LHOKSUKON – Marzuki, warga Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, membuat laporan terbuka kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) soal banjir sering melanda akibat jebolnya tanggul Krueng (Sungai) Pase. Dia meminta Kementerian PUPR merehabilitasi tanggul Krueng Pase di sejumlah titik.

Laporan terbuka tersebut disampaikan Marzuki melalui pengaduan.pu.go.id setelah banjir kembali merendam sejumlah desa di Kecamatan Samudera akibat jebolnya tanggul Krueng Pase di Gampong Mancang, Jumat, 1 Oktober 2021.

Lihat juga: [Foto] Warga Mancang Digendong dari Lokasi Banjir Aceh Utara

Setelah menerima laporan terbuka itu, Admin Pengaduan memberikan respons pada 4 Oktober 2021 bahwa saran dan pengaduan dari Marzuki sudah didisposisi ke Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian PUPR. Selanjutnya, Admin Pengaduan menyampaian tanggapan Dirjen SDA kepada Marzuki, 26 Oktober 2021.

“Laporan terbuka yang saya sampaikan mendapat respons dari Dirjen SDA Kementerian PUPR,” kata Marzuki kepada portalsatu.com/, Rabu, 27 Oktober 2021.

(Badan Jalan Banda Aceh – Medan di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, terendam banjir, 12 September 2015. Foto: Marzuki)

Berikut isi laporan terbuka disampaikan Marzuki kepada Kementerian PUPR, 1 Oktober 2021:

Banjir Kembali Terjadi, Mohon Benahi Tanggul Sungai Krueng Pase

LAPORAN Terbuka

Banjir kembali terjadi di sejumlah titik akibat jebolnya tanggul sungai Krueng Pase di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Jumat, 1 Oktober 2021. Banjir ini membuat lalu lintas Jalan Medan – Banda Aceh macet, dan ratusan rumah warga tergenang air hingga 1 meter di beberapa gampong seperti Mancang, Tanjong Awe, Tanjong Rengkam, Teupin Ara, Tanjong Mesjid.

Banjir ini kerap terjadi setiap tahun sejak 2015. Hingga saat ini belum ada penanganan baik dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara maupun Pemerintah Aceh.

Maka dalam hal ini saya selaku masyarakat Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk melakukan normalisasi dan rehabilitasi tanggul sungai Krueng Pase di sejumlah titik di Kecamatan Samudera dan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara.

(Badan Jalan Banda Aceh – Medan di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, terendam banjir, 17 Januari 2016. Foto: Marzuki)

Respons dari Dirjen SDA Kementerian PUPR, 26 Oktober 2021:

Yth, Saudara Marzuki,

Terima kasih atas pengaduan yang Saudara sampaikan.

Terkait pengaduan Saudara dapat kami sampaikan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, Sungai Kr. Pase masuk dalam Wilayah Sungai (WS) Pase-Peusangan yang merupakan Wilayah Sungai Kewenangan Pemerintah Provinsi. Namun, Tim BWS Sumatera I telah menindaklanjuti dengan mengirimkan sand bag sejumlah 500 buah pada tanggal 2 Oktober 2021 yang diterima oleh Plt. Kepala Pelaksana BPBD Aceh Utara.

Demikian disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Sebelumnya, Marzuki juga menyampaikan kepada portalsatu.com/ bahwa Asisten II Sekda Aceh Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ir. Mawardi, sudah meninjau tanggul Krueng Pase di Gampong Mancang, Kecamaten Samudera, 14 Oktober 2021. Di lokasi tanggul itu, Mawardi menerima penjelasan dari aparatur desa dan masyarakat setempat terkait kondisi tanggul Krueng Pase dan dampak banjir. Namun, belum diketahui tindak lanjut setelah kunjungan Mawardi yang merupakan mantan Kepala Dinas Pengairan Provinsi Aceh dan eks-Kadis SDA Aceh Utara itu.

(Asisten II Sekda Aceh Mawardi berdialog dengan aparatur desa dan masyarakat saat ia meninjau tanggul Krueng Pase di Gampong Mancang, Kecamaten Samudera, Aceh Utara, 14 Oktober 2021. Foto: Marzuki)

Diberitakan sebelumnya, warga Kecamatan Samudera, Aceh Utara, meminta pemerintah segera melakukan perbaikan tanggul Krueng Pase yang jebol akibat tingginya debit air sungai. Jebolnya tanggul itu membuat permukiman warga sering terendam banjir seperti pada Jumat, 1 Oktober 2021.

Luapan sungai itu merendam Gampong Tanjong Awe, Kito, Teupin Ara, Teupin Belanga, dan Mancang, Kecamatan Samudera. Selain rumah-rumah warga, banjir juga menggenangi Kompleks Masjid Sultan Malikussaleh, Geudong, Kecamatan Samudera, hingga badan Jalan Meda-Banda Aceh, kawasan Gampong Mancang.

(Banjir menggenangi Kompleks Masjid Sultan Malikussaleh, di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, 14 Oktober 2021. Foto: Marzuki)

“Kondisi seperti ini sudah sering terjadi. Kita sebagai warga hanya bisa memohon kepada pemerintah agar memikirkan nasib warga dengan memperbaiki tanggul secara benar,” kata Burhan, warga Keude Geudong, Jumat (1/10).

Menurut Burhan, jika memperbaiki tanggul jebol dengan menumpuk karung berisi pasir atau tanah tidak akan bertahan lama. “Masyarakat sudah sering melakukan itu, tapi tiap tahun terjadi luapan sungai mengakibatkan banjir,” ujarnya.

“Ada beberapa titik lainnya yang juga berpotensi jebolnya tanggul ketika debit air Krueng Pase tinggi. Harapan kita kepada pemerintah daerah agar lebih serius dalam menangani persoalan tanggul ini. Kalau tidak serius, maka yang menjadi korban setiap tahun adalah masyarakat, khususnya saat musim hujan berpotensi banjir di daerah ini,” ungkap Burhan.

(Kondisi tanggul di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, 2 Desember 2017. Foto: Marzuki)

Keuchik Gampong Teupin Ara, Kecamatan Samudera, Alkhalis, Jumat (1/10), menyebutkan sebagian warga terpaksa mengungsi ke meunasah (surau), karena genangan air tergolong parah akibat jebolnya tanggul Krueng Pase.

“Tanggul Krueng Pase khususnya di Gampong Teupin Ara sudah amblas dari sebelumnya ada sekitar 100 meter. Artinya, bukan baru sekarang amblasnya, tapi sudah sejak tahun sebelumnya terjadi. Ketika debit air sungai tinggi maka sangat mudah meluap ke permukiman warga,” ujar Alkhalis.

Baca: Warga Samudera Minta Pemerintah Serius Perbaiki Tanggul Krueng Pase

(Banjir di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, 4 Januari 2018. Foto: Marzuki)

(Banjir di Gampong Mancang, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, 6 Desember 2020. Foto: Marzuki)

[](red)