bergabung di partai, itu partai Perti dan punya kursi di MPR RI sebelum diubah menjadi DPR RI sekarang,” kata Tu Bulqaini yang juga khadim Markaz Islah Al-Aziziyah, Lueng Bata, Banda Aceh.

“Rabithah Thaliban Aceh adalah organisasi pertama di Aceh dari kalangan santri dan orang-orang dayah skala provinsi. Setelah organisasi itu ada barulah kemudian kami melobi tokoh-tokoh Aceh yang ada di Jakarta untuk membuat suatu wadah khusus bagi ulama, khususnya Aceh,” ujar Tu masih mengenang masa-masa dirinya terlibat langsung dalam menyuarakan keadilan, dan kedamaian bagi Aceh dahulu.

Dari beberapa tokoh Aceh dijumpai di Jakarta saat itu, di antaranya Abu Syekh Marhaban, anak dari Abu Krueng Kale, Tgk. H.M. Saleh Harun, sempat menjabat sebagai ketua Perti Aceh di masa itu. Kemudian lahirlah Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).

“Air mata Gus Dur di Aceh dan lahirnya HUDA Aceh merupakan suatu peristiwa besar di antara peristiwa-peristiwa besar lainnya yang terjadi, yang saya alami dan membekas di dalam diri saya di masa itu,” tutur Tu Bulqaini yang merupakan alumni MIN 3 Kuta Blang, Lhokseumawe angkatan 1883.

Kalimat tersebut menjadi penutup cerita kenangan Tu Bulqaini, Ahad sore itu, bersamaan hujan reda. Bendera Partai Adil Sejahtera Aceh yang terikat mengitari pagar kantor itu kembali berkibar ditiup sepoi angin setelah sebelumnya kuyup dibasahi hujan.[]

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai