Konsumsi Rumah Tangga

Pada triwulan IV-2020, konsumsi rumah tangga yang memberikan andil -2,43% terhadap kinerja perekonomian Aceh tercatat mengalami kontraksi -4,45% (yoy) atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan periode sebelumnya yang hanya terkontraksi -1,82% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga utamanya disebabkan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung sehingga kebijakan pemerintah dan pihak swasta untuk penerapan Work From Home (WFH), maupun pembatasan jam kerja pegawai masih berlanjut, sehingga pada akhirnya berdampak pada penurunan permintaan secara agregat. Selanjutnya, deselerasi konsumsi rumah tangga juga dipengaruhi pendapatan masyarakat yang berkurang sebagai akibat dari kebijakan pihak swasta untuk merumahkan sementara atau melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada pegawainya di tengah aktivitas bisnis yang menurun pada masa pandemi COVID-19.

Data dari Kementerian Tenaga Kerja dan BPJS Tenaga Kerja menunjukkan sejak awal tahun hingga Oktober 2020 di Aceh terdapat 7.449 usaha informal yang terdampak/gulung tikar/kehilangan usaha, 4.267 orang tenaga kerja dirumahkan, sementara 3.942 orang lainnya mengalami PHK.

Perlambatan konsumsi rumah tangga turut disebabkan dampak kontraksi yang terjadi pada komponen konsumsi pemerintah di periode laporan. Hal tersebut dikarenakan perekonomian Aceh masih cukup bergantung pada konsumsi pemerintah yang terlihat dari distribusinya terhadap keseluruhan ekonomi yang mencapai 24,75%, sehingga penurunan konsumsi pemerintah berdampak pada penurunan konsumsi masyarakat/rumah tangga.

Melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada periode laporan tercermin dari deselerasi kredit konsumsi yang pada triwulan laporan tercatat terkontraksi -1,76% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya mampu tumbuh 3,39% (yoy). Penurunan signifikan yang terjadi pada Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) menjadi salah satu faktor utamanya.

Secara keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan komponen permintaan konsumsi rumah tangga terkontraksi serta melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun 2019.

Pandemi COVID-19 menyebabkan kinerja lapangan usaha secara umum banyak mengalami penurunan yang berdampak pada kebijakan pelaku sektor riil untuk merumahkan karyawan dan PHK, sehingga berdampak negatif terhadap daya beli masyarakat. Ditambah lagi, pada kondisi ekonomi yang sulit, konsumsi pada HBKN di tahun 2020 tidak setinggi pola historisnya karena masyarakat cenderung menahan belanja, terutama untuk konsumsi barang tahan lama.

Lebih lanjut, larangan dan pembatasan aktivitas mudik pada HBKN Idulfitri, pengurangan hari libur cuti bersama oleh pemerintah serta pengurangan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) serta gaji ke-13 yang terbatas hanya pada eselon III ke bawah juga menjadi faktor penahan kinerja konsumsi rumah tangga pada keseluruhan tahun 2020.

Memasuki triwulan I 2021, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Aceh diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Beberapa faktor yang diproyeksikan mengakselerasi laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga di antaranya perbaikan harga berbagai komoditas seperti CPO, kopi, dan batubara yang berada dalam tren kenaikan, sehingga diperkirakan akan menopang pendapatan petani dan/atau berpotensi mendorong pendapatan ekspor.

Selain itu, aktivitas belajar-mengajar pada berbagai jenjang yang telah kembali dimulai pada awal triwulan I-2021 meningkatkan aktivitas masyarakat dan diperkirakan mampu meningkatkan permintaan secara agregat. Target realisasi konsumsi pemerintah yang lebih tinggi pada awal tahun diperkirakan juga berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2021.