BerandaBerita Aceh UtaraCerita Petani Berutang Beras Dampak Bendung Krueng Pase Mangkrak

Cerita Petani Berutang Beras Dampak Bendung Krueng Pase Mangkrak

Populer

Abdullah Usman “gali lobang tutup lobang” untuk memperoleh beras. Petani ini membeli beras di pasar dengan cara berutang. Sawahnya kekeringan lantaran Rehabilitasi Bendung Krueng Pase molor. Dia salah satu dari ribuan petani yang dihadapkan pada ancaman krisis pangan dampak proyek itu mangkrak.

Pria 53 tahun itu berada di meunasah (surau) Gampong Ampeh, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, saat ditemui portalsatu.com, Selasa, 1 Agustus 2023. Abdullah Usman merupakan bilal meunasah tersebut. Tugasnya saban hari membersihkan meunasah, dan mengaktifkan salat berjemaah. Dia juga menyiapkan fasilitas pengajian masyarakat di meunasah itu setiap Selasa malam dan Kamis malam.

Abdullah Usman menerima jerih Rp300 ribu/bulan, dibayar tiga bulan sekali. Artinya, dia memperoleh jerih bilal Rp900 ribu pertriwulan. Pendapatan tersebut tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Dia memiliki tiga anak. Yang sulung sudah tamat SMA, anak kedua masih SMA, dan si bungsu usia kelas dua SMP menempuh pendidikan di dayah.

Sama seperti warga lainnya di desa itu, Abdullah Usman bertani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Biasanya saya menanam padi di dua petak sawah sewa dua kali dalam setahun. Hasil panen padi dari satu petak sawah sekitar 20 karung. Perkarung itu antara 45 sampai 50 kg. Tapi, tiga tahun terakhir saya dan petani lainnya tidak bisa menggarap sawah secara normal, karena tak ada air dari irigasi setelah Bendung Krueng Pase rusak,” ujarnya.

Bendung Krueng Pase di perbatasan Kecamatan Meurah Mulia dan Kecamatan Nibong, Aceh Utara, yang dibangun tahun 1940 sudah beberapa kali rusak. Terakhir bendung itu jebol akibat diterjang banjir pada pengujung tahun 2020.

Pemerintah pusat berupaya merehabilitasi Bendung Krueng Pase sejak akhir 2021. Namun, kontraktor proyek tersebut hanya merealisasikan pekerjaan sekitar 35 persen sampai kontrak berakhir pada Desember 2022. Proyek bersumber dari APBN itupun terlantar sejak Januari 2023 sampai sekarang.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I telah mengakhiri kontrak dengan kontraktor tersebut. Menurut pihak BWS, proses pemilihan rekanan baru untuk melanjutkan pekerjaan Rehabilitasi Bendung Krueng Pase, menunggu hasil audit dari Badan Pengawasan dan Keuangan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh.

Baca juga: Ini Kata Kepala Balai Wilayah Sungai dan BPKP Soal Audit Proyek Bendung Krueng Pase

***

[Sawah kering dan berumput di Gampong Meunasah Me, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Kamis, 27 Juli 2023. Foto: portalsatu/Fazil]

Mangkraknya proyek Bendung Krueng Pase berdampak terhadap sawah seluas 8.922 hektare terhampar di delapan kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara, yakni Meurah Mulia, Nibong, Syamtalira Bayu, Samudera, Tanah Luas, Tanah Pasir, Syamtalira Aron, Matangkuli, dan satu kecamatan masuk wilayah Kota Lhokseumawe yaitu Blang Mangat.

Ribuan petani di sembilan kecamatan itu tidak dapat menanam padi secara normal lantaran sawah kekeringan. Seperti dialami Abdullah Usman. Dia pernah menggarap sawah memanfaatkan air hujan pada Desember 2022. Hasil panen padi saat itu digunakan untuk membayar jasa traktor membajak sawah, bayar utang pada kedai penjual racun hama padi dan pupuk. Sisa padi untuk konsumsi keluarga Abdullah hanya cukup untuk sekitar dua bulan pascapanen.

“Setelah itu harus beli beras. Saya beli beras yang harga rendah, sekitar Rp170 ribu persak ukuran 15 kg. Satu sak beras itu hanya cukup untuk 10 hari. Jadi, selama tidak turun ke sawah sekarang harus beli beras tiga kali sebulan,” kata Abdullah.

Menurut Abdullah, selama tidak bisa turun ke sawah, istrinya sesekali mencari penghasilan sebagai pencuci pakaian milik warga yang mapan secara ekonomi di gampong itu.

“Dulu (sebelum Bendung Krueng Pase rusak), ibu-ibu di gampong ini bisa bekerja menanam padi di sawah orang lain saat musim tanam, sehingga kaum wanita itu mendapat upah harian,” ujar Abdullah.

Abdullah mengaku belakangan ini ia sering membeli beras dengan cara berutang di Keude Blang Jruen, Ibu Kota Kecamatan Tanah Luas. “Setelah melunasi satu sak beras, baru diberi utang lagi oleh pemilik kedai beras grosir. Jika sudah ada uang langsung saya bayar agar bisa berutang beras lagi,” ungkapnya.

Ketika tidak ada uang untuk bayar utang, Abdullah meminta bantuan beras satu sak dari Keuchik (Kepala Desa) Gampong Ampeh.

***

Keuchik Gampong Ampeh, Murhadi, mengatakan banyak warganya terpaksa beli beras di pasar sejak beberapa bulan terakhir lantaran sudah tiga tahun tidak dapat menggarap sawah secara normal.

“Kondisi ekonomi warga sekarang sangat memprihatinkan. Sekitar 90 persen masyarakat gampong ini harus beli beras, karena sudah habis stok padi di rumahnya. Saya juga agak kewalahan menghadapi masyarakat yang mengeluh kebutuhan beras. Namun, apa yang bisa saya bantu tetap saya usahakan untuk mereka. Misalnya, ada warga yang minta beras satu sak, terkadang bisa saya bantu setengah sak, karena ramai masyarakat yang minta bantu maka harus disesuaikan. Jadi, itulah kondisi rill saat ini,” ungkap Murhadi kepada portalsatu.com, Selasa, 1 Agustus 2023.

Murhadi menyebut jumlah penduduk Gampong Ampeh sekitar 400 Kepala Keluarga (KK). “Warga yang mengeluh untuk kebutuhan hidupnya lebih 300 KK. Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai pegawai pemerintah dan karyawan perusahaan. Yang jadi persoalan adalah masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil tanaman padi, karena masyarakat di sini 90 persen petani aktif,” tuturnya.

Belakangan ini banyak warga menjumpai Murhadi untuk menyampaikan, “Pak Keuchik, tolong bantu, di mana bisa ambil beras”.

“Mungkin kalau mereka datang sendiri ke kedai beras untuk berutang, kurang dipercaya oleh pemilik kedai, apalagi sudah beberapa kali berutang. Akhirnya saya yang mengambil tindakan berutang beras bagi masyarakat yang minta tolong itu. Tiga bulan lalu, saya berutang beras di grosir Keude Blang Jruen mencapai Rp11 juta untuk 30 orang lebih atas nama saya,” ujar Murhadi.

Menurut Murhadi, utang itu dilunasi saat masyarakat mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). “Biasanya mereka dapat BLT tiga bulan sekali Rp900 ribu (Rp300 ribu/bulan dicairkan pertriwulan). Misalnya ada warga yang mengambil beras dua sak, dari BLT Rp900 ribu itu, Rp400 ribu untuk bayar utang”.

“Masyarakat yang tidak mendapat BLT karena ada bantuan lain, ketika ada uang mereka melunasi utang beras melalui saya untuk bayar di kedai grosir,” kata Murhadi.

Jadi, kata Murhadi, masyarakat terpaksa “gali lobang tutup lobang” di tengah kesulitan ekonomi dampak mangkraknya proyek Bendung Krueng Pase. “Semakin lama pemerintah membiarkan bendung itu terlantar, maka semakin lama juga masyarakat akan menderita,” tegasnya.

Dia menyayangkan sampai saat ini pihak BWS Sumatera I belum memberikan penjelasan konkret soal kapan pekerjaan rehab bendung itu dilanjutkan. “Juga belum ada solusi dari Pemkab Aceh Utara untuk para petani yang hidupnya sekarang morat-marit, serba kesulitan, karena tidak dapat menanam padi,” ujar Murhadi.

Murhadi sudah menyampaikan saran kepada pihak BWS Sumatera I dan Pemkab Aceh Utara. “Pertama, membuat bendung darurat agar bisa mengalirkan air ke persawahan. Kedua, pemerintah bisa membantu benih padi kepada para petani yang bisa dilakukan penanaman di lahan kering. Saya sudah tawarkan solusi ini kepada pemerintah, tapi belum direspons,” tuturnya.

Keuchik itu berharap Pj. Bupati Aceh Utara Mahyuzar dapat mempertimbangkan saran tersebut sebagai solusi jangka pendek sampai selesai proyek Bendung Krueng Pase. “Masyarakat bisa menanam padi di lahan kering sesuai jenisnya. Ini bukan uji coba, karena di daerah lain sudah ada yang berhasil,” ucap Murhadi.

Murhadi menegaskan harus ada solusi dari pemerintah untuk mencegah masyarakat kelaparan.

Abdullah Usman dan petani lainnya tidak ingin anak-anak mereka bersekolah dengan perut kosong.

Lihat pula: ‘Nasib Petani Harus Dipikirkan Selama Bendung Krueng Pase Belum Mengairi Sawah’.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya