Masyarakat Aceh menabalkan penyebutan waktu pada gerak alam. Ada harmoni antara alam dan kegiatan sehari-hari. Mulai dari pagi hingga pagi kembali, alam memberi petunjuk terhadap waktu, jauh sebelum dunia modern mengenal arloji.
Tulisan singkat ini mencoba mengupas kembali beberapa penyebutan waktu dalam masyarakat Aceh yang disandarkan pada kondisi alam dan gerak bumi terhadap matahari. Setidaknya ada 22 petanda untuk penyebutan waktu yang sering dipakai oleh masyarakat Aceh tempo dulu, mulai suböh hingga kuuék manôk siséun kembali.
Suböh, merupakan penyebutan waktu untuk pelaksanaan shalat subuh. Pada masa ini masyarakat Aceh mulai melaksanakan aktivitas membuka hari. Selepas subuh, mereka akan bertebaran mencari rezeki.
Ngabö, digunakan oleh masyarakat pesisir. Sebutan waktu ini dipakai oleh para nelayan. Waktu ngabö adalah antara pukul 05.30 hingga 06.00 pagi atau beberapa saat setelah shalat subuh. Waktu ngabö ini tidak lama paling hanya antara 30 hingga 45 menit. Pada masa ini biasanya nelayan akan memperoleh tangkapan yang banyak dibandingkan waktu-waktu yang lain, karena waktu peralihan antara gelap ke terang yang membuat ikan keluar dari sarang.
Baca Juga : Sejarah Dihapusnya Nama Kota Banda Aceh
Reunéum/Putéh Timu, juga menunjukkan waktu setelah subuh, yakni masa remang-remang pagi. Reunéum juga sering disebut putéh timu, karena pada waktu itu mulai kelihatan cahaya di timur pertanda matahari mulai terbit.
Beukah Mata Uroë, dipakai untuk menyebutkan waktu mulai bersinarnya matahari di ufuk timur. Cahaya kemerahan mulai kelihatan. Waktu ini merupakan waktu peralihan antara reunéub (remang) ke terangnya pagi.
Mata Uroë Sigalah, penyebutan ini untuk menunjukkan matahari sudah naik sepenggalah. Masa ini kira-kira sekitar pukul 07.30, sering juga disebut sebagai waktu dhuha.
Watèi Bu, ini bermakna waktunya makan nasi, lebih ditunjukkan untuk jadwal sarapan pagi.
Plöh Meuneu-ué, merupakan melepaskan bajak. Waktu ini digunakan oleh para petani. Pada waktu ini petani mulai istirahat dari membajak, yakni sekitar pukul 10.00. Saat ini biasanya petani sudah diantarkan makanan dan minuman ke sawah oleh anak atau istrinya. Setelah menikmati makanan dan minuman itu, petani akan kembali membajak sawah/ladangnya.
Peunap Cot Uroë, ini waktunya sudah mendekati puncak siang, yakni antara pukul 11.00 hingga pukul 11.45. Pada waktu ini masyarakat sudah mulai istirahat dari aktivitasnya.
Cot Uroë Timang, sesuai dengan penyebutannya, cot uroë timang merupakan puncaknya siang (zenith) atau tepat tengah hari.
Reubah Cot /Watèi Leuhö, pada waktu ini matahari sudah mulai condong ke barat. Waktu untuk salat zuhur mulai masuk.
Teungöh Leuhö, merupakan waktu pertengahan pelaksanaan ibadah salat zuhur, yakni antara pukul 13.30 hingga 14.00 siang.
Akhé Leuhö, Ini merupakan bagian akhir dari waktu pelaksanaan salat zuhur, sekitar pukul 15.00.
Watèi Asa, masuknya waktu untuk pelaksanaan salat asar, kira-kira pukul 15.45.
Teungöh Asa, waktu pertengahan pelaksanaan ibadah salat asar, yakni antara pukul 16.30 hingga 17.00 siang.
Akhé Asa, waktu akhir pelaksanaan shalat asar, sekitar pukul 17.45.
Baca Juga : Sejarah Pembentukan Lembaga Wali Nanggroe Aceh
Sinja, waktu sinja dalam bahasa Aceh sama dengan senja dalam bahasa Melayu. Pada waktu ini pantulan cahaya matahari yang berwarna merah jingga (lembayung) mulai kelihatan di ufuk barat, pertanda matahari akan segera terbenam.
Supôt Uroë, merupakan masa peralihan siang dengan malam. Pada waktu ini sudah mulai remang-remang, pertanda masuknya waktu magrib (meugréb)
Watèi Meugréb, waktunya untuk pelaksanaan salat magrib. Pada waktu ini penduduk tidak lagi beraktivitas di luar rumah. Masyarakat sudah berbondong-bondong ke meunasah atau mesjid untuk melaksanakan salat berjamaah.
Watèi Insya, waktu mulai masuknya jadwal pelaksanaan salat isya. Orang Aceh menyebutnya watèi insya.
Teungoh Malam, sesuai dengan penyebutannya, teungoh malam merupakan sebutan masyarakat Aceh untuk waktu tengah malam, yakni pukul 24.00 malam atau pukul 00.00 dini hari.
Sulöih Akhè, waktu sepertiga terakhir malam, kira-kira pukul 01.30 hingga pukul 02.30.
Kuuék Manôk Siséun, waktu mulainya ayam jantan berkokok satu kali. Biasanya dimulai dari pukul 03.00 dini hari. Setelah itu ayam akan terus berkokok hingga jelang subuh.
Namun, penyebutan waktu dalam masyarakat Aceh sejak tempo dulu, sebenarnya tidak hanya pada 22 sebutan itu saja. Ini hanya yang umum dan sering dipakai, banyak penyebutan waktu lainnya yang juga disandarkan pada kondisi alam.[]
Baca Juga :Sejarah Pembentukan Komisi Pengawas Harta Rampasan Perang di Aceh








