Nabi Muhammad SAW menggunakan sebagian malamnya untuk shalat, beliau tidur sangat sedikit di malam hari. Sebuah studi telah mengkonfirmasi pola serupa ini sebenarnya lebih sehat bagi sebagian orang.

Tidur merupakan salah satu aktivitas yang penuh dengan nikmat dari Allah SWT. Di pengujung hari yang sibuk, seseorang berharap agar bisa tidur dan mendapatkan kembali energi yang cukup untuk hari berikutnya.

Tidur juga penting untuk alasan kesehatan dan keamanan yang baik. Namun, hasil penelitian bervariasi mengenai berapa lama durasi tidur yang cukup. Beberapa penelitian mengklaim 8-10 jam adalah persyaratan untuk semua orang.

Dr. Karima Burns, dokter dan konselor menyebut tidur penting untuk alasan kesehatan dan keamanan. Kurang tidur dapat menyebabkan penyakit mental, masalah hubungan dengan sesama, absen dari pekerjaan dan bahkan kecelakaan lalu lintas.

Para peneliti menemukan fakta orang dengan insomnia kronis lebih mungkin mengembangkan beberapa jenis masalah kejiwaan, juga cenderung lebih memanfaatkan layanan kesehatan, dibanding yang lainnya.

Dilansir di About Islam, Rabu, 2 Februari 2022, hilangnya produktivitas karena kantuk diperkirakan merugikan ekonomi nasional sebanyak 100 miliar dolar per tahun. Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat memperkirakan lebih dari 100.000 kecelakaan mobil setiap tahun kemungkinan terkait dengan kelelahan.

Karena hal tersebut, beberapa penelitian mengklaim durasi 8-10 jam tidur diperlukan untuk semua orang. Namun, penelitian lain mengkonfirmasi apa yang dilakukan Nabi Muhammad memiliki kemungkinan lebih menyehatkan bagi sebagian orang.

“…Nabi tidur sebagian malam, (Fateh-al-Bari halaman 249, Vol. 1). Larut malam, dia bangun dan melakukan wudhu dan berdiri untuk shalat”. HR Bukhari

Studi modern menunjukkan cara ini sebenarnya merupakan saran terbaik bagi banyak orang. Faktanya, banyak penelitian menunjukkan kurang tidur atau bahkan kurang tidur bisa lebih sehat dalam beberapa kasus.

Sebuah studi enam tahun terhadap lebih dari satu juta orang Amerika menunjukkan tidur malam yang nyenyak berlangsung selama tujuh jam. Ini juga menunjukkan orang yang tidur selama delapan jam atau lebih cenderung meninggal lebih cepat.

“Anda benar-benar tidak perlu tidur selama delapan jam dan Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Ternyata sangat aman untuk tidur hanya tujuh, enam, atau bahkan lima jam semalam,” ujar pemimpin studi, Daniel F. Kripke, MD.

Kripke dan rekan kerjanya menganalisis data dari studi American Cancer Society yang dilakukan antara tahun 1982 dan 1988. Studi ini mengumpulkan informasi tentang kebiasaan tidur dan kesehatan orang, dan kemudian mengikuti mereka selama enam tahun.

Peserta studi berkisar antara usia 30 sampai 102 tahun, dengan usia rata-rata mulai 57 tahun untuk wanita dan 58 tahun untuk pria. Dalam studi tersebut, risiko kematian bagi orang yang terlalu banyak tidur adalah 34 persen dibandingkan dengan hanya 12 persen mereka yang tidur 8 jam, serta hanya 22 persen yang kurang tidur.

Temuan ini disebut serupa dengan yang ada di bidang diet, yang menunjukkan makan terlalu banyak jauh lebih berbahaya daripada tidak cukup makan. Hal ini diluar kondisi ekstrem besar, seperti kelaparan dan tidak tidur sama sekali. Kripke bahkan mencatat untuk tidur 10 jam, peningkatan risiko kematian hampir sama dengan obesitas sedang.

Beberapa penelitian bahkan telah bereksperimen dengan kondisi kurang tidur untuk menyembuhkan depresi. Menurut sebuah artikel ulasan yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry edisi Januari 1990, disebut hingga 60 persen orang yang depresi akan menunjukkan peningkatan 30 persen setelah hanya satu malam terjaga.

Sebuah penelitian juga menunjukkan meski tidur menghambat pelepasan TSH, tetap terjaga sepanjang malam dan pagi hari meningkatkan kondisinya. Penelitian ilmiah ini sepenuhnya sesuai dengan kebiasaan Nabi, yaitu tidur sesaat setelah shalat Isya dan bangun di pagi hari atau kadang-kadang tengah malam untuk berdoa.

Dr. Karima Burns lantas menyebut durasi tidur yang dibutuhkan oleh seseorang sebenarnya bisa dirasakan secara naluriah. Jika setelah tidur selama 7 jam dirasa enak, namun merasa lelah jika tidur selama 5 atau 9 jam, maka tujuh jam adalah waktu yang ideal.

“Namun, kebutuhan tidur juga dapat bervariasi dengan peristiwa kehidupan. Selama perjalanan, trauma pribadi atau penyakit, kebutuhan tidur dapat meningkat,” ujar dia.

Ilmu kedokteran tampaknya mengatakan jika Anda membutuhkan lebih dari 8 jam tidur, Anda perlu mengatasi beberapa masalah diet atau pola makan dan berusaha untuk kurang tidur.

Bahkan, Nabi Muhammad menentang kondisi ekstrem terkait kurang tidur. Ia mengatakan kepada orang-orang yang begadang sepanjang malam selama berhari-hari berdoa, bahwa mereka perlu mengurangi kebiasaan itu dan pergi tidur.[]Sumber: republika.co.id