Oleh: Faridah, S.T., M.Sc Dosen Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor IPB University
Protein merupakan salah satu sumber gizi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama balita. Namun, kebutuhan protein yang semakin meningkat 32-78% di masa depan tidak seimbang dengan pasokannya. Hal ini disebabkan oleh sumber protein selama ini berasal dari protein hewani, khususnya daging merah dan putih, yang sebagian besar tidak terjangkau oleh masyarakat rawan pangan. Kurangnya kualitas dan kuantitas protein yang baik pada makanan pendamping ASI dapat mengakibatkan kekurangan protein dan dapat menyebabkan malnutrisi yang mengakibatkan stunting.
Stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, salah satunya protein, masih menjadi masalah serius di Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2021 masih tergolong tinggi, yaitu sebesar 37,2%. Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan prevalensi stunting yang tinggi, yaitu sebesar 38,8%. Pemerintah Aceh berusaha untuk menurunkan angka stunting menjadi 14 persen secara nasional pada tahun 2024.
Salah satu upaya untuk mengatasi stunting adalah dengan meningkatkan asupan protein pada anak balita. Protein merupakan salah satu nutrisi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk pertumbuhan tinggi badan. Protein dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki sel-sel dan jaringan tubuh.
Protein hewani merupakan sumber protein yang paling baik untuk anak balita. Namun, harganya relatif mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan protein alternatif yang terjangkau dan mudah diperoleh. Salah satu sumber protein alternatif yang potensial adalah mikroalga. Pemerintah Aceh perlu mendukung pengembangan mikroalga sebagai sumber protein alternatif untuk mengatasi stunting. Selain itu, perlu juga dilakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konsumsi protein alternatif untuk mencegah stunting.
Mikroalga, organisme kecil yang hidup di perairan, memiliki potensi besar sebagai sumber protein alternatif untuk mengatasi stunting. Hal ini karena mikroalga memiliki kandungan protein yang tinggi dan berkualitas, serta mudah diproduksi.
Mikroalga merupakan salah satu sumber protein alternatif yang potensial. Mikroalga memiliki kandungan protein yang tinggi (>40%), dan hasil proteinnya bisa lebih dari 10 kali lipat lebih tinggi daripada tanaman kedelai.
Mikroalga juga memiliki protein berkualitas tinggi yang mengandung semua asam amino esensial. Selain protein, mikroalga juga mengandung berbagai nutrisi penting lainnya, seperti vitamin, mineral, dan serat. Selain itu, mikroalga mudah diproduksi di berbagaikondisi lingkungan, termasuk di perairan tawar, payau, dan laut.
Hal ini menjadikan mikroalga sebagai sumber protein alternatif yang berkelanjutan. Selain itu, biaya produksi mikroalga relatif lebih rendah dibandingkan dengan sumber protein hewani.
Protein mikroalga dapat diaplikasikan untuk berbagai keperluan, baik untuk konsumsi manusia dan hewan, maupun untuk industri. Untuk konsumsi manusia dan hewan, mikroalga dapat dikonsumsi secara langsung, baik dalam bentuk segar, kering, maupun olahan.
Mikroalga juga dapat ditambahkan ke dalam berbagai produk makanan, seperti susu, yogurt, roti, dan mie..Selain itu, fraksi protein yang diisolasi dari mikroalga juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan industri. Misalnya, untuk menghasilkan peptida biofungsional di sektor farmasi, atau untuk bahan baku pembentuk gel, pembekuan, pembentukan busa, stabilisasi, dan pengikatan air di industri makanan.
Mikroalga merupakan sumber protein
yang berkelanjutan dan terjangkau. Oleh karena itu, mikroalga dapat menjadi solusi
untuk mengatasi masalah kekurangan protein di dunia. Teknologi pangan berperan penting dalam pengembangan mikroalga sebagai sumber protein alternatif, karena dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas produksi mikroalga, sehingga mikroalga menjadi lebih terjangkau dan mudah diperoleh.
Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengoptimalkan produksi biomassa mikroalga. Teknologi yang digunakan dalam menghasilkan protein mikroalga meliputi: ekstraksi, yaitu proses pengambilan protein dari mikroalga; isolasi, yaitu proses pemisahan protein dari komponen lain dalam mikroalga; pemurnian, yaitu proses pemisahan protein dari protein lain yang mirip.
Teknologi-teknologi tersebut masih terus dikembangkan untuk.meningkatkan efisiensi dan produktivitas produksi protein mikroalga. Dengan pengembangan teknologi pangan, diharapkan mikroalga dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi stunting di Indonesia dan Aceh khususnya.
Namun, masih ada beberapa tantangan yang perlu dipertimbangkan untuk mewujudkan potensi penuh mikroalga sebagai sumber protein yang berlimpah dalam bentuk makanan utuh. Salah satu tantangan utama mikroalga adalah masalah toksisitas. Beberapa jenis mikroalga dapat mengandung racun yang berbahaya bagi manusia. Selain itu, mikroalga utuh memiliki rasa yang tidak enak dan sulit dicerna. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keamanan mikroalga untuk dikonsumsi, mengembangkan metode pengolahan mikroalga yang dapat meningkatkan palatabilitas dan ketersediaan hayati proteinnya.
Mikroalga dapat diproduksi dalam skala besar dengan menggunakan sumber daya yang relatif sedikit, seperti air, cahaya, dan karbon dioksida. Hal ini menjadikan mikroalga sebagai sumber protein yang lebih berkelanjutan daripada sumber protein tradisional, seperti daging, susu, dan telur. Meskipun masih ada beberapa tantangan, data yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa mikroalga layak dikejar sebagai sumber protein untuk mengatasi stunting dalam kekurangan protein bagi balita. Mikroalga merupakan sumber protein yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Mikroalga merupakan sumber protein alternatif yang potensial untuk mengatasi stunting di Aceh. Mikroalga memiliki kandungan protein yang tinggi dan berkualitas, serta mudah diproduksi. Namun, masih ada beberapa tantangan yang perlu dipertimbangkan, seperti masalah toksisitas dan palatabilitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengatasi tantangan tersebut dan mengembangkan mikroalga sebagai sumber protein yang terjangkau dan mudah diperoleh.[]








