Yang embarkasinya dulu adalah di Pelanggahan—sekarang Gampong Pelanggahan yang letaknya bertetangga dengan Gampong Pande—sampai sekarang di Pelanggahan ini masih terdapat sebuah Masjid, namanya Masjid Teungku Di Anjong, yang dulu digunakan sebagai Masjid tempat berkumpulnya jamaah haji dari dari berbagai wilayah di nusantara.

Sebelum calon jamaah haji dari seruruh nusantara berangkat ke tanah suci, mereka lebih dulu belajar manasik di Masjid Teugku Di Anjong ini. Setelah beberapa lama para calon jamaah haji dari seluruh nusantara berkumpul di embarkasi Masjid Teungku Di Anjong Pelanggahan Gampong Pande ini, kemudian para calon jamaah haji dari seluruh nusantara baru berangkat ke tanah suci Mekkah.

Demikian pula saat kepulangannya, semua jamaah haji nusantara yang pulang setelah menunaikan ibadah haji di Mekkah Baitullah, semua jamaah itu juga pulang melalui Aceh lebih dulu dan berkumpul kembali di embarkasi Masjid Teungku Di Anjong Pelanggahan Gampong Pande. Setelah itu baru melanjutkan kepulangannya ke daerah masing-masing ke seluruh wilayah nusantara.

Gampong Pande Kota Banda Aceh memang sebuah kawasan yang harus segera ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional. Agar semua situs sejarah di kawasan Gampong Pande ini dapat terselamatkan. Apa lagi sampai sekarang di Gampong Pande ini masih banyak ditemukan benda-benda sejarah tempo dulu, seperti porselin, mata uang kuno dari emas, baik dirham Aceh, maupun mata uang kuno dari negara lainnya.

Kepingan mata uang kuno ini biasanya ditemukan oleh warga Gampong Pande pada saat sehabis hujan, benda-benda lama yang telah tertimbun tanah, seperti kepingan mata uang emas akan muncul di permukaan tanah sehabis hujan lebat.

Menurut Keuchik (Kepala Desa) Gampong Pande Tgk. Amiruddin (sekarang tidak menjabat lagi) yang pernah kami wawancarai mengatakan, di Gampong Pande ini akan dibangun sebuah Museum kepurbakalaan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, yang nantinya Museum ini akan diisi dengan benda-benda purbakala yang ditemukan di kawasan Gampong Pande akan dihimpun dalam museum itu.

Untuk tujuan pembangunan museum ini, menurut Keuchik Amiruddin, Pemerintah Kota Banda Aceh telah membebaskan 5.000 meter persegi luas tanah untuk pembangunan Museum di Gampong Pande. Keuchik Amiruddin berharap agar Museum tersebut dapat segera dibangun dalam waktu dekat ini.

Warga Gampong Pande saat itu menyambut gembira dengan telah dibatalkannya pembangunan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande, sehingga semua situs sejarah yang terdapat di Gampong Pande ini telah terselamatkan.[]