Rabu, Juli 24, 2024

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...

Ini Kata Abu Razak...

BANDA ACEH – Venue atau tempat pelaksanaan pertandingan 33 cabang olahraga wilayah Aceh...

DPMPPKB Aceh Utara dan...

ACEH UTARA - Penjabat Bupati Aceh Utara diwakili Plt. Asisten I Sekda Dr....

Puluhan Siswa MTs Swasta...

SIGLI - Diduga keracunan, puluhan siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta Tgk Syik Dayah...
BerandaHeadlineBang Prosa: Berkat...

Bang Prosa: Berkat Damai, Ada yang Ijazah Tak Jelas Sudah Jadi Dewan dan Bupati

“Bagi saya, setelah konflik (perang Aceh yang panjang), bergerilya di belantara hutan, lalu damai. Dan, setelah damai permasalahannya sudah selesai,” kata Bang Prosa.

Mantan Komandan Pasukan Rungkhom Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Batee Iliek, Fadhli Abdullah Adam, lebih dikenal dengan sebutan Bang Prosa mengaku punya alasan kuat dirinya memilih bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Aceh.

Berlatar belakang dari gerilwayan GAM, bukanlah hal mudah baginya dalam menentukan sikap dan pilihan politik setelah Aceh damai pada 2005 silam.

Ia mengaku sebelumnya pernah bergabung di partai lokal (parlok), dan pernah pula di partai nasional (parnas).

“Saya pernah di Partai Hanura, ketika maju sebagai calon DPD pada 2019, lalu saya mengundurkan diri. Saat itu saya gagal jadi DPD,” ujar Bang Prosa ketika ditemui portalsatu.com, Kamis malam, 26 Januari 2023, di Banda Aceh.

Kepala Baguna PDIP Aceh

Seiring berjalan waktu, kata Bang Prosa, ia ditawar untuk bergabung dengan PDI-P Aceh. “Saya melihat, untuk membangun Aceh kita mesti punya kekuatan. Lalu tawaran itu saya sikapi,” ucapnya.

Di PDI-P Aceh, Bang Prosa didapuk sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana (Baguna). Maka, setiap ada bencana di Aceh, ia tetap turun ke lapangan. Bahkan, ikut andil mengadvokasi permasalah tersebut.

Bang Prosa berpandangan satu-satunya partai politik yang dapat merespons dan menampung aspirasi rakyat adalah PDI-P. Karena PDI-P partai besar dan pemenang di republik ini. “Alasan itulah saya bergabung”.

Sebelum memilih berlabuh ke PDI-P, kata Bang Prosa, dirinya telah tertarik dan mendukung Joko Widodo sebagai Presiden pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 dan 2019 saat dirinya maju sebagai calon DPD RI asal Aceh.

“Saya melihat ada harapan dari Jokowi untuk membangun Aceh. Karena dia pernah tinggal di Aceh dan pernah merasakan bagaimana penderitaan orang Aceh,” imbuhnya.

Bang Prosa menambahkan, sebagai ekstentara gunung, hal yang membuatnya bangga terhadap Jokowi adalah tidak melihat Aceh sebagai daerah yang tak penting. “Tapi semacam dijadikan sebagai prioritas”.

Bilapun saat pemilu kalah di Aceh, kata Bang Prosa, tetapi Jokowi telah berulangkali ke Aceh. Datang untuk melihat dan membangun Aceh. “Di antara banyaknya program Presiden, salah satunya adalah jalan tol. Ini bentuk kepedulian Jokowi kepada Aceh”.

“Bagaimana dulu hutan Aceh dikeruk, hasil bumi dan gas banyak, tapi wajah Aceh tak berubah, jalan-jalan tetap terlihat rusak serta tunggang-langgang. Tapi, hari ini, alhamdulillah,” ucapnya.

Berkah Damai Aceh

Di tubuh internal GAM sendiri, kata Bang Prosa, sempat sedikit terjadi polemik ketika dirinya memilih bergabung dengan PDI-P. Namun, ia memberikan pandangan dan alasan yang logis untuk dapat diterima rekan seperjuangannya.

Bang Prosa mengatakan setelah perdamaian usai melewati perang yang panjang, tidak ada lagi kata permusuhan. “Artinya, sudah selesai. Duduk dua pihak yang berselisih, lalu berdamai. Tentunya jadi teman, kalau enggan jadi saudara. Jadi tak ada kata musuh lagi”.

Ia menyebut berdamai bermakna tak ada lagi musuh, yang ada hanya memperbaiki diri masing-masing dan mengakui kesalahan. Sehingga Aceh ini mendapat haknya dengan layak.

Menurutnya, bila ada persoalan Aceh yang belum selesai, itu merupakan lanjutan dari sebuah perdamaian.

Berkah dari perdamaian ini, kata Bang Prosa, orang Aceh sudah bisa maju sebagai gubernur dan bupati melalui jalur indenpenden. “Punya partai politik lokal, punya kewenangan. Di Indonesia, aturan ini bermulanya dari Aceh. Kurang apa lagi Aceh hari ini?”

Ia menjelaskan di seluruh provinsi di Indonesia, partai lokal hanya ada di Aceh. “Masalah sekarang Aceh tak berhasil dalam mengelola diri sendiri, itu tergantung siapa pelakunya ketika semua ini sudah ada, seperti parlok dan hak-hak keistimewaan lain”.

“Bahkan ada juga yang ijazahnya tidak jelas sudah bisa duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) maupun di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK), duduk jadi bupati. Ini berkah damai,” ujarnya.

Alasan Bergabung ke PDI-P

Bang Prosa menerangkan alasan diri bergabung ke PDI-P, selain komunikasi yang tidak mandeg antara pengurus pusat dengan daerah, anggota DPR dan kader-kader PDI-P seluruh Indonesia semua menjunjung tinggi nilai responsivitas, komunikatif, dan berpandangan cakap.

“Komunikasinya amat bagus, salah satu contohnya ketika saya mengirimkan video banjir di Pidie dan Pidie Jaya beberapa hari lalu ke orang PDI-P pusat, langsung ditanggapi. Pihak Balai (Wilayah Sungai) langsung diinstruksikan turun ke lokasi,” ungkap Bang Prosa.

Sebelumnya, kata Bang Prosa, video banjir tersebut ia minta kepada anggota DPR Aceh Dapil Pidie Jaya dan Pidie–ketika mereka turun ke lokasi banjir–untuk dikirimkan ke pusat. Mengingat, daerah aliran sungai dan perairan masuk dalam kewenangan pusat.

Ia mengaku hal itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab moralnya untuk Aceh. Bilapun, dirinya bukanlah seorang bakal calon (bacalon) anggota legislatif maupun DPR aktif.

“Saya melakukan ini murni sebagai tanggung jawab moral untuk Aceh. Dulu saja ketika masih konflik saya juga berjuang demi Aceh. Mati, ya, matilah. Tapi sekarang sudah damai. Jadi, bak lon hana le jak cet langet (Bagi saya, tidak ada lagi khayalan tidak menentu),” tandasnya.

Selagi masih ada sisa usia dan kesempatan, Bang Prosa mengaku akan berbuat untuk Aceh semampunya. Hari ini, dirinya telah menyampaikan berbagai persoalan sosial masyarakat Aceh ke pusat melalui kader-kader PDI-P di parlemen.

Sejauh ini, Bang Prosa juga mengaku telah berhasil membawa pulang berbagai program ke Aceh, baik program sosial seperti pemberdayaan, pembangunan pesantren atau dayah-dayah, maupun program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Tahun ini, bila tak ada kendala, Insya Allah akan banyak program pembangunan dan pemberdayaan masayarakat yang akan disalurkan oleh pemerintah pusat ke Aceh. Itu buah dari kepedulian PDI-P kepada Aceh,” pungkasnya.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.

Baca juga: