Net Ekspor Antardaerah
Defisit neraca ekspor antardaerah Provinsi Aceh membaik. Pada triwulan IV-2020, defisit neraca ekspor antardaerah tercatat terkontraksi -26,65% (yoy), turun signifikan dibanding periode sebelumnya yang tumbuh mencapai 13,48% (yoy). Pada triwulan IV-2020, defisit neraca ekspor antardaerah Aceh tercatat Rp4,45 triliun (ADHK), menurun dibandingkan rata-rata triwulan IV tiga tahun terakhir dimana defisit tercatat sebesar Rp6,28 triliun.
Penurunan defisit tersebut sejalan dengan meningkatnya harga CPO sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor antardaerah dari Aceh.
Lebih lanjut, secara volume pun ekspor antar daerah dari Aceh mengalami peningkatan, tercermin dari data muat barang pelabuhan utama di Aceh yang sebelumnya di angka 333,8 ribu ton menjadi sebesar 850,5 ribu ton pada periode laporan.
Dengan defisit yang menurun pada triwulan laporan, maka net ekspor antardaerah Aceh memberikan kontribusi positif sebesar 4,72% terhadap kinerja ekonomi Aceh secara keseluruhan pada triwulan IV-2020. Hal tersebut membuat net ekspor antardaerah menjadi komponen utama yang menahan perlambatan kinerja ekonomi Aceh untuk terdeselerasi lebih dalam pada periode laporan dari sisi permintaan.
Secara tahunan, pada tahun 2020 terdapat penurunan laju pertumbuhan neraca ekspor antardaerah. Penurunan ini disebabkan dengan deselerasi pada kinerja konsumsi dan investasi sehingga realisasi pembeliaan barang yang mayoritas bukan diproduksi di Aceh mengalami penurunan. Daya beli masyarakat yang melemah pada saat pandemi menjadikan masyarakat memiliki kecenderungan untuk menahan pembelian barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier seperti pakaian, kendaraan, elektronoik, dll., yang mayoritas diimpor dari wilayah lain di luar Aceh. Turunnya impor barang-barang tersebut membuat defisit neraca ekspor antardaerah Aceh membaik.
Memasuki triwulan I 2021, defisit ekspor antardaerah Aceh diperkirakan akan kembali meningkat. Perkiraan terdorongnya defisit ekspor antardaerah pada triwulan IV-2020 sejalan dengan perkiraan terakselerasinya kinerja lapangan usaha konstruksi sehingga barang bahan bangunan/konstruksi yang mayoritas bukan diproduksi di Aceh akan diimpor ke Aceh.
Sisi Lapangan Usaha
Dilihat dari sisi lapangan usaha (LU), deselerasi perekonomian Aceh yang lebih dalam pada triwulan IV-2020 dibanding triwulan sebelumnya utamanya disebabkan menurunnya kinerja beberapa lapangan usaha utama, seperti LU pertanian, LU konstruksi, serta LU pertambangan dan penggalian pada periode laporan. Di sisi lain, akselerasi kinerja LU perdagangan mampu menahan penurunan ekonomi Aceh untuk tidak terdeselerasi lebih dalam. Berdasarkan andil perlambatan ekonomi pada triwulan IV-2020, deselerasi disumbangkan utamanya oleh LU transportasi dan perdagangan.
LU Pertanian
Kinerja lapangan usaha pertanian (27,85% dari total PDRB) pada triwulan IV 2020 tercatat tumbuh sebesar 1,29% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada di level 5,66% (yoy). Deselerasi pertumbuhan tersebut utamanya sebagai dampak berakhirnya masa panen raya komoditas pangan (khususnya padi). Selain itu, fenomena La Nina (kondisi cuaca secara umum di Indonesia akan menjadi lebih basah karena curah hujan yang meningkat) menyebabkan banjir dan gagal panen, utamanya di kawasan pantai timur Provinsi Aceh yang juga merupakan sentra pertaniaan.
Lebih lanjut, fenomena perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu air laut dan gelombang di perairan Aceh yang terjadi di akhir tahun pun menekan produksi komoditas perikanan tangkap, baik yang berorientasi domestik maupun ekspor.
Kondisi kinerja lapangan usaha pertanian pada triwulan laporan yang terdeselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya terkonfirmasi dari kontraksi pertumbuhan kredit perbankan pada LU pertanian. Pada triwulan IV-2020, kredit LU pertanian berdasarkan lokasi proyek di Provinsi Aceh mengalami kontraksi sedalam -7,29% (yoy), menurun signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -1,79% (yoy).
Selain itu, berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan pada sektor riil di Provinsi Aceh, penurunan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tenaga kerja pertanian turut mengonfirmasi penurunan LU tersebut.
Secara keseluruhan tahun 2020, LU pertanian mengalami perbaikan dibandingkan kinerja tahun 2019. Meskipun terdapat fenomena kekeringan di awal tahun dan banjir pada akhir tahun 2020, kinerja pertanian masih mampu tumbuh lebih baik pada tahun 2020. Hal tersebut diakibatkan membaiknya harga komoditas kelapa sawit pada tahun 2020. Selanjutnya, peningkatan LU pertanian pada tahun 2020 juga disumbangkan komoditas pinang yang pada tahun 2020 memiliki total ekspor sebesar USD22,97 juta, meningkat signifikan dibandingkan ekspor pada tahun 2019 yang tercatat USD16,56 juta.
Pada triwulan I-2021, lapangan usaha pertanian diproyeksikan akan mengalami peningkatan kinerja dibanding dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut diperkirakan bersumber dari adanya peningkatan kinerja pada sub-lapangan usaha tanaman pangan dan perkebunan.
Pada triwulan I-2021, diperkirakan terjadi peningkatan produksi komoditas padi seiring dengan masuknya masa panen raya pada Maret di wilayah sentra, seperti Bireun, Aceh Besar dan Pidie. Selain padi, komoditas sawit pun diperkirakan turut menjadi akselerator kinerja lapangan usaha pertanian seiring dengan proyeksi perbaikan harga komoditas CPO di pasar internasional, sehingga akan turut mendorong harga komoditas kelapa sawit sebagai bahan baku.
Berdasarkan tracking hingga akhir Februari 2021, harga komoditas CPO di pasar internasional secara rata-rata di triwulan I-2021 mencapai USD933,87 per MT, meningkat dibandingkan rata-rata harga di triwulan sebelumnya yang berada pada level USD821,73 per MT.







