Karena sifat itu, maka dalam sebuah hadih maja (semacam kata-kata bersayap) orang Aceh sering menyebutkan (maaf mungkin kurang etis): “Ureung Aceh meunyoe ate hana teupeh kreeh jeuet taraba, tapi meunyoe ate jih kateupeh, bu leubeh han le jipeutaba”. Maksudnya, sifat orang Aceh kalau hatinya tidak disakiti, dipegang barang terlarang pun rasanya tidak apa-apa, tapi kalau hatinya sudah disakiti, meskipun nasinya lebih, tapi kita tidak lagi diajak makan.

Sifat orang Aceh demikian bukan mengada-ngada. Sifat itu memang terbukti dalam pengalaman sejarah Belanda di Aceh. Makin keras Belanda ingin menaklukan Aceh, makin keras pula orang Aceh melawannya. Hingga Belanda mencatat dalam sejarahnya, dari keseluruhan perang yang pernah mereka lakukan di nusantara, perang yang paling besar dan yang paling sulit mereka hadapi adalah perang dengan rakyat Aceh.

Paul Van ‘T Veer (1985) dalam De Atjeh Oorlog (Perang Aceh) mencatat perang Kuta Gle Batee Iliek adalah perang yang paling lama dihadapi Belanda untuk menguasai Samalanga. Lebih dari 30 tahun Belanda membuat perang di Batee Iliek untuk menaklukan benteng Kuta Gle, selalu saja kandas karena ketangguhan perlawanan dari tentara Aceh di sana. Sehingga Van ‘T Veer menulis: Batee Iliek adalah sebuah dusun kramat dan pemukiman para ulama yang sangat fanatik dalam menentang perluasan kekuasaan Belanda di Aceh.

Dalam perang Batee Iliek, kata Van ‘T Veer, para ulama dan tentara Aceh sangat lancar membuat serangan perang terhadap marsose-marsose Belanda, seperti lancarnya mereka membaca ayat-ayat Alquran.

Begitulah sifat dan watak keberanian orang Aceh dalam melawan penjajahan Kolonial Belanda. Tentu saja, karakter keberanian orang Aceh ini tak lepas dari keyakinan keagamaan (Islam) mereka tentang jihad fi sabillah (berperang di jalan Allah), sebagaimana yang termaktup dalam hikayat prang sabi karangan ulama besar Aceh Tgl. Chiek Pante Kulu, yang membuat Belanda harus melarang hikayat ini beredar dalam masyarakat Aceh saat Belanda menduduki Aceh.