ACEH UTARA — Di Aceh, adat bukan sekadar aturan, melainkan panduan hidup yang meresap dalam setiap sendi masyarakat, termasuk dalam hal perkawinan. Salah satu tradisi yang kaya makna adalah Tueng Dara Baroe, prosesi penjemputan pengantin Perempuan dara baro oleh keluarga mempelai pria, yang bukan hanya formalitas, tetapi sarat filosofi dan simbol kebersamaan keluarga.
Secara bahasa, “tueng” berarti menerima atau menjemput, sedangkan “dara baro” merujuk pada pengantin perempuan. Prosesi ini menegaskan tulusnya keluarga linto baro dalam menerima pengantin perempuan sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Jika dilewatkan, keluarga dara baro bisa merasa tersinggung, seolah anak gadis mereka tidak diterima dengan sepenuh hati.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Sebelum berangkat, dara baro mengenakan baju pengantin adat Aceh lengkap dengan perhiasan yang memukau tusuk sanggul, patham dhoi (mahkota), anting, prik-prik, bunga melati, hingga berbagai gelang, cincin, dan hiasan pinggang. Ia juga melakukan seumah bak tuoet, sujud di lutut orang tua sebagai simbol izin dan restu untuk memulai kehidupan baru.
Keluarga dara baro menyiapkan idang bawaan, yaitu talam besar berisi kue tradisional Aceh seperti Meuseukat, Dodoi, Wajek, Bungong Kayee, Boi Eungkot, dan Keukarah. Kue-kue ini ditutup dengan sangee, tudung saji dari daun nipah yang dihias kain berwarna-warni, lalu dilapisi ija seuhap, kain persegi berwarna kuning emas dengan motif khas Aceh. Kini, kue bolu hias juga sering ditambahkan sebagai sentuhan modern.
Saat menuju rumah suami, dara baro dipayungi payung kuning oleh teman sejawatnya, berdiri di belakang tokoh adat perempuan gampong yang membawa ranub bate. Setibanya di rumah mempelai pria, prosesi sambut dilakukan dengan bertukar ranub bate dan payung kuning, sementara idang bawaan ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan.
Suasana menjadi sakral dan meriah. Tarian adat Aceh, lantunan shalawat, dan sambutan hangat menyambut rombongan di gerbang rumah. Dara baro kemudian dipandu masuk melalui tangga yang ditaburi breuh padee (beras padi) dan bungong rampoe, simbol keberkahan dan kesejahteraan. Di pelaminan, pengantin perempuan disandingkan dengan mempelai laki-laki, menandai diterimanya ia sebagai bagian keluarga baru.
Setelah perjamuan, berlangsung peusunteng dara baro, prosesi penyambutan oleh ibu mertua. Dara baro juga melakukan seumeumah, menandakan penerimaan penuh pada ibu mertuanya. Di momen ini, diberikan teumeuntuk dan seuneurah jaroe (cincin) sebagai hadiah simbolik.
Tradisi lama menuntut dara baro menginap di rumah suami selama tiga hari tiga malam, sebelum dijemput kembali ke kampungnya oleh tokoh adat perempuan dan keluarga. Pihak linto baro biasanya menyiapkan jamuan makan bagi rombongan, sekaligus memberi hadiah berupa lembu atau kerbau betina, kambing, ayam, hingga peralatan rumah tangga sebagai simbol kasih sayang dan sambutan hangat.

Tueng Dara Baroe bukan sekadar ritual. Ia adalah simbol persatuan, cinta, dan penghormatan keluarga. Setiap elemen dari payung kuning, kue tradisional, hingga alunan shalawat mengajarkan nilai kebersamaan, hormat, dan keberkahan. Tradisi ini membuktikan bahwa adat Aceh bukan hanya masa lalu, tetapi tetap hidup, menuntun generasi muda untuk menghargai akar budaya dan menjaga harmoni keluarga.
Tueng Dara Baroe: Tradisi Aceh yang Menjadi Magnet Wisata
Di Aceh, adat bukan sekadar aturan, tetapi jiwa budaya yang hidup. Salah satu tradisi yang kini menarik perhatian wisatawan adalah Tueng Dara Baroe, prosesi penjemputan pengantin perempuan atau dara baro oleh keluarga mempelai pria. Lebih dari sekadar ritual perkawinan, upacara ini kini dijadikan atraksi budaya dalam promosi pariwisata Aceh.
“Tueng” berarti menjemput, sedangkan “dara baro” adalah pengantin perempuan. Prosesi ini menegaskan tulusnya keluarga mempelai pria dalam menerima pengantin perempuan sebagai bagian dari keluarga besar. Dari payung kuning yang mengiringi dara baro, hingga ranub bate dan hiasan breuh padee (beras padi) serta bungong rampoe di tangga rumah, setiap detail sarat simbol keberkahan dan kesejahteraan.
Menurut Teuku Muhammad Aidil, S, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, tokoh adat setempat, prosesi ini tidak hanya menampilkan kemegahan adat, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan dan penghormatan keluarga kepada setiap orang yang menyaksikannya.
Dalam konteks pariwisata, keindahan pakaian adat, perhiasan tradisional, dan kue-kue khas Aceh menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dapat menyaksikan talam berisi kue tradisional seperti Meuseukat, Dodoi, Wajek, dan Bungong Kayee, lengkap dengan hiasan sangee dan ija seuhap, yang memikat mata.
Beberapa desa dan komunitas adat kini menggelar Tueng Dara Baroe sebagai atraksi terbuka untuk wisatawan, lengkap dengan penjelasan filosofi dan sejarah di balik tradisi. Pengunjung bisa melihat langsung bagaimana dara baro dibimbing masuk ke rumah mempelai pria, disandingkan di pelaminan, dan menerima hadiah simbolik dari ibu mertua.
Aceh mempromosikan tradisi ini sebagai bagian dari wisata halal, menekankan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung. Atraksi budaya ini memungkinkan wisatawan menikmati keindahan tradisi Aceh dengan suasana islami, mulai dari pakaian sopan, tata cara prosesi, hingga kuliner khas halal.
Tak hanya menarik wisatawan domestik, Tueng Dara Baroe juga menjadi daya tarik bagi pelancong mancanegara yang ingin merasakan budaya Aceh yang autentik, dari tarian adat, musik tradisional, hingga sajian kuliner khas pengantin Aceh.
“Tueng Dara Baroe bukan sekadar tontonan. Ia adalah warisan budaya yang hidup dan kini menjadi wajah pariwisata Aceh,” Teuku Muhammad Aidil, S, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Rabu, 13 Mei 2026
Dengan mengintegrasikan tradisi ini ke dalam paket wisata, Aceh tidak hanya menonjolkan destinasi alam dan kuliner, tetapi juga nilai-nilai budaya dan religius yang membuat setiap pengalaman wisata lebih bermakna.
Atraksi ini membuktikan bahwa pariwisata Aceh bukan sekadar tentang keindahan alam, tetapi juga tentang cerita, filosofi, dan pengalaman budaya yang unik, yang meninggalkan kesan mendalam bagi setiap wisatawan. [adv]








