Salaheddin Mezarligi atau Salaheddin Graveyard merupakan komplek kuburan kuno Turki di Aceh di Desa Bitay, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Orang Aceh menyebutnya makam Teungku Chik Di Bitay. Ratusan tentara Turki dikuburkan di sana.

Seorang pemuda tampak sedang menyapu lantai masjid di sisi timur makam Tgk Chik Di Bitay. Saya menghampirinya menyatakan maksud kedatangan ke situ. Ia mempersilahkan saya untuk masuk dan mengambil beberapa foto di komplek makam bersejarah tersebut.

Seorang pria paruh baya masuk ke komplek kuburan dari belakang rumahnya di sisi barat daya komplek pemakaman. Kami segera menyalaminya. Pria yang mengenakan kain sarung dan baju kaos bergambar naga itu ternyata khadam makam teungku Chik Di Bitay.

Namanya Zulfan Nuris, istrinya merupakan keturunan kesepuluh dari Teungku Chik Di Bitay. Zulfan Nuris sebagai khadam ditunjuk oleh Pemerintah Aceh. Ia melanjutkan tugas mertuanya khadam sebelumnya.

Baca Juga: Sejarah Laksamana Malahayati Membunuh Cornelis de Houtman

Zulfan Nuris banyak bercerita tentang makam-makam di komplek makam Teungku Chik Di Bitay tersebut. Ketika Aceh dihumbangan tsunami pada 26 Desember 2004 silam, kawasan itu ikut terdampak. Zulfan Nuris sendiri juga menjadi korban, bahan dan material bangunan yang sudah dibelinya untuk membangun rumah semua hilang tersapu gelombang yang maha dahsyat itu.

Zulfan Nuris tidak putus asa, ia melanjutkan hidupnya menjadi tukang becak. Pemerintah Turki kemudian datang membawa bantuan, pada tahun 2006 komplek kuburan itu dipugar. Pada saat yang sama Pemerintah Turki juga membangun 1.201 rumah bantuan di dua lokasi, 500 unit rumah di Bitay dan 701 rumah di Lhoknga.

“Bangunan itu dulu sudah dicat oleh Pemerintah Turki, sudah bagus, tapi kemudian ada orang dari Pemerintah Aceh yang tanpa sepengetahuan saya melakukan pengecatan lagi, catnya kurang bagus, hingga kusam seperti sekarang ini. Saya harap pemerintah melalui instansi terkait bisa melakukan pengecatan ulang,” harapnya.

Zulfan Nuris kemudian menunjuk ke sebuah sungai di sisi utara komplek pemakaman. Sungai itu dikenal sebagai Krueng Neng. Melalui sungai itulah dulu orang-orang luar masuk ke Aceh. Bitay pada masa dulu merupakan pusat pendidikan Islam, nama besar Salahuddin ulama besar Aceh asal Turki yang dikenal sebagai Teungku Di Bitay menembus masa hingga sekarang.

“Dari sini juga asal usul Aceh sebagai Serambi Mekkah, orang-orang yang mau naik haji kumpulknya di sini, dan melalui Krueng Neng ini menuju ke Arab Saudi. Sultan Alaiddin Mughayatsyah juga belajar agama di sini pada Teungku Chik Di Bitay, begitu juga dengan Sultan Deli dan Sultan Johor. Aceh pasa masa itu merupakan pusat pendidikan Islam di Asia Tenggara,” tambah Zulfan Nuris.

Baca Juga: Ulama Aceh Pimpin Misi Haji Pertama Republik Indonesia

Zulfan Nuris kemudian mengajak saya masuk ke sebuah rumah di sisi utara area makam. Dalam rumah itu terdapat sebua maket kapal Galey yang dikirim langsung dari Turki ke Aceh. Kapal Galey merupakan kapal besar yang digunakan oleh Kerajaan Aceh untuk memerangi Portugis di Selat Malaka.

Sejarah mencatat Turki bukan hanya membantu perlengkapan perang untuk Aceh, tapi juga mengirim lebih 6.000 tentara untuk membantu Aceh menyerang Portugis di Selat Malaka, hingga armada Portugis kemudian melarikan diri ke Goa. “Tentara-tentara Turki yang syahid dalam perang dikuburkan di sini. Ada sepuluh komplek kuburan tentara Turki di Aceh, salah satunya di sini,” ungkap Zulfan Nuris.

Pernah ketika rombongan dari Turki membawa maket kapal Galey yang kemudian dipajang di rumah dalam komplek makam Teungku Chik Di Bitay, Zulfan Nuris menjemputnya di Bandara Sultan Iskandar Muda. Menariknya ia menjemputnya dengan becak.

Kepada rombongan ia bilang pulang dengan becak. Orang-orang Turki itu tersenyum, “Bapak jalan kaki pun kami akan ikut,” kata orang Turki tersebut kepadanya. Mobil voojrider polisi pengawal dan mobil rombongan itu pun mengikuti becaknya dari bandara hingga ke Bitay.

Baca Juga: Sejarah Raja Siak Sultan Syarif Kasim Mencari Perlindungan ke Aceh

Kali lain Zulfan Nuris menjemput pejabat tinggi dari Jakarta yang akan ziarah ke makam Teungku Chik Di Bitay. Hal yang sama juga terjadi, ia tidak naik mobil pejabat, tapi mengendari sepeda motornya. Karena pejabat tinggi yang datang jalan di sekitar ditutup.

Zulfan Nuris dengan santai mengendarai sepeda motornya di depan mobil pengawal. Tapi saat hampir sampai ke makam, ia dihentikan oleh polisi. “Akhirnya polisi itu juga bermasalah dengan atasanya,” kenang Zulfan Nuris sambil tersenyum.

Begitulah Zulfan Nuris, meski posisinya sebagai khadam makam Teungku Chik Di Bitay membuatnya punya hubungan dengan beberapa pejabat Turki di Indonesia, ia tidak menggunakannya untuk meraup keuntungan pribadi. Ia ingat pesan gurunya. “Pesan Abu Ulee Titi agar tidak meminta, tapi kalau dikasih ambil,” tegasnya.

Ketika saya tanyakan apa kendalanya selama merawat dan menjawa makam tersebut. ia hanya berkata, “Mesin pemotong rumput saya rusak, makanya Anda lihat tadi si sisi barat kuburan rumputnya sudah tinggi, karena belum sempat saya potong,” jawabnya sambil menghisap rokok dan menghembus asapnya pelan.[]