Abdul Karim alias Dokarim, sastrawan Aceh pada masa kolonial, mengkritik kebijakan Gubernur Militer Belanda di Aceh Jenderal Van Der Heyden dalam hikayat Prang Kompeuni.
Dalam hikayat Prang Kompeuni tersebut Dokarim mengolok-ngolok siasat politik dan kegagalan Belanda di Aceh. Dokarim juga menggambarkan berbagai situasi politik dan peperangan yang terjadi di Aceh. Menariknya, Dokarim mengawali hikayat Prang Kompeuni dengan menggambarkan sebuah konspirasi elite di Belanda yang ingin menjajah Aceh.
Kemudian hikayat Prang Kompeuni karya Dokarim ini juga dibahas penulis Belanda HC Zentgraaf dalam buku Atjeh yang diterbitkan di Batavia oleh Koninklijke Drukkerij De Unie. Redaktur surat kabar Java Bode itu menerjemahkan tulisan Dokarim ke dalam bahasa Belanda. Salah satunya bagiannya seperti kutipan di bawah ini.
Baca Juga: Rakyat Aceh Menjarah Logistik Jepang
Nu brak een driejarig tijdperk van rust aan, waarin de eenoogige Generaal zijne veroveringen bevestigde. De Radja Moeda; Tuanku Moehammad, spande alle krachten in om de hoofdplaats en Oelee Lheue tot welvaart te bregen, en dit gelukte hem zoowel, dat de allerwegen gevluchte bevolking in niet te stuiten stroomen naar de hoofdplaats kwam en zich metdekafirs verbroederde.
Het was, als leefde men voortdurend in feesten; groot voordeel werd met den handel behaald, vergeefs trachtten onze krijgsoversten nog volk te vinden dat hen wilde volgen. Alles ging den eenoogigen Koning hulde brengen.
Toen de Eenoogige Generaal weg was, eindigde rust. De dappere strijder. Teuko Asam, nog zeer jong, vroeg in Pidie aan zijn veder, Teukoe Radja, die derwaarts was gevlucht, verlof om de Kompeuni te gaan bestoken; gaarne gaf deze hem den ouderlijken zegen op dat vrome wek.”
Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti di bawah ini.
Kini menjelma masa tenang yang berlangsung selama tiga tahun di mana jenderal bermata sebelah itu mengkonsolidasikan penaklukannya. Tuanku Raja Muda; Teuku Muhammad berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendatangkan kesejahteraan bagi ibu kota Ulee Lheu, dan usaha ini menampakkan hasilnya, di mana penduduk yang tadinya lari meninggalkan kota, kini kembali berbondong-bondong tidak bisa dibendung, ke ibu kota dan mereka hidup bersaudara dengan kafir-kafir itu. seakan-akan orang hidup dalam suasana pesta yang terus menerus.
Dalam perdagangan memberikan keuntungan-keuntungan yang besar, dan panglima-panglima perang kita sia-sia untuk mencari anak buah yang mau mengikutinya. Semua ini membawa penghargaan dan rasa hormat kepada jenderal bermata sebelah itu.
Ketika Jenderal bermata sebelah itu pergi, berakhirlah ketenangan itu. Teuku Asam pejuang muda yang pemberani dan masih muda itu, mohon izin dari ayahnya Teuku Raja Pidie, yang sementara itu sudah lari ke sana, untuk menyerang Kompeuni, dan ayahnya memberi restu terhadap usaha suci tersebut.
Baca Juga: AJI Minta Presiden Cegah Penyingkiran 57 Pegawai KPK
Versi Asli Hikayat Prang Kompeuni
Versi aslinya berbahasa Aceh yang ditulis Dokarim dalam Hikayat Prang Kompeuni tentang kekacauan persiapan Belanda untuk menyerang Aceh dengan ribuan bala tentaranya. Imajinasinya jalan hingga ke Eropa ketika hikayat itu ditulis di Banda Aceh dalam keadaan huru-hara peperangan.
Setelah menceritakan persiapan Belanda untuk menyerang Aceh, selanjutnya Dokarim juga berkisah tentang persiapan Aceh menghadapi agresi Belanda. Dokarim menghidupkan tokoh utama dalam hikayat ini, seseorang bernama Abdul Risyad sebagai juru bicara kerajaan Aceh.
Tokoh Abdul Risyad digambarkan sebagai orang yang alim, seorang orator ulung, yang ditugaskan untuk berdakwah mengajak rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda. Tetang itu Dokarim menulis:
Bandum kasiap alat seunjata / Geupreh Holanda pajan troh datang / Abdul Risyad nyang peugah haba / Ayat neubaca fireuman Tuhan / Nyang keuh wahee po beuna neupike.
Fireuman Rabbi meunan meusabda / Sibeurangkasoe geujak prang sabi / Luduoe Tuhan bri balah syuruga / Dalam syuruga nekmat han sakri / Budiyadari geubri keu gata / Budidadari tadeungo long kheun / Na tamse buleuen limpah cuaca
Mitseu ceureumen kulet di badan / Soe-soe nyang pandang silala mata / Watee geutanyoe tamasok lam prang / Bandum gata nyan dalam syuruga / Rata bak jaroe dengan bee-beewan / Badum neupeutron dalam syuruga / Ureung nyang syahid dalam prang sabi / Budiyadari keunan troh teuka
Jitajo mandum meureungkhom-reungkhom / Hajeut takalon meutarek hila / Deungon pakaian bandum bak asoe / Han peu peureunoe aneuk syuruga.
Baca Juga: Pesan Mualem Pada Pelantikan KONI Gayo Lues
Selanjutnya pada 26 Maret 1873, Belanda memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh. Dan pada 6 April 1973 pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Jenderal Kohler mencoba mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Uleelheu, Banda Aceh. Perang pun meletus.
Dokarim dalam hikayat Prang Kompeuni menggambarkan gegap-gempita perang tersebut. Meski sempat masuk ke daratan Aceh hingga ke Masjid Raya Baiturahman, agresi pertama Belanda ke Aceh itu gagal total. Jenderal Kohler sendiri tewas ditembak pejuang Aceh di halaman masjid tersebut.
Pada bait-bait selanjutnya Do Karim juga menggambarkan berbagai peristiwa perang lainnya, setelah agresi kedua Belanda ke Aceh. Seperti peristiwa dalam masa Teungku Chik Di Tiro memegang tampuk pimpinan perjuang Aceh, bagaimana Panglima Abah salah seorang panglima perang Aceh meminta izin pada Teungku Chik Di Tiro untuk membawa pasukannya ke medan perang. Tapi sayangnya, naskah utuh dari hikayat ini kini sangat susah didapat.[]









Apa hikmah dari prang kompeni