27 C
Banda Aceh
Minggu, Oktober 17, 2021

Kritik Dokarim Kepada Belanda Dalam Hikayat Prang Kompeuni

Abdul Karim alias Dokarim, sastrawan Aceh pada masa kolonial, mengkritik kebijakan Gubernur Militer Belanda di Aceh Jenderal Van Der Heyden dalam hikayat Prang Kompeuni.

Dalam hikayat Prang Kompeuni tersebut Dokarim mengolok-ngolok siasat politik dan kegagalan Belanda di Aceh. Dokarim juga menggambarkan berbagai situasi politik dan peperangan yang terjadi di Aceh. Menariknya, Dokarim mengawali hikayat Prang Kompeuni dengan menggambarkan sebuah konspirasi elite di Belanda yang ingin menjajah Aceh.

Kemudian hikayat Prang Kompeuni karya Dokarim ini juga dibahas penulis Belanda HC Zentgraaf dalam buku Atjeh yang diterbitkan di Batavia oleh Koninklijke Drukkerij De Unie. Redaktur surat kabar Java Bode itu menerjemahkan tulisan Dokarim ke dalam bahasa Belanda. Salah satunya bagiannya seperti kutipan di bawah ini.

Baca Juga: Rakyat Aceh Menjarah Logistik Jepang

Nu brak een driejarig tijdperk van rust aan, waarin de eenoogige Generaal zijne veroveringen bevestigde. De Radja Moeda; Tuanku Moehammad, spande alle krachten in om de hoofdplaats en Oelee Lheue tot welvaart te bregen, en dit gelukte hem zoowel, dat de allerwegen gevluchte bevolking in niet te stuiten stroomen naar de hoofdplaats kwam en zich metdekafirs verbroederde.

Het was, als leefde men voortdurend in feesten; groot voordeel werd met den handel behaald, vergeefs trachtten onze krijgsoversten nog volk te vinden dat hen wilde volgen. Alles ging den eenoogigen Koning hulde brengen.

Toen de Eenoogige Generaal weg was, eindigde rust. De dappere strijder. Teuko Asam, nog zeer jong, vroeg in Pidie aan zijn veder, Teukoe Radja, die derwaarts was gevlucht, verlof om de Kompeuni te gaan bestoken; gaarne gaf deze hem den ouderlijken zegen op dat vrome wek.”

Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti di bawah ini.

Kini menjelma masa tenang yang berlangsung selama tiga tahun di mana jenderal bermata sebelah itu mengkonsolidasikan penaklukannya. Tuanku Raja Muda; Teuku Muhammad berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendatangkan kesejahteraan bagi ibu kota Ulee Lheu, dan usaha ini menampakkan hasilnya, di mana penduduk yang tadinya lari meninggalkan kota, kini kembali berbondong-bondong tidak bisa dibendung, ke ibu kota dan mereka hidup bersaudara dengan kafir-kafir itu. seakan-akan orang hidup dalam suasana pesta yang terus menerus.

Dalam perdagangan memberikan keuntungan-keuntungan yang besar, dan panglima-panglima perang kita sia-sia untuk mencari anak buah yang mau mengikutinya. Semua ini membawa penghargaan dan rasa hormat kepada jenderal bermata sebelah itu.

 Ketika Jenderal bermata sebelah itu pergi, berakhirlah ketenangan itu. Teuku Asam pejuang muda yang pemberani dan masih muda itu, mohon izin dari ayahnya Teuku Raja Pidie, yang sementara itu sudah lari ke sana, untuk menyerang Kompeuni, dan ayahnya memberi restu terhadap usaha suci tersebut.

Baca Juga: AJI Minta Presiden Cegah Penyingkiran 57 Pegawai KPK

Versi Asli Hikayat Prang Kompeuni

Versi aslinya berbahasa Aceh yang ditulis Dokarim dalam Hikayat Prang Kompeuni tentang kekacauan persiapan Belanda untuk menyerang Aceh dengan ribuan bala tentaranya. Imajinasinya jalan hingga ke Eropa ketika hikayat itu ditulis di Banda Aceh dalam keadaan huru-hara peperangan.

Setelah menceritakan persiapan Belanda untuk menyerang Aceh, selanjutnya Dokarim juga berkisah tentang persiapan Aceh menghadapi agresi Belanda. Dokarim menghidupkan tokoh utama dalam hikayat ini, seseorang bernama Abdul Risyad sebagai juru bicara kerajaan Aceh.

Tokoh Abdul Risyad digambarkan sebagai orang yang alim, seorang orator ulung, yang ditugaskan untuk berdakwah mengajak rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda. Tetang itu Dokarim menulis:

Bandum kasiap alat seunjata / Geupreh Holanda pajan troh datang / Abdul Risyad nyang peugah haba / Ayat neubaca fireuman Tuhan / Nyang keuh wahee po beuna neupike.

Fireuman Rabbi meunan meusabda / Sibeurangkasoe geujak prang sabi / Luduoe Tuhan bri balah syuruga / Dalam syuruga nekmat han sakri / Budiyadari geubri keu gata / Budidadari tadeungo long kheun / Na tamse buleuen limpah cuaca

Mitseu ceureumen kulet di badan / Soe-soe nyang pandang silala mata / Watee geutanyoe tamasok lam prang / Bandum gata nyan dalam syuruga / Rata bak jaroe dengan bee-beewan / Badum neupeutron dalam syuruga / Ureung nyang syahid dalam prang sabi / Budiyadari keunan troh teuka

 Jitajo mandum meureungkhom-reungkhom / Hajeut takalon meutarek hila / Deungon pakaian bandum bak asoe / Han peu peureunoe aneuk syuruga.

Baca Juga: Pesan Mualem Pada Pelantikan KONI Gayo Lues

Selanjutnya pada 26 Maret 1873, Belanda memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh. Dan pada 6 April 1973 pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Jenderal Kohler mencoba mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Uleelheu, Banda Aceh. Perang pun meletus.

Dokarim dalam hikayat Prang Kompeuni menggambarkan gegap-gempita perang tersebut. Meski sempat masuk ke daratan Aceh hingga ke Masjid Raya Baiturahman, agresi pertama Belanda ke Aceh itu gagal total. Jenderal Kohler sendiri tewas ditembak pejuang Aceh di halaman masjid tersebut.

Pada bait-bait selanjutnya Do Karim juga menggambarkan berbagai peristiwa perang lainnya, setelah agresi kedua Belanda ke Aceh. Seperti peristiwa dalam masa Teungku Chik Di Tiro memegang tampuk pimpinan perjuang Aceh, bagaimana Panglima Abah salah seorang panglima perang Aceh meminta izin pada Teungku Chik Di Tiro untuk membawa pasukannya ke medan perang. Tapi sayangnya, naskah utuh dari hikayat ini kini sangat susah didapat.[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Alhamdulillah, Kafilah Subulussalam Juara Umum MQK Tingkat Provinsi Aceh

SUBULUSSALAM - Kafilah Kota Subulussalam berhasil meraih juara umum pada event Musabaqoh Qiraatil Kutub...

Ini Respons Kuasa Hukum Dinas PUPR Soal Gugatan Rekanan Gedung Kesenian Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Dinas PUPR Lhokseumawe belum memberikan penjelasan soal belum dibayarnya sisa pekerjaan 25...

Babak Kualifikasi Musabaqah Qiraatil Kutub II Aceh Tuntas

BANDA ACEH – Babak kualifikasi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK)-II Aceh yang digelar di Kompleks...

Kemal Attaturk Dinilai Tidak Pantas Dijadikan Nama Jalan di Indonesia

BANDA ACEH – Rencana pemerintah menabalkan nama tokoh sekuler Turki Kemal Attaturk sebagai nama...

Aceh Hari Ini: Rakyat Aceh Rebut Perusahaan Numora Jepang

Pada 16 Oktober 1945, perusahaan perkebunan Jepang, Numora yang mengelola sembilan perkebunan besar di...

Rekanan Pembangunan Gedung Kesenian Lhokseumawe Tahap II Gugat Dinas PUPR ke Pengadilan

LHOKSEUMAWE - Wakil Direktur III CV Muhillis & Co., Rustam (58), melalui kuasa hukumnya,...

Aceh dan Sumut Bersiap Helat PON 2024

PAPUA – Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, diwakili Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, bersama Gubernur Sumatera...

Pengacara Warga Krueng Luas Minta Polisi Tetapkan Bupati Aceh Selatan Sebagai Tersangka

BANDA ACEH - Muhammd Reza Maulana, S.H., kuasa hukum atau pengacara Jasman HR., warga...

Jabatan Keuchik Gampong Paya Bilie Lhokseumawe Lowong

LHOKSEUMAWE - Jabatan Keuchik Gampong Paya Bilie, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, lowong. Pasalnya,...

‘Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa Mangkrak Bisa Mencoreng Institusi Kejaksaan’

LHOKSEUMAWE – Pemerhati hukum, Muji Al-Furqan, S.H., turut menyoroti Kejaksaan Negeri Lhokseumawe yang hingga...

Aceh Hari Ini: Ulama Aceh Mengeluarkan Maklumat Perang Sabil

Pada 15 Oktober 1945, ulama Aceh menggelar muzakarah  membahas upaya-upaya mengakhiri kekuasaan Jepang, dan...

Program TMMD Selesai, Walkot Bintang Resmikan Jalan Tembus Darussalam-Singkohor

  SUBULUSSALAM - Wali Kota Subulussalam, H. Affan Alfian Bintang, S.E meresmikan pemakaian jalan tembus...

Kasus Korupsi di Dinas Syari’at Islam Gayo Lues Dilimpahkan ke PN Tipikor Banda Aceh

BLANGKEJEREN - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Gayo Lues telah melimpahkan berkas perkara...

Begini Kondisi Terkini Wastafel Disdik Provinsi di SMA/SMK Aceh Utara dan Lhokseumawe

ACEH UTARA – Pengadaan ratusan wastafel dan sumur bor oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh...

Harga Kopi Gayo Naik Lagi, Ini Daftar Terbaru

BLANGKEJEREN - Harga gabah kopi gayo di Kabupaten Gayo Lues kembali mengalami lonjakan. Harga...

Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa: ‘Tugas Kejari Menegakkan Hukum, Bukan Bicara Untung-Rugi’

LHOKSEUMAWE – LSM Gerakan Transparansi dan Keadilan (GerTaK) kembali mempertanyakan perkembangan kasus dugaan korupsi...

Aceh Hari Ini: Show of Force Pejuang Aceh Melawan Jepang

Usai salat hajat dan salat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Residen Aceh Teuku Nyak...

UAS Resmikan Pesantren Darul Affani, Ziarah ke Oboh, Hadiri Peringatan Satu Dekade PMDR

SUBULUSSALAM - Ustadz Abdul Somad (UAS) meresmikan Pondok Pesantren Darul Affani Desa Harapan Baru,...

‘PLTU Lhoknga tak Beroperasi, PT SBA Berpotensi Rugikan Keuangan Negara 15 Miliar/Hari’

BANDA ACEH - Direktur Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, menemukan data baru terkait...

Kempo Tambah Medali Emas untuk Aceh

SENTANI – Perjuangan keras kenshi (atlet kempo) di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX...
Butuh CCTV, dapatkan di ACEH CCTV. ALAMAT: Jln Tgk Batee Timoh lr Peutua II, Gampong (Desa) Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh. Kode Pos 23114. TLP/WA : 0822.7700.0202 (MUSRIADI FAHMI). Taqiyya Cake and Bakery, Tersedia: Brownies, Bolu pandan, Bolpis, Bolu minyak, Bolu Sungkish, Ade, Donat, Serikaya, Raudhatul Jannah (082269952496), Perum Gratama Residence No 5 Mibo Lhoong Raya Banda Aceh. Kunjungi Showroom Honda Arista. Jl. Mr. Teuku Moh. Hasan No.100, Lamcot, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23242. Hubungi: No Tlp/WA : 082236870608 (Amirul Ikhsan). Kunjungi Usaha Cahaya Meurasa/ Kue Kacang Alamat: Perumahan Cinta Kasih, Gampong (Desa) Neuheun, Kec. Masjid Raya, Aceh Besar. Tersedia Kue Malinda/Kacang dan Nastar. Hubungi TLP/WA: 085277438393 (Nurjannah) - Bimbel Metuah, Almt: Jl. Seroja No. 5, Ie Masen Kayee Adang, Ulee Kareng, Banda Aceh. HP/WA: 0823 6363 2969 (Ola). Instagram: @bimbelmetuah @metuah_privat