Dian Maulita membenarkan ia membantu mempromosikan martabak Azmi, selain mengizinkan tinggal di tokonya. “Iya, saya mengizinkan mereka tinggal bersama Munawir di tempat (toko) saya, apalagi Ulul Azmi ini anak yatim. Kehidupan mereka cukup menyedihkan. Saya lihat sendiri, adonan itu sampai mereka buang, dan mereka berjualan sampai jam dua malam. Pernah tutup karena tidak punya modal lagi,” tuturnya kepada portalsatu.com/.
“Malam itu saya tidak tega lagi, makanya inisiatif saya, saya foto mereka dan saya upload di IG (Instagram). Setelah itu saya tag semua selebgram di Kota Banda Aceh, dan orang penting khususnya agar mereka dapat mempromosikan dagangan Ulul Azmi,” tambah Dian Maulita.
Dian bersedia membantu lantaran merasa bangga dengan Azmi dan abangnya yang dinilai sangat rajin. “Saat tidak berjualan martabak, mereka membantu ibu saya di rumah membuat kue, dikasih uang jajan, cukuplah untuk makan dan minumnya,” ujar dia.
“Yang membuat saya salut, mereka ingin sukses agar secepatnya dapat mengirimkan uang untuk ibunya di kampung,” ucap Dian.
Kini martabak dan roti canai Azmi mulai laris. Dia berharap bisa mengembangkan usaha kecil itu. “Kalau ditanya harapan saya, mudah-mudahan ada yang mau memperbaiki rak ini dan dapur untuk goreng martabak. Coba abang lihat sendiri raknya masih pakai kayu, dapur kecil tidak cocok untuk goreng martabak,” ujar Azmi.
Azmi bersama abangnya terus berusaha di perantauan demi membantu ibunya yang sekarang menjadi buruh tani di kampung. Selain berjuang keras, Azmi tak lupa beribadah dan berdoa, sesuai pesan ibunya saat berangkat dari Aceh Utara ke Kutaraja. “Pesan ibu saya: ‘ingat neuk, yang bek tinggai sembahyang, dan bek cok ata gob adak hana peng. Tanyoe harus tamita raseuki yang haleu (ingat, nak, jangan tinggal salat, dan jangan mencuri meski tidak ada uang. Kita harus mencari rezeki yang halal)’,” kata Ulul Azmi menirukan ucapan ibunya.[]
(Zulfikri)




