BANDA ACEH – Seniman Aceh yang pernah menjabat sebagai Ketua bidang pendidikan dan kebudayan Dewan Perwakilan Wilayah Partai Perindo Aceh, Cut Ratnawati, singgung terkait peran perempuan dalam politik Aceh.
Ditemui portalsatu.com/, Kamis 19 Januari 2023, di Banda Aceh, politisi perempuan yang juga seniman Aceh itu mengatakan, dirinya mulai terjun ke politik ketika partai Perindo Aceh dipimpin oleh Tgk. H. Muharuddin (mantan Ketua DPR Aceh).
“Tapi, untuk saat ini saya belum bisa mengakui diri sebagai pengurus Perindo Aceh, sebab ketuanya sudah berganti,” ujarnya.
Menurut Cut Ratna, hampir di semua partai politik (parpol), perempuan selalu diposisikan pada tempat yang tidak layak. “Kapasitas dan kualitas perempuan selalu diragukan oleh partai yang pengurusnya didominasi oleh politisi laki-laki,” katanya.
Perempuan yang akrab disapa Cut Ratna ini menilai, selama ini parpol-parpol di Aceh cenderung meletakkan kader perempuan pada posisi yang tak begitu penting (tidak strategis). Seharusnya, perempuan diposisikan pada tempat-tempat dan devisi-devisi inti (bidang-bidang strategis).
“Perempuan sesama perempuan harus mendukung. Ketika ada perempuan yang maju sebagai calon anggota legislatif, justeru sebagai perempuan, kita memilih perempuan. Sebab parlemen wajib diisi 30% atau lebih oleh kaum hawa,” jelasnya.
Di samping itu, bila nantinya perempuan terpilih menjadi anggota dewan, maka wajib merangkul rakyat, terutama kaum perempuan, juga memperjuangkan semua kepentingan rakyat.
Tokoh Perempuan dalam Politik
Sejauh ini, perempuan Aceh tak dapat dipandang rendah dalam dunia politik. Sebab, sudah ada politisi-politisi perempuan yang mengisi parlemen dan menjadi wakil rakyat, baik tingkat provinsi maupun pusat, seperti Illiza Sa’adudin Djamal, Darwati A Gani dan masih banyak lagi.
“Saya berharap, ke depannya masih banyak lagi perempuan yang menjadi anggota dewan, supaya aspirasi perempuan ada yang menyuarakannya,” ujarnya.
Cut Ratna juga menilai, selama ini bila ada politisi perempuan untuk maju sebagai calon anggota DPR, terkesan dihambat-hambat oleh partai politik tempat mereka bernaung.
Sebenarnya, tambah Cut Ratnawati, hal ini jangan lagi dirawat menjadi momok yang menakutkan. Sehingga banyak perempuan, khususnya kaum muda apatis terhadap politik.
“Kita meminta kepada setiap pengurus partai (laki-laki), berilah kesempatan kepada perempuan untuk ikut partisipasi dalam bursa calon anggota DPR,” pintanya.
Ia mengakui, perempuan hanya bisa berkeluh kesah sesama perempuan. Jadi, bila nantinya semakin banyak perempuan yang terpilih menjadi anggota dewan, maka berkemungkinan besar persoalan kaum hawa akan tersuarakan di parlemen.
“Perempuan pasti akan saling mendukung. Bila sama dewan laki-laki, sulit untuk berkeluh kesah. Pasti enggan, susah untuk bertemu,” paparnya.
Sebagai seorang perempuan yang tergabung dalam Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Aceh, Cut Ratna berharap kepada semua parpol di Aceh, baik partai nasional maupun partai lokal untuk memprioritaskan perempuan pada pemilu 2024 mendatang.
Namun, sebagai seorang seniman, Cut Ratna bukanlah kader baru dalam politik. Ia mengakui, pada 2000-an telah berkecimpung dalam politik praktis. “Ketika itu saya menjadi anggota Partai Demokrat Aceh, karena kesibukan dan lain hal, jadi tak begitu fokus di politik,” katanya.
Secara pribadi, Cut Ratna mengatakan, bila nanti dirinya direkomendasi untuk maju sebagai calon anggota legislatif, hal utama yang akan ia lakukan adalah dengan mengakomodir segala persoalan yang menimpa kaum perempuan.
“Bagaimana perempuan tidak dilecehkan, tidak disemena-menakan. Tentunya, aktivitas kita sebagai perempuan harus lebih tertonjol (nampak),” imbuhnya.
Sebab, sambung Cut Ratna, selama ini perempuan tak begitu aktif di ranah publik. Harusnya, lebih kreatif dan ekspresif dalam menonjolkan kerja-kerja di lapangan.[]
Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.







