Data Buku

Judul      : Burung Terbang di Kelam Malam

Penulis   : Arafat Nur

Tebal      : xvi + 376 halaman

Penerbit  : Bentang Pustaka

Cetakan : Cetakan pertama, Februari 2014

ISBN     : 978-602-7888-93-7

 

Burung Terbang di Kelam Malam adalah sebuah novel yang digarap oleh Arafat Nur. Prosais yang pernah memenangkan piala Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini kembali menyuguhkan Serambi Mekkah dengan wajah yang berbeda dari pandangan umum. Setidaknya begitulah para seniman bekerja. Berbeda dengan novel sebelumnya, Lampuki yang menceritakan Aceh saat masa konflik, Burung Terbang di Kelam Malam menceritakan tentang seorang wartawan yang ingin menyibak tirai gelap seorang penguasa kotor yang ingin mencalonkan dirinya menjadi wali kota. Tentu saja suasananya pun sudah selesai konflik bersenjata.

Fais, begitulah nama sang pewarta itu, dengan idealis yang tinggi namun sesekali termakan situasi. Hati nurani Fais ingin melawan arus pewarta lainya yang hanya meliput hal baik di kota Lamlhok. Fais tidak terlalu senang meliput pecitraan seperti kebanyakan teman-temannya. Hal ini terlihat dalam tentang percakapan Fais dengan Sania seorang yang berprofesi sama dengannya, Fais memperlihatkan betapa tidak berminatnya ia meliput isu pecitraan. “……Kenapa kamu tidak mendekati tuan Beransyah, dia lagi obral diri. Pasti dia senang jika kamu menuliskan sesuatu tentangnya di Warta,” “Aku agak malas.”………”Pekerjaan yang kulakukan itu harus bisa membuat hatiku senang. Tidak demikian jika aku menulis mengenai lelaki itu!” (halaman 75)

Tuan Beransyah adalah seorang yang sangat berpengaruh dalam kota Lamlhok dan ia ingin mencalonkan dirinya menjadi wali kota. Fais yang mengetahui kebobrokan moral sang kandidat wali kota tersebut tidak tinggal diam. Ia ingin membongkar kepada publik siapa sebenarnya Tuan Beransyah itu. Petualangannya pun dimulai dengan mencari simpanan-simpanan sang kandidat. Fais berniat menceritakan semua kisah dan petualangan Tuan Beransyah dalam sebuah novel. Fais kemudian menemukan hal lain di samping istri simpanan Tuan Berasyah ia juga mengetahui bahwa Tuan Berasyah juga berbisnis ganja.

Fais ingin menuliskan kebobrokan moral Tuan Berasyah dalam sebuah novel bukan dalam harian Warta karena ia sadar bahwa koran tempat ia bekerja itu tidak akan pernah memuat berita tersebut, karena dapat membahyakan media itu sendiri.

Pada awalnya perjalanan sang wartawan yang ingin menulis novel itu murni mecari data agar cerita yang dibangunya itu berkarakter kuat, namun seiring dengan berjalannya waktu ia pun mulai terlibat hubungan aneh dengan beberapa gundik Tuan Beransyah. Salah satunya adalah dengan Aida.

Pada suatu siang untuk kunjungannya yang kedua kali ke rumah Aida, Fais dirayu olehnya sehingga adegan yang awalnya tak diingikan Fais pun terjadi. “Tidak seberapa lama, tiba-tiba saja wajahnya menyembul lewat celah tirai pintu dengan tatapan mengundang, ‘Kukira ada baiknya kamu yang masuk kemari, tidak mungkin aku yang keluar dengan keadaan begini…’” (halaman 98)

Membaca Burung terbang di Kelam Malam seperti membaca cerita fiksi total yang tidak akan pernah terjadi di bumi Serambi Mekkah. Banyak hal yang kadang tidak mungkin terjadi dalam novel tersebut seperti para gundik yang dengan mudahnya menerima Fais untuk mengorek informasi pribadinya sampai berakhir di ranjang. Walau ada satu dua orang yang tidak sanggup ditaklukan oleh Fais, namun secara keseluruhan gundik Tuan Beransyah dengan sangat mudah masuk genggaman Fais.

Sebenarnya dalam fiksi itu bisa saja terjadi namun lain halnya jika berbicara dalam ranah Serambi Mekkah. Aceh yang digambarkan dalam novel Arafat Nur terlihat berbeda dengan keadaan sebenarnya, belum lagi para simpanan Tuan Berasyah yang dengan suka rela membuka pahanya untuk Fais. Sungguh hal susah terjadi di Tanoh Rencong ini ditambah lagi Fais baru dikenal oleh sang gundik, namun sekali lagi itulah fiksi.

Karya Arafat Nur memang terkesan membawa suasana baru dalam dunia sastra Aceh yang sangat lekat dengan adat dan budaya islami. Sehingga bagi saya, ia adalah seorang prosais yang dapat dikatakan berani dalam berkarya. Ia cenderung menabrak arus dan mempunyai pemikiran yang segar. Novel ini seakan memperlihatkan wajah lain dari dugaan umum tentang Serambi Mekkah. Cerita penuh sensasi dan romansa muda ini seaakan terjadi di luar negri.

Novel Burung Terbang di Kelam Malam merupakan karya unik walau sedikit ‘nyeleneh’ dengan ide dan penyampaiannya. Ide cerita yang menurut saya sangat segar dan penyampaianya yang sederhana, novel yang satu ini mampu menghanyutkan pembaca dalam cerita yang sederhana  belum lagi dipadu dengan diksi-diksi unik yang kadang membuat kita tersenyum simpul.

Penggunaan kata-kata yang jarang dipakai menambah nilai tersendiri dalam novel ini. kata seperti ‘pesong’ pun kerap kita temukan sehingga dapat memunculkan wana baru dalam dunia sastra.

Tak hanya cerita tersurat namun makna tersirat dalam novel ini pun banyak kita temukan. Salah satunya adalah kritik sosial masyarakat Aceh yang sangat jarang membaca. Hal ini terlihat dalam halama 9 mengenai pembicaraan Aida dengan Fais. Saat Fais mengatakan bahwa keperluannya menemui Aida adalah untuk menulis novel Aida bertanya kepada Fais apa itu novel. Ia tidak tahu kata yang satu itu.

…….”Aku hanya ingin menulis novel. Maka kukatakan tadi bahwa pekerjaanku adalah penulis.” Aida pun menjawab “Apa itu novel?” Aku baru sadar bahwa masih banyak orang yang asing terhadap benda itu. Jangankan membaca, menyentuhnya pun mereka tidak mau.(halaman 9)

Potongan cerita di atas menampilkan kepada kita betapa masyarakat Aceh yang memiliki minat sangat rendah terhadap buku. Jangankan membaca karya sastra dalam bentuk novel yang panjang membaca buku wajib saat menuntut ilmu di sekolah pun snagat berat. Itulah fakta yang patut menjadi perhatian kita untuk segera memperbaikinya. Novel Arafat nur yang satu ini telah berhasil menyentil kita secara halus namun keras.

Dengan sampul depan yang menimbulkan daya magis tertentu novel ini telah mampu menyita perhatian siapa pun yang melihatnya. Perpaduan warna biru dengan gambar burung terbang dan kawat duri, memiliki daya tarik sendiri bagi siapapun yang melihatnya. Secara keseluruhan novel Burung Terbang di Kelam Malam adalah karya apik anak negeri yang patut diapresiasi. Sumbangan Arafat Nur ini menambah satu lagi karya sastra unik dalam dunia sastra kita.[]

 

*Penulis adalah jurnalis di portalsatu.com