Proyeksi peningkatan konsumsi rumah tangga pada triwulan I tersebut diperkuat dengan rata-rata Indeks Penghasilan pada periode triwulan I (hingga Februari 2021) yang meningkat ke level 90,71 dari sebelumnya 74,63. Peningkatan optimisme masyarakat akan pendapatan yang meningkat diperkirakan akan diikuti dengan peningkatan konsumsi.

Konsumsi Pemerintah

Kinerja konsumsi pemerintah pada triwulan IV-2020 mengalami kontraksi -22,02% (yoy), lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya yang terdeselerasi -4,57% (yoy).

Realisasi belanja seluruh Pemerintah Daerah di Provinsi Aceh (APBA + APBKab/Kota) pada triwulan IV-2020 tercatat sebesar 80,76% atau setara dengan Rp39,62 triliun. Realisasi tersebut menurun bila dibandingkan realisasi belanja pada periode yang sama di tahun 2019 yang berada di angka 84,35% atau setara Rp41,48 triliun.

Pada level provinsi, terdapat penurunan realisasi dari 91,11% pada triwulan IV-2019, menjadi 76,41% pada triwulan IV-2020. Perlambatan realisasi belanja tersebut utamanya tidak terlepas dari adanya refocusing anggaran pemerintah untuk menanggulangi pandemi COVID-19 serta adanya perubahan prosedur dalam proses realisasi anggaran yang menghambat realisasi belanja daerah.

Secara komponen, melambatnya realisasi belanja pemerintah daerah tersebut utamanya disebabkan penurunan realisasi pada tiga komponen belanja terbesar Pemerintah Daerah Aceh, yakni belanja daerah dan transfer antardaerah. Komponen belanja daerah hingga triwulan IV-2020 terealisasi 83,17% dari total pagu atau menurun dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 85,02%.

Penurunan realisasi belanja pegawai Rp2,89 triliun pada tahun 2020, dibandingkan tahun 2019, menjadi penahan utama pertumbuhan belanja pemerintah daerah. Selanjutnya, realisasi belanja transfer hanya berada di angka 72,23% menurun dibandingkan tahun 2019 yang tercatat terealisasi 83,78% dari pagu belanja transfer tahun 2019.

Secara keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan komponen permintaan konsumsi pemerintah menurun dibandingkan dengan pertumbuhan di tahun 2019. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengubah postur anggaran dalam hal menanggulangi COVID-19 sehingga menyebabkan ruang fiskal pemerintah relatif terbatas. Dana transfer dari pemerintah pusat ke Aceh berkurang Rp1,4 triliun dari pagu awal APBA 2020.

Selain itu, terdapat refocusing anggaran Pemerintah Aceh sebesar Rp1,7 triliun yang didapat dari penundaan dan pembatalan kegiatan-kegiatan perjalanan dinas dan beberapa kegiatan belanja yang belum berjalan pada setiap Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA). Anggaran hasil refocusing tersebut digunakan untuk tiga hal, yaitu penanganan kesehatan dan keselamatan, penyediaan jaring pengaman sosial dan penanganan dampak ekonomi akibat COVID-19.

Pada triwulan I-2021, konsumsi pemerintah diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan konsumsi pemerintah daerah pada triwulan I-2021 seiring dengan rendahnya pertumbuhan pada triwulan IV-2020 (baseline effect).

Faktor pendorong konsumsi pemerintah pada triwulan I berasal dari peningkatan target realisasi pada triwulan I-2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu pada 5,21%. Proses pengadaan yang dimulai lebih dini pada beberapa komponen belanja diperkirakan turut meningkatkan realisasi belanja pada triwulan I-2021.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/Investasi pada triwulan IV-2020, PMTB/investasi di wilayah Aceh terkontraksi -1,72% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya capaian pertumbuhan tercatat 1,60% (yoy). Adanya deselerasi kinerja investasi tersebut seiring dengan masih terkontraksinya ekonomi yang menyebabkan cash flow perusahaan relatif belum normal sehingga pada akhirnya perusahaan melakukan berbagai strategi dalam pengelolaan keuangan, di antaranya menunda beberapa rencana investasi (hasil Liaison).

Selain itu, adanya kebijakan refocusing anggaran pemerintah untuk penanggulangan COVID-19 juga turut menahan laju belanja modal pemerintah. Hingga triwulan IV-2020, realisasi belanja modal seluruh pemerintah daerah di wilayah Aceh (Pemprov dan Pemkot/Pemkab) tercatat hanya Rp4,70 triliun, atau menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,57 triliun.

Perlambatan pertumbuhan investasi tersebut tercermin dari angka pengadaan semen di Aceh pada triwulan IV-2020 yang terkontraksi -12,53% (yoy), turun signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mampu tumbuh 5,09% (yoy). Dengan kinerja tersebut, komponen PMTB/investasi tercatat memberikan kontribusi terhadap kinerja ekonomi Aceh secara keseluruhan pada periode laporan sebesar -0,61%.

Secara keseluruhan tahun 2020, komponen investasi masih tumbuh positif, meskipun menurun dibandingkan tahun 2019. Hal tersebut utamanya didorong masih berlanjutnya proyek pembangunan jalan tol Banda Aceh-Sigli, PLTA Peusangan, Bendungan Keureuto, serta jalur kereta api Aceh-Sumut di tengah pandemi COVID-19. Jalan tol Banda Aceh-Sigli seksi 4 ruas Indrapuri-Blang Bintang sepanjang 13,5 km telah diresmikan Presiden dan dapat digunakan publik sejak akhir Agustus 2020 serta seksi 3 yang pembangunannya telah selesai dan menunggu sertifikasi layak operasi.