BANDA ACEH — Suara lembut seorang ibu terdengar perlahan di sudut rumah kayu khas Aceh. Di tengah ayunan yang bergerak pelan, lantunan dodaidi mengalun menenangkan bayi yang mulai terlelap. Syair sederhana itu bukan sekadar pengantar tidur, melainkan warisan budaya yang sejak lama hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Dodaidi merupakan nyanyian tradisional yang biasa dinyanyikan para ibu saat menimang anak. Liriknya berisi doa, kasih sayang, nasihat, hingga harapan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi keluarga maupun masyarakat. Dari generasi ke generasi, tradisi ini diwariskan secara lisan dan tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

Di pedesaan Aceh, dodaidi masih sering terdengar terutama pada malam hari. Suasana rumah yang tenang, cahaya lampu redup, serta suara angin dari sela jendela kayu menciptakan kehangatan tersendiri saat seorang ibu mendendangkan syair untuk buah hatinya. Nada yang lembut membuat anak merasa aman dan nyaman dalam pelukan sang ibu.

Bagi masyarakat Aceh, dodaidi bukan hanya lagu pengantar tidur. Tradisi ini dipercaya menjadi cara halus untuk menanamkan nilai kehidupan sejak dini. Dalam setiap baitnya tersimpan pesan tentang sopan santun, agama, kasih sayang, penghormatan kepada orang tua, hingga semangat menjalani kehidupan.

Seorang budayawan Aceh mengatakan, dodaidi memiliki makna mendalam karena lahir dari hubungan emosional antara ibu dan anak. Melalui lantunan tersebut, anak tidak hanya mendengar suara ibunya, tetapi juga merasakan kasih sayang dan perhatian yang tulus.

Di tengah arus modernisasi dan penggunaan gawai yang semakin dominan, tradisi dodaidi mulai jarang ditemukan di sebagian keluarga perkotaan. Banyak anak kini lebih sering tertidur dengan suara televisi atau telepon genggam dibandingkan mendengar nyanyian ibunya sendiri. Meski demikian, sejumlah komunitas budaya dan pegiat seni di Aceh terus berupaya menjaga tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Berbagai pertunjukan budaya, festival seni, hingga kegiatan edukasi mulai memperkenalkan kembali dodaidi kepada generasi muda. Tidak sedikit pula sekolah dan sanggar seni yang memasukkan lagu tradisional Aceh dalam kegiatan pembelajaran agar anak-anak tetap mengenal budaya daerahnya sejak kecil.

Bagi sebagian orang tua di Aceh, mempertahankan tradisi dodaidi menjadi cara sederhana menjaga kedekatan emosional dalam keluarga. Di balik syair yang terdengar lembut, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter anak secara perlahan.

Dodaidi menjadi bukti bahwa budaya Aceh memiliki cara yang halus namun kuat dalam mendidik generasi. Dari ayunan sederhana seorang ibu, lahirlah pesan kehidupan yang terus hidup dan dikenang dalam ingatan masyarakat Aceh hingga hari ini.

Meski sederhana, setiap bait Dodaidi memiliki kedalaman makna yang kuat. Hampir seluruh syair diawali dengan penyebutan nama Allah sebagai bentuk penguatan tauhid kepada anak sejak usia dini. Masyarakat Aceh meyakini bahwa masa menjelang tidur merupakan waktu yang sangat baik untuk menanamkan pesan moral dan spiritual karena pikiran anak berada dalam kondisi rileks menuju alam bawah sadar.

Tradisi ini sejalan dengan pandangan dalam Islam bahwa orang tua memiliki tanggung jawab memperkenalkan nilai-nilai agama kepada anak sejak kecil. Dalam konteks budaya Aceh, Dodaidi menjadi salah satu media paling lembut namun efektif untuk membentuk karakter anak.

Salah satu bait Dodaidi yang sangat dikenal berbunyi.

“Allahai do dodaidi,

Boh gadong bie boh kayee uteu

Rayek sinyak hana peue ma bri

Aeb ngon keuji ureung donya khe”

Syair tersebut mengandung doa dan harapan seorang ibu agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat meski hidup dalam keterbatasan. Anak diajarkan agar tidak mudah goyah menghadapi hinaan, fitnah, maupun kerasnya kehidupan dunia.

Dalam bait lain, nilai patriotisme dan semangat perjuangan tampak sangat kuat:

“Allahai do dodaidang,

Seulayang blang ka putoh taloe

Beurijang rayek muda seudang

Ta jak bantu prang ta bila nanggroe”

Makna syair ini adalah ajakan agar sang anak kelak tumbuh menjadi pribadi pemberani yang siap membantu perjuangan membela negeri. Pesan cinta tanah air ditanamkan bahkan sejak anak masih berada dalam buaian.

Tidak sedikit pula syair Dodaidi yang mengandung pesan keberanian dan pengorbanan demi bangsa serta agama.

“Wahee aneuk bek taduek le

Beudoh sare ta bila bangsa

Bek ta takot keu darah ile

Adak pih mate poma ka rela”

Bait tersebut mencerminkan kuatnya semangat perjuangan masyarakat Aceh dalam menghadapi penjajahan. Anak-anak dididik agar memiliki keberanian, tidak takut berkorban, dan siap membela bangsa apabila diperlukan.

Dalam sejarah Aceh, Dodaidi memang tidak dapat dipisahkan dari semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Pada masa perang melawan Belanda, syair-syair seperti ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat. Semangat yang sama juga tampak dalam karya sastra perjuangan seperti Hikayat Prang Sabi yang membakar semangat rakyat Aceh untuk melawan penjajah.

Tradisi lisan seperti Dodaidi menjadi salah satu cara masyarakat Aceh mempertahankan identitas, agama, dan semangat perjuangan di tengah tekanan kolonial. Melalui syair sederhana yang dinyanyikan seorang ibu, nilai keberanian dan cinta tanah air diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat perjuangan dalam Dodaidi juga tidak membedakan laki-laki maupun perempuan. Sejarah Aceh mencatat lahirnya banyak perempuan tangguh yang turun langsung ke medan perang, seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia. Kehadiran para pahlawan perempuan tersebut menunjukkan bahwa nilai keberanian telah tertanam kuat dalam budaya Aceh sejak dini.

Kini, di tengah arus modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat, tradisi Dodaidi mulai jarang terdengar di rumah-rumah Aceh. Banyak orang tua yang beralih menggunakan lagu modern atau perangkat digital untuk menidurkan anak. Namun bagi sebagian masyarakat Aceh, Dodaidi tetap dianggap sebagai warisan budaya yang sangat berharga.

Tradisi ini bukan hanya tentang lagu pengantar tidur, melainkan tentang cara masyarakat Aceh mendidik generasi penerus dengan cinta, doa, nilai agama, dan semangat kebangsaan. Dalam setiap bait yang dilantunkan, tersimpan harapan agar anak tumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak, mencintai tanah air, dan menghormati sejarah bangsanya.

Dodaidi menjadi bukti bahwa budaya Aceh memiliki cara yang lembut namun kuat dalam membentuk karakter generasi. Dari ayunan sederhana di dalam rumah, lahirlah nilai-nilai kehidupan yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Aceh hingga hari ini.

 

Dodaidi, Warisan Lisan Aceh yang Mendunia Lewat Wisata Budaya

Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil menjelaskan, Dodaidi merupakan nyanyian tradisional Aceh yang kini mulai dipromosikan sebagai bagian dari wisata budaya daerah.

Lantunan lembut yang dahulu hanya terdengar di dalam rumah saat seorang ibu menimang anak, kini diperkenalkan kepada wisatawan sebagai warisan budaya yang sarat nilai kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Aceh.

Melalui berbagai kegiatan seni, festival budaya, hingga pertunjukan tradisional, dodaidi menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang memperlihatkan sisi hangat kehidupan masyarakat Aceh. Syair-syair yang berisi doa, nasihat, dan kasih sayang dinilai mampu menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda bagi para wisatawan, terutama mereka yang ingin mengenal tradisi Aceh lebih dekat.

“Sejumlah pegiat budaya menilai promosi dodaidi tidak hanya penting untuk menarik minat wisatawan, tetapi juga menjadi upaya menjaga tradisi lisan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Dengan memperkenalkan dodaidi dalam kegiatan pariwisata, generasi muda diharapkan semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” ungkapnya, Senin, (18/5/2026).

Suasana pertunjukan dodaidi biasanya semakin terasa khas ketika dibawakan dengan nuansa rumah tradisional Aceh, iringan alat musik daerah, serta busana adat yang memperkuat identitas budaya.

“Kehangatan syair dan kelembutan nada menjadikan dodaidi bukan sekadar hiburan, tetapi juga media untuk menyampaikan nilai budaya Aceh kepada masyarakat luas,” paparnya. [ADV]