Sabar, kita harus bersabar. Apa yang selama ini kita harapkan belum terwujud,” kata Pon Yaya.

Politisi Partai Aceh yang kini menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Saiful Bahri alias Pon Yaya, mengatakan sejauh ini perjuangan Aceh belum terwujud. Ia meminta segenap lapisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan semua elemen masyarakat untuk bersabar.

Mudah-mudahan, kata Pon Yaya, kesabaran ini membuahkan hasil sesuai dengan apa yang dicita-citakan rakyat Aceh selama ini. Menurutnya, GAM bukanlah barisan pergerakan yang menyerah.

“Kamoe kon teuntra GAM yang meunyerah. (Kami bukan tentara GAM yang menyerah),” ujar Pon Yaya dalam sambutannya ketika menyampaikan laporan pada penutupan Mubes III Partai Aceh di Hermes Hotel Banda Aceh, Minggu malam, 27 Februari 2023.

Ia mengatakan, GAM telah menerima perdamaian sesuai dengan kesepahaman di Helsinki 2005 silam. Maka, perdamaian ini perlu dijaga sesuai dengan perintah para petinggi, supaya perdamaian ini menjadi perdamaian yang abadi.

“Sabar, kita harus bersabar. Apa yang selama ini kita harapkan belum terwujud,” kata Pon Yaya.

Di samping itu, sambung Pon Yaya, untuk mewujudkan pemerintah Aceh sesuai dengan yang telah disepakati dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki. “Aceh akan mengelola dirinya sendiri dalam semua sektor publik,” ungkapnya.

Pon Yaya menyebutkan, apapun yang dilakukan oleh Partai Aceh selama ini tak lain untuk kepentingan Aceh.

“Kami bukan kerja sama Nanggroe Aceh, tapi kami kerja untuk Nanggroe Aceh,” ujar Pon Yaya.

Pon Yaya menyampaikan, perjuangan ini adalah perjuangan yang suci, harus dilanjutkan oleh kita semua untuk menyelesaikan perkara Aceh dengan Jakarta yang sampai kini belum selesai.

Peu yang terjadi. Ureueng droeneuh phon dile yang meupake sabe keudroe-droe. Kamoe di miyub neuyue meusaboh. Pakiban ta meusaboh di ateuh ka saboh sahoe,” ujar Pon Yaya dalam bahasa Aceh yang khas.

Artinya, “Apa yang terjadi. Petinggi yang lebih dulu berseteru antara sesama. Lalu kami di bawah diminta untuk bersatu. Bagaimana bisa bersatu, petinggi sudah berpisah-pisah”.

Hal itu diungkapkan Pon Yaya di hadapan Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh Malek Mahmud Al-Haytar, Muzakir Manaf, Irwandi Yusuf dan para petinggi GAM lainnya serta para tamu yang hadir.

Oleh karena itu, kata Pon Yaya, tema Mubes III Partai Aceh diangkat slogan “Meusaboh tanyoe Meuhase, Meutjre bre tanyoe binasa”. “Perjuangan belum selesai. Tujuan belum tiba, tapi kita sibuk rebutan ghanimah,” tuturnya.

Pon Yaya meminta semua yang hadir untuk dapat mengintrospeksi diri. Meninggalkan ego sektoral pada diri masing-masing. “Orang lain memang suka melihat pertikaian antara sesama orang Aceh,” ucapnya.

“Bila perdamaian Aceh ini tidak sesuai kehendak, maka mesti kembali ambil “peunutoh” (perintah). Jangan seperti budak di nanggroe sendiri,” tambahnya.

“Coba lihat, ketika kita terpecah belah, siapa yang beruntung,” kata Pon Yaya.

Hari ini, kata Pon Yaya, banyak telah hilang sejak Aceh damai, yaitu rasa saling menghargai antarsesama. “Yang ada saling menjatuhkan antarsesama, tuding menuding,” ungkapnya.

Pon Yaya mengisahkan, bagaimana kekompakan para petinggi GAM dulu ketika baru-baru menggerakkan perjuangan Aceh. “Bijaksana, gagah dan santun. Sehingga membuat banyak pemuda Aceh yang antusias bergabung dalam barisan GAM”.

Namun, hari ini, sebut Pon Yaya lagi, “ujung-ujungnya, para petinggi yang duluan berseteru antarsesama,” paparnya.

Pon Yaya berharap ke depan akan ada cara berpikir yang baru, terbuka dan transparan. Supaya rakyat Aceh dapat bersatu kembali.

Ia meyakini, bila Partai Aceh sudah transparan dan terbuka akan banyak yang bersedia bergabung. Apalagi saat ini, banyak ekskombatan GAM yang secara ekonomi telah mampu, akan kembali membantu perjuangan Aceh.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen