Oleh: Musafir

Jika Pidie Jaya, Simeulu, Aceh Raya, Melaboh dan sebagainya yang sedang digadang-gadang menjadi kabupaten-kabupaten baru di Aceh. Kenapa Peureulak Raya tidak bisa?

Peureulak Raya adalah wilayah yang terdiri dari 10 kecamatan dalam tubuh kabupaten Aceh Timur. Saat ini umur dari Peureulak sendiri berkisar 1.087 tahun kurang lebihnya menurut sejarah dimulai penghitungannya sejak dideklarasikan oleh Sultan Abdul Aziz Syah bersama para ulama dan tokoh masyarakat ketika itu, dan diabadikan dalam buku-buku sejarah yang mengulas tentang masuknya Islam ke Asia Tenggara-Aceh.

Sangat menarik memang ketika sejarah sebagai pembuka pembicaraan tentang Peureulak dimulai dari sejarah peradaban masuknya Islam di Asia Tenggara, hasil alam yang melimpah, letak geografis wilayahnya yang sangat strategis, karakter masyarakat dan juga kondisi masa kini di bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial politik.

Walaupun menarik, namun fokus pembahasan kali ini bukan pada kelebihan-kelebihan Peureulak Raya. Pembahasan kali ini tertuju pada pertanyaan kontribusi nyata semua pihak khususnya elit-elit Peureulak Raya dalam mewujudkan cita-cita lama tersebut dan sebab-sebab terkatung-katungnya negeri Peureulak Raya.

Flashback

Permintaan dibentuknya kabupaten Peureulak Raya adalah murni keinginan masyarakat bahkan pada tahun 2009 Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Timur sudah pernah mengajukan draf pembentukan kabupaten Peureulak Raya kepada Bupati Aceh Timur kala itu. Apa kata, alih-alih jadi, pembentukan Kabupaten Peureulak Raya terbentur kembali dengan tidak disetujuinya atau Bupati Aceh Timur tidak merestui Peureulak Raya.

Kekuatan Peureulak Raya

Padahal jika melihat kekuatan politik, wilayah Peureulak Raya yang terdiri dari 10 kecamatan tersebut diuntungkan dengan banyaknya jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) di parlemen Aceh Timur, dikuatkan lagi dengan adanya wakil bupati putra Peureulak sekaligus ketua dari partai penguasa di Aceh Timur.

Kemudahan tahapan legislasi pembentukan Kabupaten Peureulak Raya

Dari beberapa pertemuan kami dengan pihak DPRA asal Peureulak juga dari pemberitaan lewat media setiap kali reses ke daerah pemilihan, suara pembentukan kabupaten Peureulak Raya selalu menggema diaspirasikan oleh masyarakat. Lalu ke manakah suara itu ditempatkan atau seperti statement kami di awal bahwa isu tersebut hanya dijadikan bahan kampanye dan ketenaran saja?

Dengan hadirnya 2 putra yang katanya asli Peureulak Raya di parlemen pada posisi ketua Badan Legislasi DPRK Aceh Timur dan Ketua Badan Legislasi DPR Aceh, seharusnya memudahkan proses pembentukan Kabupaten Peureulak Raya sebagai kabupaten baru di Aceh. Tidak berlebihan ketenaran seorang ketua BanLeg DPRA asli putra Peureulak sekarang, sudah diakui oleh banyak pihak bahkan di posisi beliau tersebut ketua partai harus berpikir dua kali jika mau pecat-pecat saja.

Mungkin terlalu lemah referensi penulis jika proses membentuk sebuah kabupaten baru hanya mengukur pada keuntungan dan kekuatan di atas. Kita tidak boleh menafikan fakta bahwa setiap anggota partai politik harus wajib patuh pada partainya, setiap anggota dewan yang telah diberi kursi di parlemen harus wajib patuh pada ketua partai, artinya kekuasaan tertinggi ada pada ketua partai politik jika ada anggota yang melenceng dari garis besar haluan dan kebijakan partai siap-siap kursi tersebut akan hilang.

Sistem demokrasi yang berlaku di negeri ini memang layak diacungi jempol jika berbicara kebebasan setiap warga negara dalam mengemukakan pendapat, diadakannya pemilihan umum dan lainnya, akan tetapi internal partai politik apakah sudah demikian?

Kenapa Peureulak Raya Yatim Piatu?

Tidak adanya kontribusi nyata dan kepedulian secara serius, berani dan lantang dari elit Peureulak Raya yang sedang dalam posisi sangat menguntungkan untuk terbentuknya kabupaten ini, membuat Peureulak Raya tidak akan pernah terwujud.

Dan kenapa sampai saat kontribusi dan keseriusan yang diharapkan oleh masyarakat belum tampak ke permukaan?

Jawabanya, para elit-elit tersebut sudah terjangkit penyakit Sudden Power Syndrome (SPS) sebuah penyakit yang sangat merugikan rakyat yaitu para tokoh-tokoh tersebut takut kehilangan jabatan atau kekuasaan yang sedang dimiliki dan dinikmati. Jika benar-benar dan tulus memperjuangkan hak-hak dan kebutuhan rakyat namun tidak sesuai dengan kebijakan partai, maka pemecatan dan jabatannya akan hilang.

Penyakit ini juga bisa di samakan dengan ketakutan berlebihan kepada penguasa, ketua atau pimpinan dikarnakan ketergantungan secara ekonomi maupun sosial kepada sang pimpinan. Merujuk ke salah satu hadist Nabi Muhammad S.A.W “… di akhir zaman nanti Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh kalian dan Allah akan menimpakan Wahn, seorang bertanya apa itu Wahn, Nabi Berkata Cinta Dunia dan Takut Mati” ( HR. Abu Daud).

Apakah seperti yang terulas di atas kejadiannya, 98,99 % kenyataan mengatakan iya. Jabatan dan kekayaan sudah membuat buta mata dan hati mereka harapan Peureulak Raya masih jauh untuk diwujudkan jika penyakit tersebut belum terobati.

Beberapa kesimpulan dan harapan

Pembentukan kabupaten Peureulak Raya tidak akan pernah terwujud jika masyarakat belum sadar bahwa orang-orang yang dipilih selama ini bukan orang yang akan mewudkan cita-cita tersebut. Permasalahan utama ada pada mental elit dan tokoh Peureulak Raya yang menjadi inkubator utama dalam menentukan nasib kota tua menuju daerah baru yang makmur. Semua elemen harus berperan aktif dan terus menyuarakan cita-cita mulia ini dengan apapun dan lewat manapun dan jika tidak ada yang peduli lagi dengan Peureulak Raya maka pemuda dan mahasiswalah sebagai benteng terakhir rakyat negeri Peureulak Raya kita tetap harus peduli.

* Ketua Ikatan Keluarga Peureulak ( IKAPA ) Banda Aceh