Memasuki triwulan I tahun 2021, investasi di Aceh diperkirakan akan sedikit menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Deselerasi pada triwulan I-2021 tersebut diperkirakan sejalan dengan pola historis dan terdapat kemungkinan penundaan beberapa proyek konstruksi dampak refocusing anggaran. Selain itu, terdapat kecenderungan pelaku usaha wait and see keberhasilan langkah pemerintah dalam menurunkan penyebaran pandemi melalui vaksinasi masal diperkirakan menahan pertumbuhan komponen investasi pada triwulan I-2021.

Ekspor Luar Negeri

Ekspor luar negeri Provinsi Aceh pada triwulan IV-2020 tercatat terkontraksi -30,09% (yoy), meningkat dibandingkan dengan kontraksi triwulan sebelumnya yang lebih dalam pada angka -30,63% (yoy). Secara kelompok barang, pertumbuhan didorong meningkatnya nilai ekspor dan tonase komoditas batubara. Pada triwulan laporan realisasi ekspor secara nominal dan tonase berturut-turut tumbuh pada laju 11,84% (yoy) dan 20,49% (yoy). Sedangkan pada periode sebelumnya, secara nominal mengalami kontraksi -9,13% (yoy) dan secara tonase hanya tumbuh 1,95% (yoy).

Pinang yang merupakan salah satu komoditas ekspor utama mengalami peningkatan realisasi ekspor dari sebelumnya di triwulan III-2020 tumbuh 12,32% (yoy) menjadi 16,53% (yoy) pada periode laporan. Meskipun meningkat, pada triwulan laporan ekspor luar negeri masih mengalami kontraksi -30,09% (yoy). Dengan laju tersebut, ekspor luar negeri Aceh memberikan andil negatif sebesar -0,98% terhadap kinerja ekonomi Aceh secara keseluruhan pada triwulan IV-2020.

Secara keseluruhan tahun 2020, komponen ekspor luar negeri mengalami penurunan yang signifikan dibanding kinerja tahun 2019. Hal tersebut dipengaruhi adanya pandemi COVID-19 yang menyebabkan berbagai negara di dunia mengambil kebijakan untuk melakukan lockdown, sehingga jalur distribusi barang dan jasa terganggu yang pada akhirnya mengurangi volume perdagangan antardunia.

Menurunnya tingkat perdagangan tersebut diikuti melemahnya harga berbagai komoditas, termasuk komoditas ekspor andalan Aceh, yakni batubara dan kopi. Di sisi lain, kebijakan yang dikeluarkan Menteri Energi dan Mineral India (sebagai importir terbesar batubara dari Aceh) untuk mulai mengutamakan penggunaan batubara hasil produksi dalam negeri dibandingkan dengan batubara impor semakin menekan kinerja ekspor luar negeri Aceh pada tahun 2020.

Memasuki triwulan I-2021, pertumbuhan ekspor luar negeri Aceh diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Faktor utama yang diprediksi akan mendorong ekspor luar negeri Aceh pada triwulan I-2021 adalah semakin membaiknya mayoritas perekonomian negara di dunia pascakontraksi yang cukup dalam di tahun 2020 diperkirakan akan mendorong permintaan komoditas dunia, termasuk di antaranya komoditas ekspor luar negeri unggulan Aceh, seperti batubara dan kopi arabika.

Lebih lanjut, adanya pemblokiran/restriksi impor batubara asal Australia ke Tiongkok membuka peluang peningkatan impor batubara Tiongkok dari negara lainnya, di antaranya Indonesia. Potensi peningkatan harga komoditas CPO pada triwulan I-2021 diperkirakan juga dapat menjadi faktor pendorong ekspor pada triwulan I-2021.

Impor Luar Negeri

Komponen impor luar negeri pada triwulan IV-2020 tercatat terkontraksi -61,88% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -94,65% (yoy). Total barang yang diimpor Aceh dari luar negeri pada triwulan IV 2020 tercatat sebesar USD16,44 juta, atau meningkat dibandingkan periode sebelumnya di level USD2,84juta. Secara kelompok barang, peningkatan tersebut utamanya disebabkan peningkatan impor kelompok barang mesin/pesawat mekanik pada triwulan laporan, khususnya pada November 2020 dengan nilai Cost, Insurance and Freight (CIF) impor sebesar USD12,30 juta.

Selanjutnya, kinerja impor barang pada kelompok hasil tambang dalam bentuk gypsum mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada periode laporan. Secara triwulanan, terdapat pertumbuhan nominal impor sebesar 103,77% (yoy) pada periode laporan, setelah sebelumnya hanya tumbuh 0,40% (yoy). Komoditas yang menjadi bahan baku semen ini mengalami peningkatan impor utamanya pada Desember 2020. Dengan peningkatan impor tersebut, maka impor luar negeri Aceh memberikan kontribusi positif sebesar 0,93% terhadap kinerja ekonomi Aceh secara keseluruhan.

Secara keseluruhan tahun 2020, komponen impor luar negeri mengalami deselerasi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi adanya pandemi COVID-19 yang menyebabkan berbagai negara di dunia mengambil kebijakan untuk melakukan lockdown, sehingga jalur distribusi barang dan jasa terganggu yang pada akhirnya mengurangi volume perdagangan dunia. Selain itu, perkiraan terdeselerasinya kinerja berbagai lapangan usaha di Aceh secara keseluruhan tahun 2020 pun diperkirakan akan mengurangi kebutuhan barang impor.

Pada triwulan I-2021, impor luar negeri diproyeksikan akan meningkat. Prediksi akselerasi komponen impor luar negeri pada periode triwulan I sejalan dengan kemungkinan berangsur membaiknya kegiatan/aktivitas perekonomian baik di domestik maupun di luar negeri. Normalisasi aktivitas/kegiatan tersebut pada akhirnya diperkirakan akan meningkatkan proses perdagangan dan distribusi barang antarwilayah/negara.

Lebih lanjut, proyeksi adanya peningkatan realisasi belanja pemerintah khususnya belanja modal berpotensi meningkatkan impor minyak aspal (Petroleum Bitumen).