BANDA ACEH – Ketua Majelis Pimpinan Pusat Partai Adil Sejahtera (MPP-PAS), Tgk. H. Tu Bulqaini Tanjungan, menyebutkan, kehadiran PAS sebagai partai lokal pada pemilihan umum 2024 mendatang sebagai ajang pertaruhan di dalam politik Aceh.

Tu Bulqaini menyampaikan hal tersebut ketika portalsatu.com/ mengunjungi kediamannya, di Banda Aceh, Senin 16 Januari 2023.

Menurut pimpinan Dayah Markaz Al-Islah Al-Aziziyah itu, kehadiran PAS menjadi penentu bagi kedaulatan dan harkat martabat Aceh ke depan. Di samping untuk bersanding dengan partai lokal (parlok) lainnya di Aceh demi kepentingan Aceh bersama.

“Jadi, kehadiran PAS bukan untuk menyaingi atau menjadi ancaman bagi partai lokal lain, tetapi lebih kepada pemersatu,” katanya.

Tu Bulqaini juga meminta kepada rakyat Aceh untuk beristikharah sebelum memberikan hak pilih pada pemilu 2024 mendatang. Hal itu penting sebagai wujud demokrasi.

“Bila partai PAS ini benar-benar hadir untuk memperbaiki segala persoalan umat, maka kita berharap Allah SWT mengabulkannya,” ungkap Tu Bulqaini.

Tujuan hadirnya PAS, urai Tu Bulqaini, adalah untuk memperbaiki semua bidang kehidupan rakyat Aceh, yang sudah sepatutnya hidup layak sesuai dengan kesepahaman di Helsinki tahun 2005 yang kini belum terjalankan dengan baik.

Keberadaan PAS, tutur Tu Bulqaini, bukan untuk melawan parlok-parlok yang telah ada. PAS hadir untuk menjadi sesuatu yang dapat bekerja sama dan membantu parlok-parlok lama untuk membanyakkan jumlah kursi partai lokal di parlemen.

“Tujuan PAS untuk membanyakkan jumlah kursi partai lokal di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK) dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sebagai nilai tawar politik dengan pemerintah RI. Itulah tujuan PAS sebenarnya,” selanya.

Demi tercapainya tujuan hidup yang layak, berakhlakul karimah, bersyariat dan berdaulat, kata Tu Bulqaini, maka penting bagi rakyat Aceh untuk memilih partai lokal.

PAS, Partai yang Diinisiasi Para Ulama

Partai PAS, sebut Tu Bulqaini, merupakan partai lokal yang lahir dari pemikiran bersama. Partai ini, murni lahir dari rahim para ulama dengan tujuan dasar untuk memperbaiki persoalan Aceh yang kini serupa titi yang putus.

Dengan kondisi politik Aceh hari ini, para ulama telah sepakat terjun langsung ke dalam politik untuk memperkukuh kekuatan politik lokal sebagai nilai tawar di Jakarta.

“Kali ini, ulama wajib mengambil alih tampuk politik Aceh, persoalan Aceh semakin hari makin darurat,” imbuhnya.

Selain itu, Tu Bulqaini menyebutkan, bila ada para pihak yang mengatakan ulama tak boleh berpolitik, maka pihak tersebut cacat nalar. Sebab, persoalan Aceh hari ini memang sudah selayaknya dituntaskan oleh para ulama.

“Kini saatnya PAS memperbaiki semua sendi kehidupan umat dan persoalan Aceh yang telah begitu darurat akhlak,” urainya.

Ia menyebutkan, yang menjadi pencetus utama lahirnya PAS adalah para sesepuh, ulama-ulama tertua di Aceh. Sebagai pelanjut semangat, dirinya hanya menjalankan amanah dari para alim ulama tersebut untuk menjadi nahkoda partai lokal tersebut.

Awalnya Bukan PAS, tapi Partai Aceh Darussalam

Semulanya, kata Tu Bulqaini, para ulama telah menyepakati nama yang cocok untuk partai lokal Aceh ini dengan nama Partai Aceh Darussalam (PAD), tetapi nama itu beberapa kali ditolak oleh Kemenkumham RI (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia).

Ia menguraikan, karena waktu pendaftaran terlalu mendesak, maka lahirlah partai PAS. Itu nama yang ditawarkan oleh Kemenkumham RI.

“PAS, bukan diadopsi dari nama Persatuan Aceh Serantau (PAS) yang bermarkas di Jakarta. Tetapi murni lahir dari Kemenkumham RI,” paparnya.

Bilapun, tambah Tu Bulqaini, masih banyak yang berpikir bahwa partai PAS merupakan pencatutan dari nama Persatuan Aceh Sarantau. Namun, itu tak menjadi masalah, sebab tujuannya berbeda.

Tidak Didominisasi oleh Kalangan Dayah Semata

Tu Bulqaini menyebutkan, PAS bukanlah partai politik yang sistemnya monarki dan tertutup. Kehadiran PAS murni untuk rakyat dan terbuka untuk kalangan apapun.

Di struktur kepengurusan sendiri, sebut Tu Bulqaini lagi, partai PAS diisi oleh beragam latar profesi, mulai dari ulama, akademisi, seniman, politikus, pengusaha, pegiat sosial, maupun tokoh masyarakat.

“PAS ini terbuka untuk siapa saja, tetapi yang namanya partai politik pasti ada tahapan seleksinya. Kita menerima siapapun yang berkeinginan untuk bergabung, baik pensiunan TNI-Polri, eks kombatan GAM, pengusaha, dosen, tokoh masyarakat dan sebagainya,” tandasnya.

Ia menuturkan, siapa saja boleh bergabung dengan PAS, asalkan jangan mantan pejabat koruptor dan toke sabu-sabu, atau orang-orang yang pernah terlibat kejahatan.

“PAS tidak seluruhnya didominasi oleh kalangan dayah. Para ulama kita hanya menjadi nasihin (penasehat) saja. Mereka menjadi tumpuan kita untuk mencari petunjuk dan penyelesaian terhadap persoalan yang dihadapi,” katanya lagi.

Persiapan Mengikuti Pemilu pada 2024

Sebagai partai baru, PAS terus berusaha sebaik mungkin untuk menghadapi pemilihan umum pada 2024 mendatang. Sampai kini, PAS masih berupaya memperkenalkan diri pada khalayak umum.

“Belum semua lapisan masyarakat tahu dengan kehadiran PAS, maka sampai saat ini PAS masih mengenalkan dirinya,” pungkasnya.

Di samping itu, sebut Tu Bulqaini, PAS juga tengah dalam proses menjaring bacaleg (bakal colan legislatif), baik tingkat Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK) maupun Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Dalam persoalan menjaring bacaleg, tambah Tu Bulqaini, PAS tentu tak menutup diri. Pihaknya berupa membuka diri untuk siapapun dan kalangan apapun.

“Bila masyarakat telah mempercayakan beberapa tokoh untuk memikul amanah sebagai bacaleg tersebut, maka PAS siap menerima dan menyambutnya. Tokoh masyarakat boleh mengusulkan bacaleg di daerah masing-masing,” tegasnya.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.