Kemudian dalam kajian Dr. Husaini Ibrahim (2006-2007) juga mengungkapkan, di Gampong Pande ini banyak sekali ditemukan nisan khas dalam bentuk ragam hias yang menggambarkan tradisi megalitik, nisan ini diperkirakan bentuk nisan terawal yang digunakan di Aceh sebelum abad ke 9 Masehi.

Berdasarkan temuan ini, menurut ahli arkeologi dari Universitas Syiah Kuala ini, Kampung Pande di kota Banda Aceh bukan saja sebagai tempat awal Islam di Aceh, tapi juga sebagai tempat awal Islam di kawasan Asia Tenggara. Karena corak Islam abad ke 9 ini juga ditemukan di hampir seluruh wilayah Asia Tenggara, dan nisan-nisan yang terdapat di beberapa kawasan di Asia Tenggara diperkirakan adalah nisan-nisan impor dari Gampong Pande di Aceh.

Sebagai ibu kota Kesultanan Aceh, Gampong Pande dulunya tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan, tapi juga berperan sebagai kota perdagangan dan pusat sebagai tempat membuat berbagai prodak kerajinan.

Yaitu sesuai dengan namanya Gampong Pande, yang berarti Kampung Pandai, yang merupakan sebuah kawasan kota kerajaan yang didiami oleh orang-orang pandai (ahli pertukangan dan kerajinan), seperti pandai batu, pandai besi, pandai emas dan lain-lain. Semua keahlian itu dipusatkan di Gampong Pande ini.

Batalnya Pembangunan Museum

Setelah Gampong Pande dihebohkan oleh temuan ribuan keping mata uang dirham Aceh yang terbuat dari emas. Kemudian Kampung Pande ini juga dihebohkan oleh rencana pembangunan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di areal yang penuh dengan situs-situs dan artefak-artefak peninggalan sejarah Aceh. Terutama nisan-nisan kuno yang bertebaran di kawasan Gampong Pande.

Terhadap rencana proyek pembangunan IPAL yang dikhawatirkan akan menggusur situs-situs sejarah di Gampong Pande ini menimbulkan gelombang protes masyarakat Aceh. Terutama masyarakat warga Kota Banda Aceh, agar pemerintah Kota Banda Aceh dapat menghentikan rencana proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah di Gampong Pande ini.

Mensikapi gelombang protes masyarakat terhadap proyek pembangunan IPAL di Kampung Pande ini, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada awal kepemimpinannya 2017, mengintruksikan pada Pemerintah Kota Banda Aceh, agar proyek pembangunan IPAL di kawasan Gampong Pande dapat dihentikan, dan pembangunannya proyek IPAL itu dapat dipindahkan ke lokasi lain. Kerena menurut Gubernur Irwandi saat itu, Gampong Pande adalah kawasan situs sejarah bukti kemajuan peradaban Aceh tempo dulu yang harus diselamatkan.

Apa lagi di areal Gampong Pande ini banyak terdapat makam-makam ulama dan makam-makam keluarga Kesultanan Aceh, dengan nisan-nisan yang sangat indah, yang sebagiannya sudah dipugar untuk dijadikan laboratorium penelitian sejarah untuk dapat dikembangkan sebagai lokasi tujuan wisata budaya Kota Banda Aceh.

Nisan-nisan kuno yang terdapat di Gampong Pande ini dilihat dari bentunya memang sangat indah, nisan-nisan peninggalan kerajaan Aceh ini memiliki desain yang sangat indah dengan berbagai ukiran kaligrafi dan motif-motif khas Aceh yang sangat menarik. Bentuk-bentuk nisan kuno di Gampong Pende ini juga berfariasi, bahkan ada nisan yang ukurannya hampir dua meter tingginya, ada juga yang satu meter atau paling tidak setengah meter tinginya dari makam.

Nisan-nisan kuno yang terdapat di Gampong Pande ini juga dapat dibagi dalam dua bentuk, yaitu nisan pada makam laki-laki dan nisan pada makam perempuan. Untuk laki-laki bentuk nisannya agak bulat meninggi, ukirannya tidak terlalu banyak.

Sedangkan ciri nisan untuk makam perempuan, selain banyak ukirannya, bentuknya juga berbeda, yaitu seperti bentuk kipas berukir dan berpipih. Sementara nisan untuk makam anak-anak yang membedakan hanya pada bentuk besar dan kecilnya saja.

Umumnya, nisan-nisan kuno pada makam anak-anak di Gampong Pande, batu nisannya lebih kecil dan rendah. Itu menandakan makam tersebut adalah makam anak-anak.
Dalam sejarah naik haji di nusantara, Gampong Pande ini dulunya merupakan tempat singgah dan tempat berkumpulnya jamaah haji dari berbagai daerah di nusantara.