Beberapa mantan pemakai narkoba dilatih menulis oleh Akademi Warung Penulis di Rumoh Harapan Atjeh Rumah Sakit Jiwa Aceh. Kisah mereka sangat inspiratif dan menggugah perasaan.

Kamis siang, 7 Oktober 2021, saya diundang ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh oleh Notaris/PPAT Siti Rahmah. Perempuan asal Aceh Tamiang ini merupakan editor dari Tim Akademi Warung Penulis, lembaga yang bekerja sama dengan RSJ Aceh dalam menerbitkan buku kisah para pecandu narkoba sembuh setelah menjalani rehabilitasi.

Acara dimulai pukul 14.30 WIB di Aula Lantai 3 Gedung Rawat Jalan RSJ Aceh. Acara dipandu dr. Arifdian dan Yulia Direzkia S.Psi., M.Psi., keduanya dari Rumoh Harapan Atjeh (RHA) RSJ Aceh.

Direktur RSJ Aceh, dr. Makhrozal, M.Kes., menjadi orang pertama berbicara dalam Bincang Santai dan Diskusi Buku Menyibak Tabir Korban Penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).

Makhrozal menjelaskan, pihaknya berusaha membuat sebuah buku yang berisi cerita-cerita seputar upaya menyembuhkan para residen dari pengaruh dan ketergantungan NAPZA. “Kisah kegigihan mereka untuk sembuh bisa jadi inspirasi bagi semua orang,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Abu Daod Beureueh Mengultimatum Presiden Soekarno

Siti Rahmah yang mendapat giliran kedua berbicara menjelaskan bahwa menerbitkan buku itu merupakan mimpi yang menjadi nyata. Tidak mudah untuk membuat mereka mau menulis dan menceritakan kisahnya. Ada banyak kisah dalam buku itu yang bisa menjadi bacaan bermanfaat agar generasi muda menjauhi narkoba.

Hal sama disampaikan Nirwan, S.Pd.I., M.Pd., yang juga salah satu editor buku itu dari Tim Akademi Warung Penulis. Baginya, ada sebuah kepuasan sendiri bisa mewujudkan lahirnya buku tersebut.

Giliran selanjutnya, dr. Syahrial, Sp.KJ(K)., selaku psikiater konsultan adiksi. Ia banyak menjelaskan tentang pengalamannya menangani para residen korban NAPZA. Kisah-kisah mereka bisa menjadi pelajaran bagi semua. Menariknya ada residen yang sudah sembuh dari NAPZA tidak mau pulang lagi ke daerahnya karena takut terjerumus lagi dalam pengaruh narkoba.

Sayuti, M.Kes., Koordinator Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, menjelaskan bahwa para residen juga punya banyak potensi yang bisa dikembangkan, salah satunya kemampuan menulis. Hanya saja mereka perlu terus dibimbing, didampingi dan diawasi agar tidak lagi kembali terjerumus dalam NAPZA.

Para residen yang mengisi kisahnya sembuh dari NAPZA kemudian bertepuk tangan serentak, ketika tiba giliran Dr. Ediyandra S., SSP., M.S.P., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh berbicara. Ia menjanjikan akan mencetak buku itu dan mengedarkannya ke perpustakaan di seluruh Aceh.

Giliran terakhir menyampaikan pendapatnya dalam diskusi itu Surya mewakili Kepala Kesbangpol Aceh dan Syarifah Yesy selaku Wakil Direktur Pelayanan RSJ Aceh. Lalu, ditutup dengan penyampaian testimoni dua mantan residen.

Baca Juga: Harga Kopi Gayo Bakal Melonjak, Ini Penyebabnya

Membaca buku itu, kita menemukan kisah-kisah inspiratif, seperti yang ditulis RA, misalnya. Pria 33 tahun itu menulis dengan judul penuh ikrar “Takkan Kusentuh Lagi Narkoba.”

Penulis lainnya AM yang berusia 35 tahun, mengungkapkan penyesalannya terjerumus dalam narkoba melalui tulisan berjudul “Ayah, Maafkan Aku yang Membuatmu Kecewa.” Hal sama ditulis FZN yang berumur 20 tahun dengan judul “Surat untuk Ayah.”

Sementara AH, residen lainnya berusia 32 tahun menumpahkan isi hatinya dalam tulisan dengan judul “Ku Akan Pulang Melepaskan Semua Kerinduan yang Terpendam.”  Dilanjutkan dengan tulisan RF berusia 22 tahun dalam tulisan “Mantan Kriminal Bercita-cita Menjadi Jaksa Penuntut.”

Kemudian ada K, pria 32 tahun yang mengisahkan bagaimana awal mula ia terjerumus dalam narkoba melalui tulisan berjudul “Rasa Penasaran Menjerumuskanku dalam Narkoba.” Lalu, ada D berusia 35 tahun mengungkapkan “Kenikmatan Narkoba yang Semu.”

Membaca kisah-kisah mereka adalah membaca sebuah penyesalan pada masa lalu, keteguhan hati dan tekat untuk sembuh dan meraih masa depan yang lebih baik.

Menutup bincang santai dan diskusi ringan itu, Wakil Direktur Pelayanan RSJ Aceh, Syarifah Yesi, dengan penuh haru berpesan kepada para residen, “Masa lalu adalah masa lalu, raih masa depan tanpa narkoba. Kembalilah kalian ke sini bukan sebagai residen tapi sebagai konselor untuk membantu penyembuhan para pecandu lainnya.”[]