Para Ulama Aceh di Mekkah berhasil menginternasionalkan perang Aceh dengan Belanda. Konsulat Belanda di Jeddah kemudian mengawasi jamaah haji asal Aceh, doa-doa orang Aceh pun diperdebatkan.

Pemerintah Kolonial Belanda beranggapan bahwa pertemuan jamaah haji asal Aceh beserta beberapa ulama Aceh yang bermukim di Mekkah, bukan hanya pertemuan biasa yang membicarakan persoalan ibadah, tapi juga pertemuan politik. Orang-orang Aceh berhasil memperoleh dukungan dan simpati dari berbagai kalangan. Mereka mendukung gerakan perang sabil di Aceh.

Akibatnya, pada 12 September 1890, Wakil Pemerintah Belanda di Jeddah memberitahukan  atasannya Menteri Luar Negeri Belanda di Den Haag bahwa ulama-ulama Aceh sering mengirim surat-surat berbahasa Arab kepada berbagai perwakilan negara muslim di Arab, mereka meminta dukungan dalam perang melawan Belanda.

Baca Juga: Teungku Chik Di Bitay dan Jejak Turki di Aceh

Penulis Belanda E Gobee dan C Adriaanse dalam buku Nasihat-Nasihat C Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, mengungkapkan, Kosulat Belanda di Jeddah kemudian memata-matai pergerakan orang Aceh di Mekkah karena doa-doa dan aktivitas politik mereka di Arab.

Bagi Belanda, doa-doa dari Arab itu memberikan aspek politik yang sangat penting bagi perjuangan rakyat Aceh. Dari Mekkah berita tentang perang Aceh kemudian tersebar ke seluruh dunia muslim.

Belanda menyebutkan, doa-doa yang dipanjatkan oleh para ulama di Mekkah itu sebagai ajakan untuk mendukung Aceh dalam perang melawan Belanda. Ini juga bagian dari politik ulama Aceh dalam menyiarkan masalah perang Aceh ke dunia internasional.

Di Mekkah, sekumpulan orang Aceh yang mengumpulkan uang untuk membayar sepuluh orang ulama membacakan doa-doa dan hadis Nabi Muhammad SAW melalui kitab dua perawi hadis, Bukhari dan Muslim dicurigai oleh Konsul Belanda di Jeddah, H Spakler.

Alasannya mereka membacakan hadis-hadis tentang kewajiban jihad fisabilillah dan keutamaannya, yang oleh Belanda disebut sebagai pematik nafsu perang orang Aceh. Belanda merasa itu sebagai sebuah spirit yang ditularkan dari Arab ke Aceh.

Apa lagi para jamaah haji Aceh itu kemudian mendapatkan kertas-kertas berisi tulisan-tulisan dan doa-doa untuk keselamatan dan kemenangan dalam medan perang.  Inilah yang kemudian menjadi asal mula sebab Belanda mendata setiap orang Aceh yang naik haji dan pulang dari Arab.

Namun Christian Snouck Hurgronje mengaku tak tahu pasti apa yang dilakukan orang Aceh di Mekkah itu, sehinga ia meminta kepada Pemerintan Belanda melalui Menteri Daerah Jajahan untuk mengizinkannya melakukan penelitian lebih lanjut.

Baca Juga: Laksamana Malahayati Membunuh Cornelis de Houtman

Surat Rahasia Snouck Hurgronje

Perdebatan tentang doa orang Aceh di Mekkah itu ditulis oleh Snouck Hurgronje dalam rubrik Ilmu-Ilmu Agama tanggal 24 Oktober 1890 dan tanggal 28 April 1891. Pada pembukaan suratnya Snouck Horgronje menulis.

Dengan menyampaikan kembali kiriman Pemerintah No.930 dan No.931 rahasia tertanggal 22 Oktober 1890, maka saya dengan segala hormat, berdasarkan kiriman Pemerintah yang pertama, mengemukakan catatan yang mungkin dapat digunakan untuk memenuhi permintaan Konsul di Jeddah untuk mendapat keterangan lebih lanjut.

Menurut Gobee, dokumen rahasia yang dimaksud dalam pembukaan surat Snouck Hurgronje tersebut, merupakan sebuah nota dari Konsul Belanda di Jeddah tanggal 12 September 1890. Nota itu ditujukan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Buitenzorg (Bogor). Nota tersebut berkaitan dengan doa-doa yang diucapkan di Mekkah oleh para ulama yang memohon bantuan Allah SWT kepada orang Aceh dalam perang melawan Belanda.

Gobee melanjutkan, saat itu orang-orang Aceh yang bermukim di Mekkah, ketika menerima berita tentang perang Aceh melawan Belanda, mereka membuat berbagai usaha untuk membantu Aceh lepas dari mara bahaya perang.

Dengan perantara seorang tokoh Aceh yang sudah lama bermukim di Mekkah, yakni Tuanku Muhammad Saleh, terkumpul dana dari orang-orang Aceh di Mekkah sekitar 300 dolar. Dana itu kemudian diberikan kepada para ulama terkemuka untuk menyampaikan ceramah, petuah-petuah dan doa-doa untuk kemenangan Aceh dalam setiap peperangan.

Sekumpulan orang Aceh yang mengikuti cermah-ceramah tersebut diberikan kertas-kertas berisi doa dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dari kumpulan hadis dua perawi terkenal, Bukhari dan Muslim. Ceramah dan pembacaan kitab-kitab agama berlangsung sebulan dua kali di rumah Syekh Abdul Gani Aceh.

Ada sepuluh ulama terkemuka yang diundang oleh orang Aceh untuk berceramah dan pengajian berbagai kitab, salah satunya Hasan Bin Jahar Allail. Namun dalam tahun-tahun selanjutnya, jumlah orang Aceh yang naik sangat berkurang, hal ini kemudian menjadi tanda tanya besar bagi Konsul Belanda di Jeddah, H Spakler.

Pendapat Konsul Belanda di Jeddah, H Spakler dan kekhawatirannya terhadap kumpulan orang Aceh dan doa-doanya itu kemudian dibantah dan diperdebatkan oleh Christian Snouck Hurgronje.  Menurut Snouck orang Aceh di Mekkah berkumpul untuk belajar pada ulama-ulama yang mereka undang untuk membaca kitab-kitab tertentu, tidak ada hubungannya dengan situasi perang di Aceh.

Baca Juga: Ulama Aceh Pimpin Misi Haji Pertama Republik Indonesia

Meski demikian keberadaan orang Aceh di Mekkah tetap menjadi perhatian Pemerintah Belanda. Ketika Konsul Belanda di Jeddah digantikan dari H Spakler kepada JB van der Houven van Oordt, penelitian lebih lanjut tentang orang-orang Aceh di Arab dilakukan atas saran Christian Snouck Hurgronje.

Untuk kepentingan penelitian tersebut Belanda memperkerjakan seorang ilmuan Indonesia bernama Raden Abu Bakar Djajadiningrat. Ia diangkat sebagai penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi.

Berdasarkan hasil penerlitian tersebut Konsul Belanda di Jeddah, JB van der Houven van Oordt menyatakan pendapat H Spakler konsul sebelumnya di Jeddah sudah benar, nasehat Christian Snuock Hurgronje yang salah tentang keberadaan orang Aceh dan doa-doanya di Arab Saudi. Artinya ia mengakui memang ada gerakan politik dan keagamaan orang Aceh di Mekkah untuk membantu perjuangan Aceh berperang melawan Belanda.

JB van der Houven van Oordt kemudian pada 6 Januari 1891 mengirimkan hasil penelitain tersebut kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Buitenzorg (Bogor). Dan keberadaan orang-orang Aceh yang bermukim di Mekkah terus mendapat pengawasan dari Konsul Belanda.[]