LHOKSEUMAWE – Center for Information of Sumatra-Pasai Heritage (Cisah) memperingati Haul ke-746 tahun wafatnya Sultan Al-Malik Ash-Shalih (Ramadan 696-1442 H) dengan mengadakan samadiyah, menyantuni anak yatim dan buka puasa bersama. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kompleks Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih (sering disebut Sultan Malikussaleh) di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Selasa, 15 Ramadan 1442 H/27 April 2021 M.
Kegiatan diawali salat Ashar berjemaah, dilanjutkan dengan tausyiah disampaikan Wakil Ketua Cisah Sukarna Putra, samadiyah dipimpin Waled Mustafa M. Isa Pulo, dan doa bersama dipimpin Abi Zulfahmi Aron. Selanjutnya, pembagian sembako serta uang saku kepada 55 anak yatim dari beberapa desa dalam Kemukiman Blang Mee, Kecamatan Samudera, buka puasa bersama, dan salat Magrib berjemaah.

Ketua Cisah, Abdul Hamid, mengatakan Sultan Al-Malik Ash-Shalih, pendiri Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, wafat pada bulan Ramadan tahun 696 Hijriah (1297 M) di Kota Sumatra. Berdasarkan tarikh wafatnya, beliau adalah tokoh bergelar “Sultan” paling awal di kawasan Asia Tenggara.
“Karena itulah Kesultanan Sumatra-Pasai tercatat sebagai Kerajaan Islam pertama di seluruh Kepulauan Melayu (Al-Bilad Al-Jawiyyah). Gelar Al-Fatih yang terpahat pada batu nisannya telah membuktikan betapa pentingnya peran jihad dan dakwah beliau dalam membuka dan membebaskan kawasan Asia Tenggara,” ujar Abdul Hamid.

Menurut Abdul Hamid, ada dua sultan lagi yang wafat pada bulan suci Ramadan. Keduanya merupakan keturunan Al-Malik Ash-Shalih. Yakni, Sulthan Mu’iz Ad-Dunya wa Ad-Din Ahmad, wafat pada bulan Ramadan, tahun 870 Hijriah (April/Mei 1466 M). “Beliau adalah putra dari Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar, putra Ahmad, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zhahir, putra Sultan Al-Malik Ash-Shalih”.
Berikutnya, Sultan ‘Adlullah, wafat pada hari Senin waktu Subuh, 9 Ramadan 911 Hijriah (Februari 1506 M). “Beliau adalah putra dari Sultan Manshur, putra Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar, putra Ahmad, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zhahir, putra Sultan Al-Malik Ash-Shalih,” tutur Abdul Hamid alias Abel Pasai.

Abel Pasai menyebut peringatan Haul Sultan Al-Malik Ash-Shalih bertujuan membuka kembali pengetahuan bagi masyarakat Aceh terutama generasi muda tentang sosok pendiri Kesultanan Sumatra-Pasai.
Adapun terjemahan selengkapnya dari bunyi inskripsi pada batu nisan sebelah kaki (selatan) makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih adalah, “Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertakwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasihat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah (‘abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Malik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan surga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah)”.
Kegiatan digelar Cisah tersebut disponsori Komunitas Steem Amal, Binance From Aceh, KPA Daerah-III Tengku Syiek di Paya Bakong, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara.[](*)






