BANDA ACEH – Stunting atau anak yang mengalami gagal tumbuh kembang akibat kekurangan nutrisi merupakan “lingkaran setan” yang dapat diputuskan dengan menaruh perhatian serius pada perkembangan remaja.
Hal itu disampaikan konselor gizi Aceh Peduli ASI (APA), dr. Mutia Winanda, M.Gizi. Sp.GK., dalam diskusi Penguatan Kesehatan Reproduksi Remaja Bersama Mitra Kerja yang diselenggarakan PKBI Aceh dan BKKBN Perwakilan Aceh di Banda Aceh, Senin, 28 November 2022.
“Stunting tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dicegah. Seorang anak yang sudah mengalami pendek di usia dia tahun pertamanya, itu sudah enggak bisa diapa-apakan lagi,” kata Mutia di hadapan lebih 20 peserta didominasi remaja.
Mutia mengatakan jika seorang anak—khususnya anak perempuan—mengalami stunting, maka ia akan tumbuh menjadi remaja kurang gizi. Kelak ia akan menjadi seorang ibu yang juga kekurangan gizi dan kembali melahirkan bayi yang kurang gizi. “Inilah yang dimaksud dengan lingkaran setan,” ujarnya.
Namun, stunting bisa dicegah dengan melakukan intervensi khusus, seperti memaksimalkan pemberian air susu ibu, mencegah terjadinya infeksi, dan memperbaiki pola makan.
Mutia menyebut persoalan stunting bukan sebatas pada anak yang pendek saja, tetapi juga berdampak terhadap sistem imunitas yang rendah serta kemampuan kognitifnya rendah.
Mengapa remaja menjadi penting sebagai pemutus rantai stunting? Karena remaja yang sehat dan cukup gizi akan tumbuh menjadi orang tua yang sehat dan melahirkan buah hati yang sehat pula.
Namun, pola makan dan status gizi remaja juga menjadi persoalan tersendiri. Berdasarkan data dipaparkan dr. Mutia, sebanyak 27,93% remaja diketahui gemar mengonsumsi minuman bersoda, termasuk minuman dengan kadar gula tinggi; 44,6% jarang sarapan; 55,4% suka mengonsumsi makanan cepat saji setidaknya seminggu sekali; 68,3% tidak bawa bekal ke sekolah; 23,8% remaja putri mengalami anemia; dan 16% remaja mengalami kelebihan berat badan dan obesitas.
“Remaja membutuhkan asupan gizi tinggi karena berbagai faktor, seperti pertumbuhan berat badan dan tinggi badan yang membutuhkan nutrisi tinggi,” ucap Mutia.
Dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi, nutrisi atau gizi yang masuk ke tubuh juga sangat memengaruhi tingkat maturasi seksual seorang remaja. Di antara nutrisi penting yang tak boleh dilewatkan misalnya zat besi, kalsium, dan seng yang sangat dibutuhkan di masa-masa pertumbuhan.
Untuk memenuhi asupan gizi ini, disarankan untuk mengonsumsi pola makan seimbang yang setara antara karbohidrat, protein, dan serat yang diperoleh dari buah dan sayur. Asupan nutrisi harian yang baik juga akan berpengaruh pada terpenuhinya cadangan gizi ketika seseorang hamil.
Untuk jangka panjang, pola makan seimbang akan meminimalisir terjadinya penyakit degeneratif akibat makanan seperti kardiovaskular, diabetes, hingga pengeroposan tulang.
Selain Mutia, diskusi ini menghadirkan pembicara dari kalangan remaja, Rosiva Faraditha memaparkan tentang kesehatan reproduksi remaja.
Dita menjelaskan bahwa reproduksi yang sehat menyangkut dengan sistem, fungsi, dan proses produksi yang baik. Ia menekankan agar remaja tidak terjebak dalam pernikahan dini yang tidak saja akan berdampak pada fisik karena belum matangnya organ-organ reproduksi, tetapi juga berpengaruh pada kestabilan mental.
Ia menegaskan pentingnya perencanaan sebelum melangkah ke jenjang untuk membangun rumah tangga, apalagi jika ingin memiliki anak. Untuk usia pernikahan ideal setidaknya jika mengacu pada Undang-Undang Perkawinan, perempuan harus sudah 19 tahun dan laki-laki 25 tahun.
Dita juga memberi beberapa kiat dalam menjaga kesehatan alat reproduksi, di antaranya, rajin mengganti pakaian dalam agar tidak berkembang biak jamur.[](*)







