Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaBerita LhokseumaweJaksa Tetapkan Direktur...

Jaksa Tetapkan Direktur PT Rumah Sakit Arun Lhokseumawe Tersangka Dugaan Korupsi, Ditahan di Lapas

LHOKSEUMAWE – Penyidik Kejaksaan Negeri Lhokseumawe akhirnya menetapkan Direktur PT Rumah Sakit Arun Lhokseumawe (RSAL), Hariadi, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pada pengelolaan PT RSAL tahun 2016-2022. Jaksa penyidik langsung menahan tersangka Hariadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe.

Hariadi ditetapkan menjadi tersangka setelah beberapa kali menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Penetapan tersangka disampaikan Kajari Lhokseumawe, Lalu Syaifudin, S.H., M.H., didampingi Kasi Intelijen Therry Gutama, S.H., M.H., dan Kasi Pidsus Saifuddin, S.H., M.H., saat konferensi pers di kantornya, Selasa, 16 Mei 2023, sore.

“Perlu disampaikan informasi lanjut terkait hal ini bahwa kemarin (Senin) telah dilakukan penyitaan terhadap sejumlah uang (Rp4,7 miliar). Kemudian, hari ini, setelah melakukan penyidikan yang cukup panjang, dan juga sudah melakukan gelar perkara, maka kita memutuskan untuk menetapkan seorang tersangka dalam perkara tindak pidana korupsi PT Rumah Sakit Arun, yaitu Saudara H sebagai Direktur PT Rumah Sakit Arun Lhokseumawe, yang juga merangkap selaku (mantan) Direktur Keuangan pada PTPL atau Perusda (Perusahaan Daerah) Kota Lhokseumawe,” kata Lalu Syaifudin.

Kajari menyebut setelah ditetapkan sebagai tersangka, penyidik melakukan penahanan terhadap Hariadi di Lapas Kelas IIA Lhokseumawe. “Teman-teman penyidik beserta pengawal tahanan sudah mengantar yang bersangkutan (tersangka) ke Lapas tersebut. Kemudian, sebagian sudah meneruskan perintah dan berita acara penahanan kepada keluarga tersangka,” ujarnya.

Menurut Kajari, sebenarnya hari ini (Selasa) tiga orang saksi yang dipanggil untuk diperiksa. Satu orang, yaitu Hariadi sudah ditetapkan sebagai tersangka. Saksi kedua yang dipanggil hari ini adalah mantan Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, dan saksi ketiga bekas Direktur Rumah Sakit Arun Lhokseumawe Syahruddin.

“Yang hadir hanya dua orang. Satu tidak hadir yaitu mantan Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya. Sampai saat ini kita tidak mendapatkan konfirmasi apa alasan ketidakhadirannya. Ini bukan panggilan pertama, karena dulu pernah dilakukan pemeriksaan. Ini mau pemeriksaan lanjutan, tetapi beliau (Suaidi) tidak hadir,” ungkap Kajari.

“Kemungkinan pasti ada tersangka lain itu. Siapa, tunggu tanggal mainnya. Sejauh ini ada sekitar 17 saksi yang sudah diperiksa,” tambah Kajari lagi.

Kajari mengimbau secara tegas siapapun yang memiliki aset bersumber dari dugaan kasus korupsi ini agar dengan sukarela mengembalikan. “Jika itu tidak dilakukan, maka jaksa penyidik punya cara untuk melakukan upaya paksa. Apakah itu bentuknya dilanjutkan penggeledahan dengan penyitaan atau lainnya,” ujar Lalu Syaifudin.

Menurut Lalu Syaifudin, pihaknya juga telah menugaskan tim untuk menuju titik yang menurut hasil pemeriksaan tempat itu diduga sebagai lokasi dilakukannya dugaan tindak pidana korupsi, yaitu tempat disembunyikan atau menyimpan dokumen-dokumen penting yang ada hubungannya dengan kasus itu.

Sebelumnya diberitakan, penyidik Kejari Lhokseumawe kembali memanggil Direktur PT RSAL, Hariadi, untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebagai saksi kasus dugaan korupsi, Selasa, 16 Mei 2023. Jaksa penyidik juga memanggil mantan Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, untuk diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi pada pengelolaan PT RSAL tahun 2016-2022 itu.

Hariadi yang merupakan Direktur PT RSAL tahun 2016-2023, dan Direktur Keuangan Perusahaan Daerah Pembangunan Lhokseumawe (PDPL)/PT Pembangunan Lhokseumawe (Perseroda) atau PTPL periode 2016-2021, memenuhi panggilan penyidik, Selasa (16/5), pagi. Sampai Selasa siang, Hariadi masih menjalani pemeriksaan di Kantor Kejari Lhokseumawe.

Sedangkan Suaidi Yahya, kabarnya sampai pukul 12.00 WIB, Selasa (16/5), belum memenuhi panggilan alias tidak datang ke Kantor Kejari Lhokseumawe. Padahal, menurut satu sumber, penyidik memanggil Suaidi untuk datang ke Kantor Kejari Lhokseumawe pada Selasa, pukul 09.00 WIB.

Kasi Intelijen Kejari Lhokseumawe, Therry Gutama, dikonfirmasi portalsatu.com via telepon, Selasa (16/5), siang, membenarkan penyidik telah melayangkan surat panggilan kepada mantan Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, untuk diperiksa sebagai saksi kasus tersebut, Selasa (16/5), pagi. “Dipanggil sebagai saksi. Tapi, dia sampai saat ini (Selasa siang) belum datang, dan tanpa konfirmasi (kepada penyidik) mengapa dia tidak hadir,” ungkap Kasi Intelijen Kejari Lhokseumawe itu.

Ditanya apakah penyidik akan menunggu kedatangan Suaidi Yahya sampai Selasa sore, atau diagendakan kembali jadwal pemeriksaan untuk diperiksa sebagai saksi, Therry Gutama mengatakan, “Kalau dia enggak datang, kita agendakan (lagi jadwal pemeriksaan) satu-dua kali ke depan. Kalau enggak (datang juga), ya, itu ada tindakan hukum yang harus dilakukan”.

Baca: Jaksa Panggil Mantan Wali Kota Lhokseumawe dan Direktur PT Rumah Sakit Arun Untuk Diperiksa

Sementara itu, penyidik Kejari Lhokseumawe menyita uang sebagai barang bukti kasus dugaan korupsi pada pengelolaan PT Rumah Sakit Arun tahun 2016 sampai 2022 senilai Rp4.757.739.472, Senin, 15 Mei 2023. Total barang bukti kasus dugaan korupsi tersebut yang diamankan Kejari menjadi Rp7,8 miliar, setelah PTPL mengembalikan uang Rp3.178.400.000 kepada jaksa penyidik, Jumat, 5 Mei 2023. Setelah penyitaan, uang itu disimpan di Rekening Pemerintah Lainnya (RPL) pada Bank Syariah Indonesia (BSI) di Lhokseumawe.

Baca: Lagi, Jaksa Sita Uang Rp4,7 Miliar Terkait Kasus PT Rumah Sakit Arun Lhokseumawe

Tim penyidik Kejari Lhokseumawe juga telah menggelar rapat koordinasi bersama tim auditor membahas hasil audit kerugian negara dalam kasus tersebut. Menurut Therry Gutama, dalam kurun waktu 2016-2022, PT RS Arun Lhokseumawe mendapat pendapatan mencapai Rp341.003.762.789.

“Dalam rapat terakhir pada Selasa (09/05/2023), menurut hasil audit yang dilakukan oleh auditor, kerugian negara yang timbul akibat kasus tersebut mencapai Rp43 miliar,” ungkap Therry Gutama dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu, 10 Mei 2023. Auditor dimaksud adalah auditor Inspektorat Kota Lhokseumawe.[](nsy)

Baca juga: