Tahun 2013 silam, di Gampong Pande ini pernah ditemukan ribuan kepingan mata uang emas dirham Aceh dalam sebuah kendi oleh seorang perempuan pencari tiram di tambak penduduk yang terdapat di Gampong Pande. Mata uang dirham emas peninggalan Kesulotanan Aceh Darussalam yang ditemukan dalam satu kendi itu diperkirakan mencapai 5.000 keping.

Temuan mata uang emas di Gampong Pande saat itu sempat menghebohkan warga kota Banda Aceh. Sehingga banyak warga masyarakat di luar kota Banda Aceh saat itu berduyun-duyun berdatangan ke Gampong Pande untuk mencari mata uang emas tersebut di tambak-tambak penduduk yang ada di Gampong Pande ini.

Temuan dirham emas peninggalan kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande tahun 2013 itu, sempat teliti bersama Drs. H. Nurdin AR, M. Hum (mantan Kepala Museum Aceh), H. Harun Keuchik Leumiek (alamarhum) sebanyak 500 keping sebagai sampelnya.

Dari hasil penelitian itu terungkap bahwa dirham emas itu adalah peninggalan dari lima Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Aceh Darussalam dari abad ke 16 hingga awal abad ke 17. Namun, di antara dirham emas yang ditemukan saat itu, kepingan dirham yang paling banyak adalah dirham emas keluaran masa pemerintahan Sultan Ala Addin Riayat Syah Alkahar (1537-1568 M).

Dari 500 sampel kepingan dirham emas hasil temuan di Kampung Pande 2013, kami teliti dengan cara membaca tulisan kaligrafi Arab yang tertera pada setiap kepingan dirham satu persatu.

Sehingga terungkaplah nama masing-masing Sultan yang mengeluarkan mata uang dirham emas yang ditemukan di Gampong Pande saat itu, yaitu: (1) dirham keluaran masa pemerintahan Sultan Salah Ad-Din Bin Ali (1530-1537 M), (2) dirham keluaran masa pemerintahan Ala Ad-Din Riayat Sayah Alkahar (1537-1571 M), (3) dirham keluaran masa pemerintahan Ali Bin Alauddin Sultan Husein (1571-1579 M), (4) dirham keluaran Sultan Alauddin Bin Ahmad (1579-1586 M), dan (5) dirham keluaran masa pemerintahan Sultan Alauddin bin Alaiddin (1604-1607 M).

Selain mata uang dirham emas peninggalan Kesultanan Aceh, dalam penelitian saat itu juga kami temukan beberapa mata uang emas Kesultanan Turki Usmani yang bercampur dengan mata uang dirham emas keluaran Kesultanan Aceh Darussalam. Ini membuktikan bahwa Gampong Pande Banda Aceh sejak abad ke 15 selain telah berfungsi sebagai bandar tempat transaksi perdagangan, juga membuktikan bahwa sejak abad ke 15 Aceh sudah memiliki hubungan ekonomi dengan Kesultanan Turki Usmaniyah.

Kontribusi Gampong Pande di Asia Tenggara

Berdasarkan hasil penelitian Dr. Husaini Ibrahim, MA, dalam bukunya: Awal Masuknya Islam Ke Aceh, Analisis Arkeologi dan Sumbangannya Pada Nusantara, menyebutkan, Gampong Pande sebagai kawasan pemukiman terbesar masa Kesultanan Aceh Darussalam sejak awal abad ke 15, selain telah menjadi wilayah pemukiman saat itu, Gampong Pende ini juga telah menjadi pusat perdagangan terbesar di wilayah Asia Tenggara. Bahkan Gampong Pande saat itu dijadikan pusat pengendalian pemerintahan Kesultanan Aceh.

Dengan demikian, makin membuktikan bahwa Gampong Pande ini dulunya selain dijadikan tempat tinggal para Sultan, atau petinggi-petinggi Kesultanan Aceh, juga sebagai pusat bandar kerajaan paling sibuk dengan segala aktifitas perdagangan.

Karenanya tidak mengherankan, mengapa di Gampong Pande yang terletak sebelah barat kota Banda Aceh banyak sekali terdapat makam Sultan Aceh beserta keluarganya, serta makam-makam orang-orang penting lainnya, termasuk makam-makam ulama yang sangat berpengaruh di Kesultanan Aceh ketika itu.