Razi lantas berjualan martabak di kampungnya, sekitar tahun 2018. Razi dibantu Azmi menggunakan sebuah rak dan becak mesin pemberian abang iparnya untuk menjajakan martabak ke sekolah-sekolah di seputaran kampungnya. Saat ini, abang ipar Razi dan Azmi (suami Eka Riah) bekerja mengoperasikan mesin penggiling padi keliling yang menggunakan motor.

“Pertama berjualan di kampung, tidak begitu laku. Akhirnya setelah lebaran puasa tahun 2020, kami merantau ke Banda Aceh. Dalam hati saya saat itu, Banda Aceh adalah salah satu tempat kami mencari uang lebih,” kata Azmi.

Gadai sawah

Azmi dan Razi berangkat ke Kutaraja menggunakan becak mesin pemberian abang iparnya itu. Rak yang digunakan saat menjual martabak di kampungnya ikut dibawa ke Ibu Kota Provinsi Aceh. “Untuk modal kami, ibu kasih uang 2 juta dari hasil gadai sawah di kampung,” ujar Azmi sambil menggoreng martabak.

Di Banda Aceh, mulanya mereka menjual martabak dan roti canai di kawasan Ulee Lheue. “Kami memilih Ulee Lheue pertama karena kan tempat wisata yang saya dengar-dengar. Tetapi rupanya di kawasan itu angin kencang. Jadi rak dan payung kami terbang dibawa angin. Laku juga kurang di sana, karena kami hanya mampu membuat cane dan martabak. Pedagang lain di Ulee Lheue jual bakso goreng,” tutur Azmi.

Azmi dan abangnya kemudian pindah ke Blang Padang. “Kadang laku, kadang tidak, hanya cukup untuk makan dan bayar lapak. Kadang-kadang untuk modal besok tidak ada, karena cane ini tidak bisa disimpan kalau tinggal (tersisa). Apalagi kami tidak ada kulkas, kalau tidak laku terpaksa kami buang adonannya, besok keluarin modal lagi untuk belanja seperti tepung dan bahan lainnya. Kalau ditanya laku, ya, hari tertentu saja seperti hari Sabtu dan Minggu,” ungkapnya.

Ketika itu, Azmi dan Razi tinggal di sebuah kontrakan. “Pertama di Banda Aceh kami sewa rumah di daerah Punge dengan uang yang dikasih ibu saat berangkat dari kampung. Uang itu, sebagian untuk modal (berjualan martabak dan roti canai), sebagian bayar sewa rumah. Kami kasih panjar 1 juta. Kami berjanji untuk melunaskan dalam waktu dekat, karena kami berharap di Banda Aceh ini adalah tempat yang cocok untuk kita berjualan. Tetapi, ternyata dagangan kami kadang laku, kadang tidak, kadang-kadang hanya cukup untuk bayar lapak saja sekitar 20 ribu,” ujar Azmi.

(Foto: portalsatu.com/Zulfikri)

Gadai becak

Mereka berjualan di Blang Padang sampai kehabisan modal lantaran dagangannya kurang laku. Mengetahui kondisi tersebut, Munawir (26 tahun), yang satu kampung halaman dengan Azmi dan Razi, mengajak dua bersaudara itu pindah ke Peukan Bada, Aceh Besar, sekitar tiga bulan lalu. Munawir sudah lebih lama merantau, bekerja pada Toko Maulita menjual pakaian wanita dan grosir seprai di Peukan Bada.

“Bang Munawir yang membawa saya ke Peukan Bada ini. Beliaulah yang peduli kepada saya selama di rantau. Pertama berjualan di Peukan Bada modal kami tidak ada lagi, ditambah uang kontrakan sudah jatuh tempo untuk bayar. Kami mau pinjam kemana-mana tidak mungkin lagi, karena takut tidak sanggup bayar. Akhirnya, kami memutuskan untuk gadai becak, satu-satu harta kami. Kami gadai becak 2 juta. Uang itu, kami bayar kontrakan 1 juta, dan 1 juta lagi untuk modal jualan di Peukan Bada,” tutur Azmi.

Azmi melanjutkan, “kontrakan itu kami ambil dalam jangka satu tahun, dan kami sudah menetap sekitar enam bulan. Kata Bang Munawir, ‘kalian bayar saja uang sewa itu untuk enam bulan’. Beliau mengatakan, ‘untuk sementara awak droekeuh tinggai dile bak abang, enteuk jeut abang sampaikan bak toke abang. Awak drokeuh meukat manteng di daerah nyoe, becak pih hana le, jadi peudong manteng inoe (untuk sementara Razi dan Azmi bisa menumpang tinggal bersama abang/Munawir, nanti disampaikan/minta izin kepada tauke/pemilik toko tempat abang bekerja. Kalian jualan di sini/Peukan Bada saja, tempatkan gerobak martabak di sini)’. Kami pun mengiyakan tawaran orang kampung kami itu”.

Peudeh that

Munawir membenarkan hal itu. “Memang ureung nyoe dua peudeh that udep (kehidupan mereka sangat memprihatinkan). Ulul Azmi kalau tidak salah saya putus sekolah sekitar tahun 2018 masa dia SMP (tidak melanjutkan ke SMA). Abangnya juga hanya tamatan SMP, jadi silakan orang menilai bagaimana kehidupan mereka,” ucap dia kepada portalsatu.com/.

“Mereka tiga bersaudara: kakaknya, abangnya (Razi), dan yang terakhir Ulul Azmi. Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Ibunya, alhamdulillah sehat, pekerjaannya petani di kampung,” ujar Munawir.