LU Perdagangan
Lapangan usaha perdagangan (15,14% dari total PDRB) pada triwulan laporan tercatat terkontraksi -0,02% (yoy), membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -1,26% (yoy). Membaiknya kinerja LU perdagangan tersebut terjadi utamanya sebagai dampak dari aktivitas masyarakat yang mulai meningkat meskipun masih terbatas. Hal tersebut berdasarkan indikator mobilitas yang memperlihatkan bahwa rata-rata tingkat kunjungan masyarakat Aceh ke lokasi retail dan rekreasi (restoran, kafe, pusat perbelanjaan, dll.) membaik, dari sebelumnya di angka -5,51% menjadi hanya sebesar -3,47% dari baseline pada periode laporan.
Selain itu, laporan dimaksud juga melaporkan bahwa rata-rata kunjungan masyarakat Aceh pada triwulan IV-2020 ke lokasi groceries and pharmacy berada di angka 4,73%, lebih baik dibanding dengan periode sebelumnya yang berada di angka 4,47% dari baseline. Periode liburan akhir tahun, sebagai pengganti liburan HBKN Idulfitri, di tengah pembatasan akibat pandemi telah mendorong warga Aceh cenderung memilih menghabiskan waktu di dalam wilayah Aceh. Hal tersebut mendorong LU perdagangan pada triwulan laporan.
Membaiknya kinerja LU perdagangan tersebut terkonfirmasi salah satunya dari angka penjualan kendaraan bermotor beroda empat. Pada triwulan IV-2020, penjualan kendaraan bermotor beroda empat di Provinsi Aceh tercatat mencapai 1.891 unit, lebih tinggi dibandingkan penjualan kendaraan bermotor beroda empat di periode sebelumnya yang hanya sebesar 1.687 unit.
Lebih lanjut, membaiknya kinerja LU perdagangan pun terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia Provinsi Aceh yang menunjukkan adanya peningkatan pada Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk kinerja LU perdagangan dari sebelumnya di angka -2,84 menjadi sebesar 0,02 pada periode laporan.
Namun demikian, secara keseluruhan tahun 2020 LU perdagangan mengalami perlambatan kinerja dan tidak lebih baik dibanding tahun 2019. Hal tersebut sejalan dengan menurunnya aktivitas, kegiatan, dan mobilitas mayarakat pada saat pandemi COVID-19 sebagaimana himbauan untuk stay at home, physical distancing dan kebijakan WFH. Menurunnya aktivitas masyarakat ini berdampak langsung terhadap kinerja berbagai sektor yang pada akhirnya mengurangi pendapatan masyarakat dan melemahnya daya beli.
Pada triwulan I-2021 lapangan usaha perdagangan diperkirakan akan memiliki kinerja lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV-2020. Meskipun diperkirakan konsumsi rumah tangga akan membaik pada triwulan I-2021, perkiraan penurunan kinerja lapangan usaha sejalan dengan terdapatnya baseline effect pada periode yang sama ditahun sebelumnya.
Proyeksi peningkatan belanja masyarakat dan LU perdagangan yang terbatas pada triwulan I-2021 diperkuat dengan rata-rata Indeks Ekonomi Saat ini (IKE) hingga Februari 2021 berada di level 91,24 dan belum mencapai level rata-rata pada triwulan 1 pada 3 tahun sebelumnya. Nilai indeks yang berada dibawah 100 juga menunjukkan persepsi masyarakat yang belum terlampau optimis terkait kondisi ekonomi saat ini yang mempengaruhi perilaku belanja saat ini.
LU Konstruksi
Secara umum pada triwulan IV-2020, kinerja lapangan usaha konstruksi terkontraksi dan mengalami deselerasi dibanding periode sebelumnya. Pada triwulan laporan, lapangan usaha konstruksi terkontraksi sebesar -7,74% (yoy), menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh mencapai 14,59% (yoy).
Perlambatan pertumbuhan LU konstruksi tersebut sejalan dengan perlambatan yang terjadi pada komponen investasi/PMTB dan konsumsi pemerintah yang menjadi sumber permintaan utama LU tersebut. Adanya deselerasi kinerja LU konstruksi tersebut seiring dengan masih terkontraksinya ekonomi yang menyebabkan cash flow perusahaan relatif belum normal sehingga pada akhirnya perusahaan melakukan berbagai strategi dalam pengelolaan keuangan, yang di antaranya adalah menunda beberapa rencana investasi (hasil liaison).
Selain itu, adanya kebijakan refocusing anggaran pemerintah untuk penanggulangan COVID-19 juga turut menahan laju belanja modal pemerintah. Hingga triwulan IV-2020, realisasi belanja modal seluruh pemerintah daerah di wilayah Aceh (Pemprov dan Pemkot/Pemkab) tercatat hanya sebesar Rp4,70 triliun, atau menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai angka Rp5,57 triliun.
Deselerasi yang terjadi pada LU konstruksi pada triwulan IV-2020 tercermin salah satunya dari perlambatan pembiayaan/kredit konstruksi. Pembiayaan/kredit untuk LU dimaksud di Aceh menunjukkan deselerasi dengan tumbuh hanya sebesar 3,71% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 11,82% (yoy). Pertumbuhan tersebut juga tercatat jauh lebih rendah dibanding kinerja pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang tumbuh 31,51% (yoy).
Secara keseluruhan tahun 2020, LU konstruksi tumbuh positif dan lebih tinggi dibandingkan tahun 2019. Hal tersebut utamanya didorong oleh masih berlanjutnya proyek pembangunan jalan tol Banda Aceh-Sigli, PLTA Peusangan, Bendungan Keureuto, serta proyek lainnya di tengah pandemi COVID-19 di tahun 2020. Khusus untuk jalan tol Banda Aceh-Sigli seksi 4, yaitu ruas Indrapuri-Blang Bintang sepanjang 13,5 km telah dioperasikan dan dapat digunakan publik sejak akhir Agustus 2020.
Lapangan usaha konstruksi pada triwulan I-2021 diperkirakan akan tumbuh meningkat dibandingkan periode sebelumnya, meskipun masih terkontraksi. Akselerasi pada periode tersebut diperkirakan didorong oleh peningkatan target realisasi belanja pemerintah daerah diatas rata-rata realisasi triwulan I pada tahun sebelumnya. Selain itu, adanya kelanjutan pembangunan berbagai proyek baik milik pemerintah seperti jalan tol Banda Aceh-Sigli, PLTA Peusangan, Bendungan Keureuto, jalur kereta api Aceh-Sumut, serta proyek swasta seperti pembangunan pabrik NPK (Natrium, Posfor, dan Kalium) di Lhokseumawe, pembangunan pusat perbelanjaan serta penyediaan akomodasi dan makan minum diperkirakan mendongkrak pertumbuhan LU konstruksi pada triwulan I-2021.
LU Transportasi dan Pergudangan
Pada triwulan laporan, kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan (5,41% dari total PDRB) tercatat masih dalam fase kontraksi namun berangsur membaik. Hal tersebut tercermin dari kontraksi yang terjadi sebesar -27,98% (yoy), lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terkontraksi pada angka -30,64% (yoy).
Membaiknya kinerja LU transportasi dan pergudangan utamanya seiring dengan mobilitas masyarakat untuk bepergian ke luar wilayah domisili yang mulai meningkat meskipun masih terbatas. Hal tersebut berdasarkan indicator mobilitas yang memperlihatkan bahwa rata-rata tingkat kunjungan masyarakat Aceh ke lokasi transportasi publik membaik dari sebelumnya di angka -28,88% menjadi sebesar -23,04% dari baseline pada periode laporan. Dengan perbaikan tersebut, lapangan usaha transportasi dan pergudangan tercatat memberikan andil negatif terbesar terhadap kinerja ekonomi Aceh pada periode laporan dengan besar andil -2,04%.
Secara keseluruhan tahun 2020, lapangan usaha transportasi dan pergudangan memiliki kinerja dibawah tahun 2019. Penurunan tersebut terjadi seiring dengan adanya penyebaran pandemi COVID19 yang menyebabkan aktivitas dan mobilitas masyarakat terbatas dalam rangka menghambat penyebaran virus. Hal tersebut sejalan dengan himbauan kepada masyarakat untuk tetap stay at home, WFH, dan melakukan physical distancing. Selain itu, berkurangnya operasional maskapai penerbangan serta adanya pengetatan perbatasan baik antar wilayah (provinsi) atau negara menyebabkan jumlah penumpang transportasi publik menurun signifikan.
Kinerja lapangan usaha transportasi dan pergudangan pada triwulan I-2021 diperkirakan akan terakselerasi. Hal tersebut utamanya didukung oleh perkiraan kembali meningkatnya aktivitas bongkar muat barang baik domestik maupun ekspor/impor yang menjadi salah satu sumber LU transportasi dan pergudangan. Selain itu, terdapat beberapa hari libur pada triwulan I-2020 diperkirakan mampu mendorong permintaan jasa transportasi baik darat, laut maupun udara. (Selengkapnya Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Februari 2021)[](red)








