“Saya mengundurkan diri dari pengurus MPU Kota Banda Aceh karena ingin fokus di partai. Apalagi ini mau mendekati tahapan pencalonan caleg,” kata Tu Bulqaini Tanjoengan.
KETUA Majelis Pimpinan Pusat Partai Adil Sejahtera (MPP-PAS) Tgk. H. Tu Bulqaini Tanjungan, telah mengundurkan diri dari wakil ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh.
Pengunduran itu, diakui Tu Bulqaini ketika disembangi Portalsatu.com, Jumat malam, 10 Februari, di kantor MPPA-PAS, di Banda Aceh.
Menurut pimpinan Markaz Al-Islah Al-Aziziyah itu, pengunduran dirinya dari wakil ketua MPU Kota Banda Aceh murni karena ingin fokus pada partai politik lokal (parlok) yang kini tengah digawangi.
“Saya mengundurkan diri dari pengurus MPU Kota Banda Aceh karena ingin fokus di partai. Apalagi ini mau mendekati tahapan pencalonan caleg,” kata Tu Bulqaini.
Tu Bulqaini menuturkan, dalam aturan MPU, pengurus tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Apalagi dirinya sekarang adalah seorang pimpinan partai lokal di Aceh.
“Saya mundur karena berbenturan dengan aturan MPU. Dalam MPU tidak boleh terlibat politik praktis. Tak etis juga, sebab di MPU saya menerima gaji dari pemerintah,” ucapnya.
Tu Bulqaini memaparkan, suatu yang tak mungkin bila dirinya tak mengundurkan diri dari kepengurusan MPU. Di mana, di sana dirinya menerima honorarium dari pemerintah.
“Han mungken, karena na digaji le pemerintah. Meunyoe hana lon tubiet, beurarti lon pajoh ata hana beutoi cit. Seubab ka sibok bak partai. (Tidak mugkin, karena digaji oleh pemerintah. Bila tidak mundur, berarti saya saya makan hal yang tidak benar. Sebab sedang sibuk di partai,” ungkapnya.
Artinya, sambung Tu Bulqaini, itu ibaratnya serupa memakan gaji buta. Mengambil hak atas apa yang tidak dikerjakan. Itu sangatlah berbenturan dengan misi PAS yang tujuan luhurnya untuk perbaikan.
“Dalam dua hari ini, saya sudah resmi mengundurkan diri, supaya lebih efektif bekerja untuk PAS,” paparnya.
Partai PAS Lahir dari Silaturahmi Ulama-ulama
Partai PAS lahir dalam dari hasil (Silaturrahmi ulama seluruh Aceh) Suwa, pada 2021, dari Silaturahmi itulah, kata Tu Bulqaini, dalam pertemuan tersebut lahir beberapa rekomendasi atau amanah.
“Salah satunya, ulama-ulama sepakat untuk memperbaiki kondisi perpolitikan di Aceh,” ujarnya.
Selain itu, sebut Tu Bulqaini, setelah menelaah, cara yang efektif menjawab persoalan itu adalah dengan mendirikan sebuah partai baru yang jelas-jelas berangkat dari gerakan dayah.
Sehingga, sambungnya, para ulama-ulama dalam silaturahmi itu sepakat untuk mendirikan sebuah partai politik lokal. Maka, lahirlah bernama PAS (Partai Adil Sejahtera).
Hari ini, akui Tu Bulqaini, para ulama memerintah dirinya untuk menahkodai Partai PAS. Jadi, atas nama perintah para ulama, tak mungkin bagi dirinya untuk menolak, apalagi mengelak.
“Perintah wajib dilaksanakan, apapun risikonya,” tutur Tu Bulqaini.
Ia menyebutkan, salah satu risiko menjadi pimpinan partai PAS, harus mundur dari kepengurusan MPU, malah dari posisi wakil ketua MPU kota Banda Aceh.
Kondisi Partai PAS Saat Ini
Alhamdulillah, tutur Bulqaini, di daerah-daerah (kabupaten/kota) partai PAS mulai dilirik dan diminati banyak kalangan. Bahkan sudah dalam proses tahapan penjaringan bakal calon legislatif (bacaleg).
Beriringan itu, sebut Tu Bulqaini lagi, pada 22 Februari tahun ini. Partai PAS akan membuat acara pertemuan di Makam Malikussaleh, Aceh Utara.
“Semacam syukuran, atas wujud syukur kita. Semoga dapat mengambil berkat, sempena atau simpeuna dan tafaul,” imbuhnya.
Sejauh ini, tambah Tu Bulqaini lagi, di daerah-daerah banyak kalangan yang ingin bergabung. Namun, yang perlu diketahui oleh masyarakat, pencetus Partai PAS ini adalah para alim ulama. Mereka hanya mencetuskan dan memantaunya.
Ia menjelaskan, Partai PAS tidak dikhususkan untuk para santri, kalangan dayah, atau teungku-teungku semata. Partai ini terbuka untuk umum.
“Silakan bergabung. Namun, dipastikan yang bergabung berakidah ahlussunnah wal jamaah,” timpalnya.
Lebih lanjut, Tu Bulqaini mengajak seluruh elemen rakyat Aceh untuk membantu Partai PAS pada pemilu 2024 mendatang.
“PAS bukan untuk mengalahkan partai-partai politik lokal yang telah ada. Tapi fokus bersinergi dan berusaha untuk memaksimal jumlah kursi parlok di parlemen,” tukasnya.
Di samping itu, Tu Bulqaini menegaskan, tidak mungkin untuk membangun Aceh hanya dengan satu parlok saja. Maka, dengan adanya parlok yang lahir dari kekhususan Aceh, perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin.
“Sejauh ini, di daerah-daerah banyak tokoh yang sudah bergabung. Ada dari kombatan GAM, pengusaha, bahkan beberapa politisi yang dulunya aktif sebagai pengurus partai nasional,” tutupnya.
Terbuka, Tapi Tidak Asal-Asalan
Sejauh ini, Tu Bulqaini menerangkan Partai PAS memang terbuka untuk siapa saja. Namun, tidak asal-asalan dalam merekrut kader.
Misalnya, pensiunan pejabat, mesti tahu dia lepas dari masalah korupsi selama berjabat. Pun, bukan orang yang pernah tersandung kasus hukum. Begitu pula dengan para pengusaha yang hendak bergabung ke PAS.
“Pengusaha yang jelas latar belakangnya, jangan toke sabu. Kita tidak akan terima itu,” katanya.
Di lain pihak, keluh Tu Bulqaini, beriring berjalannya partai PAS ini, masih menjadi dilema bagi dirinya. Bagaimana nantinya partai yang ia wadahi ini diterima oleh semua kalangan.
Sebagai pimpinan dayah, yang berpandangan terbuka, Tu Bulqaini secara mudah menjawab pertanyaan Portalsatu.com, terkait masalah pembangun dayahnya yang selama ini dibangun dengan dana pokok pikiran anggota dewan dari berbagai partai.
Ia mengatakan, bila nantinya tak ada bantuan atau pokir (Pokok pikiran; Uang atau Dana Otonomi Khusus Aceh-DOKA-atau Uang Otsus—yang penempatannya dapat ditunjuk oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota di Aceh)–untuk kelanjutan pembangunan dayahnya, bukanlah suatu kendala.
“Ini tidak menjadi masalah. Dalam hidup kita harus punya sikap, jangan plin-plan. Apalagi sekaliber pimpinan dayah,” urainya.
Siapapun politisi, tegas Tu Bulqaini lagi, tentu akan memandangnya berseberangan, sebab, ia sekarang merupakan seorang pimpinan partai.
“Tak usah takut tak diberikan pokir lagi. Tujuan kita karena Allah. Pun, apapun pembangunan di dayah, sifatnya dana pemerintah, bukan milik individu politisi,” tuturnya lagi.
Dengan demikian, PAS sebagai partai yang berlatar belakang dayah, mengajak semua elemen untuk sama-sama menuju perbaikan. Terbuka pola pandang, dan tak perlu takut pada hal-hal yang sifatnya sementara.[]
Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.






